Showing posts with label Sepotong Episode. Show all posts
Showing posts with label Sepotong Episode. Show all posts

Thursday, November 5, 2015

Hadiah=Hidayah




Hidayah hadir saat saya berteman dengan seorang wanita sederhana yang saya panggil 'mbak'.






Saya sedang merindukan sosoknya,
yang setelah kembali ke tanah kelahirannya di pulau Sumatera,
menggenap dan melahirkan seorang putra,
komunikasi kami tidak lagi se-intens dulu.
Jadi, ini dalam rangka dokumentasi masa titik balik dalam hidup saya,
sekaligus sebagai pengingat bagi diri bahwa hidayah itu mahal
dan istiqomah itu butuh perjuangan.

Ia teman sekelas saya ketika tingkat persiapan bersama (tahun pertama di IPB),
sekaligus tetangga kamar asrama.
Saya yang tidak mudah akrab dengan orang,
yang penuh waspada dan diselimuti penyakit kurang pede akut.
Juga saya yang sedikit terpengaruh dengan islamophobia dari media dan keluarga.
Penampilannya yang rapi dan bersahaja sempat membuat saya menjaga jarak.
Saya tidak ingin dipengaruhi. Dicuci otaknya. Dan disesatkan agamanya.
Maka sebisa mungkin saya ciptakan pertahanan.

Belum apa-apa, saya sudah mendeklarasikan diri tak mau berjilbab panjang dan
beragama biasa-biasa saja.
Maka ketika ada wanita-wanita setipe dengan 'mbak', saya menghindar.
Di kolom-kolom absensi acara kampus dimana berkeliaran 'teman-teman' mbak,
saya mengosongkan no telp dan bagian no kamar asrama.
Ketika saya menceritakannya kepada mbak, dia hanya tersenyum.
Tidak menyalahkan. Tidak marah.
Mungkin itu yang membuat saya nyaman bersamanya.
Dan padanya juga saya tidak tega ber gue-elo,
agak sulit awalnya tapi lama-lama aku-kamu menjadi biasa di lidah sampai sekarang. 
(dan ini bisa jadi cerita tersendiri, bagaimana saya latihan membiasakan diri ber aku-kamu dengan seorang teman)

Sering menghabiskan waktu dengannya, membuat saya tahu aktivitasnya.
Sepekan sekali ia ikut pengajian,
yang katanya hanya berisi beberapa orang dipandu dengan seorang guru.
Ia tidak mengajak saya untuk ikut. Tapi saya sudah menekankan padanya,
kalau saya tidak mau ikut pengajian seperti itu.
Lagi, ia hanya tersenyum. Dan sama sekali tidak mempengaruhi untuk ikut.
Suatu kali saya bertanya,
"Kenapa mbak selalu pakai rok? Di Al Qur'an hanya ada penjelasan menjulurkan jilbab ke dada,
tapi tidak ada perintah wajib mengenakan rok."
Saya ingat, saat itu kami sedang di kamar asrama, tepatnya di kamar 212.
Dan ia tengah bersiap untuk pergi menghadiri acara
yang mungkin khusus untuk orang-orang seperti mbak --karena dia gak ngajak saya, hehe. 

"Karena setahu saya, kita dilarang menyerupai laki-laki." jawabnya santai.
Saya diam sambil memeluk guling.
Saya sudah sering dengar kalimat itu saat mengaji di waktu kecil dulu.
Tapi kali ini, ada yang mengusik di hati.

 ***
Malam itu, kami duduk di lorong asrama.
Sudah larut, sebagian besar penghuni asrama sudah tidur. 
Akan berbeda suasananya ketika itu pekan ujian, bisa dipastikan asrama masih ramai sampai larut malam.
Kami mulai bertukar cerita tentang sekolah asal, kota kelahiran, kondisi keluarga.
Dan entah bagaimana, sampai kami tiba-tiba membahas ashabul kahfi, pemuda-pemuda dalam gua.
Di usia saya yang bukan anak kecil lagi saat itu,
saya baru mendengar kisah itu untuk pertama kalinya.
Saya suka baca; cerita putri kerajaan, fabel, kisah rasululloh dari lahir sampai wafat,
kisah 25 nabi, masih sangat lekat di kepala saya.
Tapi cerita yang baru saja diceritakan oleh mbak, membuat saya tampak bodoh.
Saya terkesima, lebih lagi ketika tahu bahwa itu kisah nyata.
Bukan rekaan seperti kisah cinderella dan snow white.
"Itu ada di Al Qur'an, des..."
Jleb!
Saya terlahir di keluarga muslim, hingga saat itu masih muslim..
Dan saya tidak tahu kalau di Al Qur'an yang dipelajari sejak kecil, ada kisah sedemikian dahsyat.
Saya malu. Mau nangis saat itu juga tapi gengsi.
Kesokan harinya saya bertekad untuk membeli sebuah Al Qur'an terjemahan
dan kelak membacanya hingga tamat (khatam).
Ahh.. bahkan saat itu tersadar; belum pernah sekalipun saya mengkhatamkan Al Qur'an.
Dengan terbata, saya biasakan lagi mengeja ayat-Nya.

***
"Des, kalo kamu dapet hadiah rok. Kamu mau pake gak?"
tanyanya di satu waktu. Ia tahu betul tak ada jenis pakaian itu di lemari.
Terakhir saya punya rok, ya rok abu-abu. :D
"Hmm... ya namanya dikasih, harus dipakelah..."
Dan di pagi itu, 17 Desember 2007 saya menemukan sebuah bungkusan berisi rok jeans di depan pintu kamar.
Hadiah ulang tahun darinya.
Dan karena alasan janji yang sudah terucap, keharuan yang menyeruak.
Untuk pertama kalinya, saya mengenakan rok di kampus.
Rekan-rekan yang lain menahan senyum dan bertanya-tanya.
Terlebih melihat bagaimana cara saya berjalan.
Bahkan ada yang mengancam, "Des kalo lo ikut2an kayak si mbak, gw gak mau ah main sama lo lagi."
 --alhamdulillah, ancamannya hanya dibibir saja ^^v

  ***
Kami sedang menunggu ruang kuliah di Fakultas Pertanian,
ketika terdengar kasak-kusuk teman sekelas mendiskusikan sesuatu.
"Lo tau kan des, kalo anak kelas A (matrikulasi) ada pelajaran agama, itu ada praktikumnya gitu.
Isinya pengajian gitu, baca Al Qur'an sama artinya, ada materi-materinya, sama curhat-curhatan.
Semester depan kan kita dapet tuh. Rencananya kita mau mulai sekarang aja, sama SR. Lo mau ikut gak?"
"Sama siapa aja?"
Rekan saya itu menyebutkan nama-nama teman seasrama.
Semua nama itu setipe dengan saya; yang akrab dengan celana jeans dan jilbab pendek.
Entah apa yang membuat saya saat itu mengangguk dengan cepat tanpa paksaan siapapun.
Dan perjalanan saya dengan mereka; para 'laskar bintang' dimulai...
dari lingkaran kecil di sebuah kamar asrama.
Hingga sampai di satu fase lingkaran kami harus melebar,
dan bertebaran di bumi Allah yang lain dengan segala dinamika pasca kampus.

Alhamdulillah...
Terima kasih, mbak.
*Mungkin si mbak pun baru pertama kali mendengar cerita ini :)

Dan di setiap pertemuan kita dengan seseorang, selalu terselip hikmah.
Allah selalu punya cara terbaik untuk mengembalikan kita ke jalur-Nya.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
(QS. Al Fatihah; 6-7)

Jakarta, 5 November 2015 

Sunday, October 25, 2015

Berawal dari senyum

Sore itu, seperti biasa saya bergegas pulang tepat waktu untuk bersegera menuju terminal grogol.
Pulang selalu membuat saya bersemangat.
Kopaja 88 mengantarkan saya sampai 'kolong' grogol, sisanya saya lanjutkan berjalan kaki. 
Biasanya aptb 05 sudah berbaris menunggu penumpang. 
Kali ini agak berbeda, terminal lenggang.
Sementara penumpang semakin menumpuk. 
Pukul 17.50, saya memasuki mushola terminal yang masih kosong, untuk menghindari antrian wudhu. 
Seusai berwudhu, seorang perempuan bermukena sudah duduk rapi di sebelah sajadah yang sebelumnya sudah saya gelar dan tandai dengan mushaf kecil berwarna coklat tua di atasnya. 
Kami bertukar senyum. Adzan berkumandang, saya meneguk teh manis yang sengaja saya bawa dari kantor untuk berbuka. Hari itu tanggal 10 Muharram, puasa sunnah asyura. 
Selesai sholat, saya sedikit berbasa-basi menanyakan arah pulangnya. -kebiasaan berbasa-basi ini saya dapat sejak bekerja di tempat saya sekarang, istilah kerennya customer intimacy :) untuk menggali kebutuhan nasabah, sehingga saya bisa tepat menawarkan produk yang cocok. Tapi kali ini saya berbasa-basi bukan untuk itu, entahlah semacam dorongan hati kalau semua orang suka disenyumi, disapa dengan ramah, maka saya selalu menerapkannya ketika situasi memungkinkan. 
Rupanya ia menuju pancoran dan berniat menggunakan jasa aptb 05 juga.
Kami terpisah ketika menunggu bis, lalu kembali bertemu dalam desakan antrian di depan pintu bis yang baru tiba. 
Ia bersama gadis bergamis hitam yang dipadukan jilbab panjang biru dongker, seseorang yang ia temui ketika memilih duduk di pelataran warung tadi. 
Kami saling bertukar senyum. 
"Pulang kemana, kak?" 
"Cibinong. Mbaknya?"
"Jagorawi."
"Oh, sama. Maksudnya di situ juga, tujuannya kemana?"
"Cileungsi, kak."
"Aku juga naik angkot itu, nanti bareng yaa."
Sempat-sempatnya kami bertukar informasi ditengah padatnya antrian.
Kami memilih duduk bersisian, berderet tiga, setelah sebelumnya minta bertukar dengan bapak-bapak. Mungkin sama-sama lelah, kami hanya sedikit bertukar obrolan. Saya sedikit ngemil qitela tempe mengganjal perut bada shaum. Lalu mereka tertidur, sementara saya memilih mendengarkan musik sambil memejamkan mata sepanjang perjalanan. 
Gadis itu pamit, karena satu shelter lagi menuju pancoran-saya menyesal tidak menanyakan namanya. 
Perjalanan masih panjang.
Pukul delapan lewat, kami tiba di pintu tol Citeureup lalu naik angkot yang sama. Di sana saya baru menanyakan namanya, bertukar obrolan tentang pekerjaan, asal sekolah, tempat tinggal hingga jadwal pulang. Kami rupanya teman ngobrol yang cocok.
Sadar kalau destinasi saya sebentar lagi, maka saya menanyakan pin bbmnya. Dan dari sana silaturahim kami berlanjut.
Alhamdulillah, hanya diawali dengan senyum dan saya mendapatkan teman baru. :)
Ah.. itulah kenapa senyum dikatakan sedekah termurah.
Ia bisa mengubah suasana hati seseorang. Mengubah atmosfer ketegangan. Mengubah kekakuan menjadi keakraban.

Senyumlah... bukan untuk orang lain, tapi untuk hatimu agar berbahagia. :)

Bogor, 25 Oktober 2015

Thursday, October 15, 2015

Rezeki itu bernama teman.




Lucu itu...
ketika teman-teman kantor heboh dapet prospekan baru.

Bukan terkait pembiayaan atau pendanaan.

Diluar itu mereka seperti memasang radar,
untuk menangkap 'customer' yang mungkin bisa diprospek
dengan prinsip sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.
Pagi itu tiba-tiba rekan saya telpon ke ext saya,
meminta untuk dikunjungi meja kerjanya sebentar saja.
Ia menyodorkan data akurat beserta foto dua pria single.
Menjabarkan secara ringkas kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Saya melongo, sementara kepala kantor saya senyum-senyum-
yang ternyata sudah kongkalikong.
Aiihhh.... antara pengen ngakak dan terharu.
Mereka yang sudah terlatih jualan produk perbankan,
menjadi agen biro jodoh dadakan.
Yah namanya juga dadakan,
masalah jodoh kan bukan cuma tentang BI checking nya bagus atau gak,
masuk daftar DHN dan Blacklist PPATK atau gak.
ketika ditanya status lebih lanjut mereka kelabakan-
apakah sudah punya pacar/punya calon istri/punya tunangan/lagi ta'arufan.-
Mereka rupanya butuh identifikasi lebih lanjut.
Dan pertanyaan urgent lainnya, menyontek kalimat dari seorang teman.
"Dia nya mau gak sama gue??" Hehe.
Bukan masalah kelak berhasil atau gak,
karena lebih sering cerita kayak gini berakhir dengan cekikikan.
Tapi, bentuk perhatian mereka itu...
bikin saya sekali lagi mensyukuri 'rezeki' berupa rekan-rekan kerja yang menyenangkan.
Jakarta, 9 Oktober 2015

Wednesday, September 9, 2015

Nunggu apa lagi sih?

“Nunggu apa lagi sih, Des?”

Seorang teman dari masa jeda yang begitu panjang, sepanjang masa penantian penggila AADC menunggu sekuel ke-2 yang baru akan dibuat setelah 14 tahun lamanya.
Ya, 14 tahun lalu sejak kelulusan sekolah dasar dan berpisah di jenjang-jenjang pendidikan selanjutnya. Kami belum dipertemukan lagi sampai kemarin saya tahu ia sudah memiliki jagoan berumur 2 tahun. Dari pertemuan virtual via media sosial, satu per satu sahabat-sahabat di masa imut-imut itu pun bermunculan. Salah satunya dia, teman sebangku saya di kala sekolah dasar.
Wajar saja ketika ia menanyakan itu. Karena saya merupakan salah satu dari segelintir teman sd yang masih mempertahankan predikat single, ketika yang lain sudah beranak pinak-hehe.
Dia bertanya apalagi yang membuat saya betah duduk di ruang tunggu?
Dengan masa sekolah sampai perguruan tinggi  yang sudah saya selesaikan bertahun lalu. Dengan pekerjaan tetap yang sudah saya geluti dua tahun lamanya. Dengan usia yang semakin hari semakin bertambah. Dan tenang, saudara sejomblo seperjuangan setanah air :)
Saya selalu punya jawaban yang mewakili perasaan kalian (tsaahhh) untuk pertanyaan seperti itu.
“Nunggu calonnya.” It’s simple. Karena saya gak mau ribet jawab panjang lebar via bbm. Kecuali yang bersangkutan minta saya jawab via blog :)
In my humble opinion, seseorang memilih menikah bukan karena sudah jadi sarjana, sudah jadi pegawai tetap, sudah penuh tabungannya, sudah cukup usianya, atau sudah banyak ditanya dimana-mana. Dan bukan karena sudah ada calonnya juga. Karena banyak yang sudah pacaran bertahun-tahun , gak nikah-nikah juga,see?
“Jangan cuma nunggu des, tapi dicari.”
Yup. Sepaket! Definisi menunggu di sini memang bukan berarti berpangku tangan. Tentu saja, saya, kami dan para kaum ‘jomblo mulia’ lainnya sepakat bahwa kami tidak boleh berhenti ikhtiar. Namun tentu saja, ikhtiar kami berbatas hal-hal prinsip yang diatur dalam syariat.
Dan dari seribu satu ikhtiar, kelak semua akan bermuara pada ketentuan-Nya.
Dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
(QS. Al An’aam (6): 59)
Saya hanya sedang menunggu ketentuan-Nya, darl….. :)
~special untuk yang sedang sama-sama menunggu, 080915

Tuesday, September 8, 2015

Energi yang menular

Betapa energi positif itu menular.

Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya, angkot berwarna merah menyala menjadi teman perjalanan saya ke kantor.
Angkot pertama dikendalikan oleh supir berperawakan kurus, yang terus memacu mobilnya berkejaran dengan angkot satu trayeknya. Rupaya mereka gagal memperhitungkan putaran roda mobil yang dibawanya sehingga harus bersisian berebut penumpang.
Angkot kedua, dikendalikan oleh seorang supir tambun berkepala plontos yang sejak saya masuk dan duduk bersenandung kecil. Berseloroh “Boleeeeh.” dengan semangat ketika penumpang minta berhenti di suatu tempat. Menyapa sesama supir angkot satu trayeknya yang kebetulan berpapasan di jalur masing-masing sambil tertawa-tawa.
Saya senyum-senyum sendiri dibalik masker kodok berwarna hijau yang saya kenakan.
Suatu kali, saya dengan seorang teman pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa keperluan.
Tiba di satu toko, sang pramuniaga menghampiri tanpa sepatah kata dan seulas senyum pun di bibirnya. Bahkan pertanyaan kecil saya tentang produk yang dijualnya pun tidak ditanggapinya. Ia masih berdiri mematung, sementara saya asyik memilah. Sambil dibisiki rekan saya,mungkin mbaknya habis bertengkar dengan suami di rumah. Saya mengangguk pelan, atau karena barang yang akan kami beli tidak seberapa harganya? –astaghfirullah, saya mulai berprasangka macam-macam sekaligus terbawa sebal dibuatnya.
Selesai memilih dan memutuskan (hidup memang selalu tentang ini- eh) saya menyerahkan uang untuk membayar sambil berseloroh “ Mbaknya capek banget yaaa?” dengan nada lembut dan dibuat semanis dan se-empati mungkin (uhuk). Wajah yang semula kusut itu perlahan mengurai dengan segaris senyum di wajahnya, lalu dengan malu-malu mengelak dari yang saya tuduhkan. “Habis kelihatannya capek banget (penghalusan dari kata bête banget-hehe) dari tadi wajahnya.” Ia menyerahkan kembalian dengan senyum yang makin melebar dan ucapan terimakasih.
Dan saya melenggang pergi dengan senyum kemenangan. Sementara rekan saya terus memberondong saya dengan pertanyaan, “Elo apain tadi mbak-mbaknya? Jadi senyum manis begituuu…
Jadi, percaya kan kalau energi positif itu menular? Begitupun dengan energi negative. Tinggal bagaimana kita memilih dan memutuskan. Energi mana yang ingin kita bagikan :) 
Semangat Pagi!
Jakarta, 080915
 

Monday, September 7, 2015

Tamu

Tidak semua yang mengetuk pintu itu hendak bertamu.
Kadang anak-anak yang sedang mencari ladang bermain untuk memacu adrenalin, iseng sekali mengetuk pintu rumah orang lalu tergesa berlari kencang. Khawatir ketauan, sembari terkikik senang berhasil mengerjai orang. 
Kadang seorang sales mencoba peruntungan dengan mengetuk pintu rumah yang dilewatinya. Barangkali dengan presentasi seadanya, sang tuan rumah terpikat untuk membeli barang jualannya.
Kadang seorang yang tak dikenal mengetuk pintu hanya untuk bertanya jalan. Atau sang kurir berniat mengantarkan barang pesanan.
Kadang pula ia tamu sungguhan. Seraya melemparkan salam, mengetuk perlahan. Dan mengembangkan senyuman ketika pintu berderit terbuka dengan seseorang yang menyambutnya seraya menjawab salam. 
Kadang tamu itu untukmu. Kadang ayahmu. Ibumu. Adikmu. Tak ada yang tahu, kecuali yang berkabar terlebih dahulu.
Lalu, kenapa kamu masih bertanya "mengapa ada pertemuan jika tidak disatukan?" 
Apakah kamu mengharapkan setiap yang mengetuk pintumu adalah untukmu? 
Kamu tahu jawabannya. 


~special for my beloved friends, 07092015

Tuesday, June 30, 2015

Sepotong episode, sebuah kesyukuran..

Tiba-tiba saya teringat ketika masa-masa awal on job training di kantor wilayah tempat saya bekerja. Mungkin saya sudah banyak bercerita bagaimana saya berjibaku mencari pekerjaan selepas merampungkan pendidikan di sebuah perguruan tinggi negeri. Dan itu fase yang cukup sulit untuk saya pribadi.
Butuh berbulan-bulan, dan hampir menggenap bilangan tahun hingga akhirnya saya diterima bekerja di tempat saya sekarang. Beberapa perusahaan baik kecil maupun besar, dari perusahaan pengolahan ikan, penerbitan buku, sampai perusahaan kosmetik ternama pernah saya sambangi. Hingga sempat saya mengajar di salah satu sekolah dasar sebagai guru honorer, yang hanya bertahan selama 4 bulan. Saya jadi berpikir, betapa baiknya bapak kepala sekolah mau melepaskan saya yang baru bekerja seumur jagung. Atau sebaliknya? Melepaskan saya merupakan keberuntungan untuk sekolah tersebut? Haha.
Ok. Kembali ke point awal alasan saya menulis kali ini. Tentang sebuah menori yang amat berkesan dan memotivasi untuk saya.
Pekerjaan ini sebenarnya tidak pernah terlintas di benak saya sedikitpun. Saya yang berkepribadian cuek anarkis diharuskan berwajah manis dan ramah serta sedikit peduli pada penampilan. Entah bagaimana (yang pasti ini ketentuanNya) setelah melewati proses panjang recruitmen yang lamanya setara dengan pengalaman mengajar saya di SDIT sebelumnya, 4 bulan. Saya diterima. Lahawlawalla quwwata illa billah...
Sehari setelah tanda tangan kontrak, saya diwajibkan OJT selama 10 hari. Alhamdulillah saya dipertemukan dengan senior yang satu "prinsip" dengan saya. Di sini saya merasa Allah begitu menjaga saya.
Saya ingat betul kata-katanya ketika saya mulai melontarkan ketakutan saya akan beberapa hal,
"Kamu tenang saja, jilbab kamu aman. Jadi tetaplah seperti itu. Tidak ada peraturan yang melarang jilbab panjang." Ujarnya menenangkan. Alhamdulillah...
Dan rasanya banyak sekali bantuan yang Allah berikan lewat beliau.
Di satu moment, saya harus melewati tahap training selanjutnya di kantor yang berbeda selama tiga hari. Kali ini ada semacam latihan, mulai dari body language dll. Tiba saat sesi latihan memberi salam, cukup panjang namun ada kalimat 'pertolongan Allah' lagi yang saya simpan rapat.
"Kadangkala customer mengajak kita untuk berjabat tangan. Untuk yang tidak berkenan bersentuhan dengan lawan jenis, cukup sedikit tundukkan kepala sembari menangkupkan tangan di dada."
Setidaknya prinsip yg saya pertahankan tidak masuk dalam daftar pembangkangan peraturan perusahaan. Meski yg terpenting adalah tetap peraturan Nya. :)
Satu lagi yang saya syukuri berada di sini adalah kebebasan memilih rok atau celana sebagai seragam kerja.
Poin-poin kecil ini, membuat saya semakin faham bahwa rencana Allah begitu indah.


Jakarta, 30 Juni 2015

Saturday, June 6, 2015

#ExploreJogja

Yaaaak akhirnyaaah...
Saya kembali menjejakkan kaki di jogjakarta dengan rasa berbeda. Jika perjalanan pertama dan kedua berkaitan dengan agenda sekolah. Kali ini pure liburan :')
Sebagai putri sunda yang lahir di tanah banten coret dan besar di tanah bogor coret, pengalaman berkunjung ke tanah jawa (selain jawa barat) itu berkesan bangeeet.
Ditambah.. ssstt jangan disebar yak, ini perjalan pertama saya naik kereta ekonomi non jabodetabek. Hihi... jadi jangan kaget kalo saya agak2 norak :D
Aaarggh ketagihan pokoknya... jadi mungkin begini ya rasa mudik naik kereta berjam-jam?
Saya berangkat dari stasiun pasar senen pukul 22.30 menggunakan kereta ekonomi progo tanggal 30 mei 2015. Dan pulang dengan kereta yang sama tanggal 2 juni 2015 pukul 14.22.
Kali ini posting dokumentasi aja dulu yaa... kisah2nya diskip dlu.. hehe

@ asrama ratnaningsih ugm #haripertama setelah keliling sunday morningnya ugm
Borobudur temple #harikedua dan ini ketiga kalinya kesinih :) dan alhamdulillahnya kali ini jurus nangkis pedagang di pasar ulernya sudah cukup canggih. Wkwkw

Diambil dari dalam kereta progo di stasiun kroya dalam perjalanan pulang.... 

Bye.. bye.. jogja :')





Wednesday, May 27, 2015

Hidup Normal?

Tetiba muncul pertanyaan lagi, setelah seseorang bertanya kepada saya "Tidak bisakah saya menjalani kehidupan yang normal-normal saja?"
Saya terusik, mempertanyakan bagaimanakah kehidupan normal itu?
Mungkinkah maksudnya, kehidupan yang berjalan sesuai ritmenya. Sekolah di saat yang lain sekolah. Kuliah di saat yang lain kuliah. Bekerja di saat yang lain bekerja. Menikah di saat yang lain menikah. Melahirkan di saat yang lain melahirkan. Kemudian mati di saat yang lain mati?
Hidup normal? Apakah itu artinya hidup tanpa ujian?
Nyatanya setiap orang yang kita lihat menjalani hidup normal a.k.a baik-baik saja tidak semata-mata seperti yang terlihat kan?
Jadi adakah hidup normal itu?
Hmm...


Semoga kita bisa melewati ujian kita masing-masing dengan hasil terbaik.

DiBawahLangit Jakarta, 27 Mei 2015

Sunday, October 27, 2013

Trainee~Holidays~Have Fun :)


BSM Banking Staff Program Angkatan 65
16-26 Oktober 2013 @ Learning Centre Universitas Al Azhar Jakarta

I will be miss you guys... :)

Sunday, October 13, 2013

Putaran Roda-180Derajat



Dulu, seringkali saya bertanya pada diri sendiri "Kenapa harus saya yang mengalami kejadian ini? Kenapa bukan dia, bukan mereka, atau bukan kamu?" "Kenapa takdir serumit ini?" "Kenapa? Kenapa dan kenapa?"

Hingga sebuah taujih menampar saya telak, bahwa kata "kenapa" bukanlah sebuah pertanyaan melainkan sebuah gugatan. Dan pantaskah kita, saya menggugat Allah? Astaghfirullah... hingga saya berhenti pada sebuah kesadaran dan keyakinan, bahwa setiap peristiwa memiliki hikmah. Meski entah kapan kita baru bisa mengetahuinya. Bahwa rencana Allah selalu indah.

~~~

Saya ingat, malam itu saya menangis sesungukkan. Saya, seorang perempuan yang pantang mengeluarkan air mata di depan orang lain, benar-benar banjir air mata. Ini sudah klimaks. Akumulasi dari rasa kesal, marah, sedih. Pertemuan malam itu juga merupakan klimaks. Akibat pesan singkat yang saya kirim, pernyataan bahwa saya memilih mundur.

Pertemuan malam itu merupakan mediasi antara saya dan partner kerja saya di sebuah organisasi kampus. -Yang saya baru ketahui setelahnya, bahwa partner kerja saya itu juga mengirimkan pesan yang sama, menyatakan mundur.- Saat itu saya merasa benar-benar berada pada posisi tersulit. Terhimpit. Seakan tidak ada masalah yang lebih besar dari masalah saya.

Saya menumpahkan semua keluhan saya, dan dia hanya diam. Saya merasa puas dan lega. Sekaligus merasa heran dengan diamnya rekan kerja saya. Kadang sikap datarnya itu membuat saya bete gak karuan. Karena saya merasa justru dikacangin, merasa kalau apa yang saya katakan hanya angin lalu. Hingga akhirnya mediasi itu hanya menjadi ajang curhat saya. Esoknya kami masih dinaungi organisasi yang sama. Melakukan pekerjaan bersama. Seolah tidak terjadi apa-apa.

~~~

Hari ini, saya mendengarkan dengan seksama keluhan rekan kerja saya di kantor, sebut saja A. Setelah beberapa hari saya melihat ia marah-marah tak karuan ke sesama rekan kerja lain di kantor, sebut saja B. Bisa dikatakan sebenarnya B ini atasannya, atasan saya juga, hehe. A mengeluhkan sikap santai B, sikap tenangnya yang kadang dianggapnya sebagai tindakan kurang sigap. A juga mengeluhkan B yang hanya bisa mengerjakan satu pekerjaan di satu waktu, sehingga terkesan -maaf- lambat.

Saya lagi-lagi hanya memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama. Sekali-kali mengangguk, dan satu waktu tersenyum :)

Ya Allah... saya seperti melihat putaran video di hadapan saya. Kejadian masa lalu saya terekam dengan jelas. Saya melihat A adalah saya, dan B adalah rekan kerja saya. Hingga akhirnya saya membisiki diri sendiri, ternyata ini, ternyata ini jawaban atas hikmah yang saya cari bertahun lalu. Saat itu Allah Swt. tengah mempersiapkan saya untuk hari ini. Allahuakbar!

Dengan sebisa mungkin memberikan pencerahan yang tidak terkesan menggurui, saya mencoba membuka pola pikir A.

*Pertama saya jelaskan bagaimana psikologi laki-laki, salah satunya yaitu bahwa mayoritas kaum adam tidak bisa multi tasking. Wanita bisa menerima telpon + mengetik di kompt + berbicara dalam satu waktu. Sedangkan kebanyakan laki-laki tidak bisa melakukannya. Dan ini membuat kaum hawa merasa laki-laki begitu lambat dalam melakukan pekerjaannya. :D

*Kedua, saya ajak ia berandai-andai. Jika saja B tipe orang yang reaksioner menanggapi dengan serius protes2 maupun keluhan A, coba bayangkan apa yang terjadi? Akan terjadi perang dunia ketiga! Hehehe.

*Ketiga, coba bayangkan kalo B tipikal orang yang -kembali lagi- reaksioner. Saya bisa guling-guling di tanah setiap hari! Hahahaha. (Fyi, saya tipikal orang yang gampang sekali panik. Jadi bisa ditarik kesimpulannya sendiri kan?)

Akhir kata... jangan pernah menyesali hari ini, yakinlah suatu hari nanti kita akan mensyukuri hari ini.


                                                                                    diBawahLangitBogor_13 Oktober 2013


Wednesday, October 2, 2013

Kualat-180Derajat

Masih di dunia saya yang kebolak 180 derajat.
Jadi ceritanya gini, dulu zaman saya masih jadi mahasiswa (perasaan baru kemaren dah! :D) Saya punya temen, sebut saja namanya.... hmmm apa yak enaknya nyebut tu orang ^^v; Dipdul aja dah, wkwkw. *sambil berdoa khusyuk semoga dia kagak baca postingan ini, ato minimal mata-matanya gak berniat buat ngasih tau dia* :p
Si dipdul ini asli rempong abis, karakternya bertolak belakang banget sama saya. Mungkin karena cara berpikir, cara melihat suatu masalah, kebiasaan, plus karakter yang jungkir balik ini bikin kita jadi sering bersilang pendapat (bahasa halus dari berantem,haha). Dan isengnya lagi, saya juga gak bisa diem aja liat kerempongannya. Padahal bisa aja saya cuekin, tapi rasanya gatel aja pengen komentar. Hahaha. Asli saya baru nyadar kenapa sekurang-kerjaan itu, ckckck.
Salah satu yang paling saya komentarin adalah tentang kepiawaian dia menjaga penampilan. Sampe-sampe saya yang cewek merasa kalah telak! Pokoknya perawatan si dipdul komplit bin lengkap dah. Pokoknya dari produk A sampe Z. Jadi kalo kita-kita lagi ke luar kota, ada cara kondangan dimana gitu bawaan dia segambreng. Saya yang cuma punya senjata andalan 'bedak' doang cuma bisa melongo. Hahaha. Dipikir2 kacau juga ya saya, karena pake bedak aja kalo lagi inget. Dan keseringan lupanya :D
Udah ah flasbacknya :))
Inti dari postingan ini adalah, ketika detik ini saya melirik pouch berwarna ungu yang isinya macem-macem dan setiap hari harus saya bawa ke kantor. Benda-benda yang belakangan mulai mengakrabi keseharian saya, yang bahkan tidak pernah saya niatkan untuk mengenal mereka sebelumnya. Dan setiap mulai menyentuh benda-benda itu saya jadi teringat betapa bawelnya saya zaman dulu, betapa isengnya saya kala itu, betapa rese nya saya. Haha.
Oh iya satu lagi, si pecinta sendal jepit ini sekarang mulai sahabatan sama heels 5 cm. Hello itu pendek kali deeessst, haha tetep aja suatu keajaiban buat seorang desti :D

Be positive!!
                                                                                        diBawahLangit Jakarta, 2 Okt 2013



Tuesday, October 1, 2013

Dunia Positif-180Derajat



"Cintailah saudaramu sekadarnya, mungkin suatu masa ia akan menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi kekasih yang kau cintai." (HR Tirmidzi, Baihaqi, Thabrani, Daruquthni, Ibn Adi, Bukhari).


Sebenernya saya sedang tidak ingin membahas cinta-cintaan apalagi benci-bencian dalam tanda kutip yaa. Begini, kenapa saya kutip hadist di atas? Karena agak relevan dengan tema yang sedang ingin saya tulis kali ini. 

Well, sedikit flashback about 'saya' dengan segala pernak perniknya, hihi. Tahu kan kalo saya bukan tipikal cewek yang cewek banget? *maksudnye??* (yang saya kenal dengan baik saya pasti akan langsung ngangguk2 sepakat :p) Nah! Si cewek yang gak cewek banget ini tentu tidak akrab dengan pernak pernik yang kecewean, kayak make up, heels, dll. 

Bahkan si cowok-cowok yang katanya ngaku temen baek tega-teganya ngomongin saya di depan batang idung saya sendiri!! "Si desti bisa lembut gak ya?" "Nanti gimana nasib suaminya ya?" blablabla..... *ngetik sambil garuk-garuk tanah* Lah, justru itu bang! Saya mau berlemah lembut ke suami saya aja, emangnya ente siapa harus dilembut-lembutin :p

*Tarik napasssss* Fiuhh. Kembali ke topik :))

Jadinya yah... ini emang rencananya Allah Yang Maha Canggih. Siapalah yang menyangka saya justru diterjunkan ke dunia saya yang sekarang. Dunia layanan yang mengharuskan saya akrab dengan benda-benda ke-cewe-an. Memutar hidup saya 180 derajat. Dari desti yang cuek, moody, galak, 'tomboy', selengean, jadi 'harus' perhatian, murah senyum di setiap kondisi dan situasi, ramah, harus selalu tampil ceria seberantakan apapun isi hati, 'feminim', hati-hati, jaim, dan lalalaaaa. 

Subhanallah. Sebenarnya ada dua sisi untuk menanggapi perubahan jalan hidup yang saya alami. Positif dan negatif. Tapi, saya lebih memilih untuk menanggapi 'skenario' ini dengan positif, positif, dan positif. Dan semoga yang membaca postingan ini pun menangkap yang positif-positifnya aja :D 


Dan quotes hari ini adalahhhhh.... "Seseorang yang pernah terjatuh, akan lebih menikmati manisnya bangkit."

                                                                                      diBawahLangit Jakarta, 1 Okt 2013

Wednesday, August 28, 2013

7,24 juta* dikurang 1

Akhirnya, berkurang satu pengangguran di Indonesia :)

Jadi gak akan manyun lagi kalo ditanya "kerja dimana?", hehe. Juga membantu target pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran di Indonesia. ^^  Well, sebenernya saya tipe orang yang gak bisa banyak nulis ketika sedang berbunga-bunga. Beda kalo lagi melow, mendadak dramatis abis dan bisa nulis lancar jaya.

Intinya salah satu sejarah hidup baru saya dimulai tanggal 27 Agustus 2013, tepat saat tanda tangan offering letter di Kantor Wilayah II Bank Syariah Mandiri.

Bismillah... semoga bisa menunaikan amanah dengan baik dan penuh berkah. Amiiin.


*berdasarkan data BPS per Agusrus 2012

Sunday, July 21, 2013

Mas Agung & Mbak Lela

Ada yang nonton acara reality show "We Sing For You" di Net.TV jam 19.00 tadi??? Cung.. cung!

Saya juga baru pertama kali nonton, awalnya tertarik liat iklannya. Ada seorang "akhwat" bergaun pink di sebuah taman... hmmm... acara apakah yang menampilkan seorang akhwat selain acara talkshow, liputan LDK kampus, or sinetron religi (begitu batin saya, hehe ^^v)

Buat yang gak berkesempatan nonton, akan sedikit saya review..

Adalah Mas Agung, seorang suami yang ingin memberikan surprise kepada sang istri, Mbak Lela. Mereka sudah tujuh tahun berumah tangga dan dikaruniai 2 orang anak laki-laki. Biasa banget ya?

Tapi, menjadi luar biasa ketika saya tahu Mas Agung adalah seorang tuna rungu. Ia ingin mengekspresikan isi hatinya dengan lagu, tapi dia gak pernah bisa. Gak akan pernah bisa. Karena memang dia tidak bisa bernyanyi layaknya orang kebanyakan. Seumur hidupnya, ia tidak mengenal nada. Jangankan nada, mendengar suara terbata yang keluar dari bibirnya saja ia tidak mampu. Jadilah ia mengikuti acara ini.

Seperti acara reality show lainnya, acara dimulai dengan berbagai persiapan bagaimana konsep surpise nantinya. Ada satu scene dimana para konseptor acara mewawancarai Mas Agung, saya hanya akan menggaris bawahi pertanyaan seseorang diantaranya, yaitu :

"Tolong ceritain dong, Mas. Gimana saat-saat pacaran dengan Mbak Lela?"

Mas Agung menggeleng dan hanya mengucapkan satu kata, "Gak."

"Maksudnya saat Mas Agung jatuh cinta sama Mbak Lela, Mas langsung ketemu orang tuanya untuk melamar?"

"Iya. Kami bertemu. Saling cocok. Dan memutuskan menikah tanpa pacaran."

Wajah-wajah itu seketika terperangah, sangat maklum... karena mungkin hal ini sangat tabu bagi mereka. Kalau saya justru semakin tertarik untuk mengikuti acara ini jadinya.

Acara kejutan dimulai, Mbak Lela ditinggal di taman sendirian. Dan tiba-tiba sebuah intro lagi "Kau lah Segalanya" mengalun,

Mungkin hanya Tuhan yang tahu segalanya

Apa yang kuinginkan di saat-saat ini

Kau takkan percaya kau selalu di hati

Haruskah ku menangis tuk mengatakan yang sesungguhnya

Kaulah segalanya untukku

Kaulah curahan hati ini

Tak mungkin ku melupakanmu

Tiada lagi yang kuharap

Hanya kau seorang

diikuti penari-penari yang berdatangan secara bergantian memberikan bunga disepanjang jalan.

Sampai diujung jalan, Mas Agung sudah berdiri sambil memegang lembaran papan dengan tulisan-tulisan diatasnya. Tulisan yang saya ingat diantaranya,

"Terimakasih telah menjadi telinga dalam kehidupanku."

"Aku pun akan terus menjadi kompas dalam kehidupanmu."

Dingdong! Saya pun berkaca-kaca membacanya... :'(

Mereka pun berpelukaaaaaan (gak papa,, kan udah halal ^__^)

Di akhir, seorang crew nya bertanya lagi. Kali ini kepada Mbak Lela.

"Bagaimana awalnya sampai Mbak Lela dan Mas Agung ini akhirnya memutuskan untuk menikah?"

Mbak Lela dengan sisa-sisa air mata di pipinya menjawab, "Banyak yang bertanya kepada saya kenapa saya memilih dia. Saat itu saya balik bertanya, apakah kita bisa memilih dari rahim mana kita dilahirkan? Pertanyaan itu sama. Bagi saya, Mas Agung adalah jodoh yang diberikan oleh Allah untuk saya. Pun jika saat itu saya menolak Mas Agung, dan jika ia benar-benar jodoh saya, saya pasti tetap akan bersamanya. Itu takdir Allah. Dan saya percaya itu."

"Kami ini tidak pacaran Mbak, memang bagi sebagian orang ini merupakan hal yang berat. Apalagi Mas Agung punya keterbatasan dalam komunikasi. Sementara yang saya ketahui, langgengnya sebuah hubungan sangat tergantung dengan komunikasi. Hingga akhirnya saya bertanya pada guru ngaji saya. Ustadz, saya sedang ta'aruf dengan seorang pria tuna rungu. Bagaimana ustadz? Bagaimana saya bisa menjalani hubungan yang baik tanpa komunikasi yang baik pula?"

"Ia menjawab, komunikasi tidak terletak pada panca indera. Komunikasi yang baik terletak pada keikhlasan memberi dan menerima pasangan kita. Jawaban ustadz itulah yang membuat saya akhirnya mantap menerima pinangan Mas Agung."

#jlebjlebjleb

Saya pribadi belajar banyak sekali dari tayangan ini, so inspiring... tentang ilmu ikhlas, tentang cinta yang dilandaskan kepada Sang Pencipta, tentang penerimaan yang tulus...

Karena tidak semua orang bisa seperti Mbak Lela, dan tidak semua orang bisa seperti Mas Agung. Tentu, tidak semua pasangan seperti mereka.

Saya tidak akan memberikan kesimpulan apa-apa, hanya selantun doa.. semoga kita, terutama saya, bisa sedikit merenung, memetik ibroh, dari secuil kisah ini...

Dan.. satu lagi, bagi saya kisah mereka jauh lebih romantis dari Romeo dan Juliet yang melegenda itu.

Tuesday, July 9, 2013

Berpendar

"Mungkin dahulu kita ada dalam satu lingkaran cahaya, masing-masing dari kita berpendar membentuk konstelasi cahaya yang menakjubkan. Begitu terang. Menciptakan efek gemintang yang membuat sekitar menjadi bersinar-sinar. Namun, ketika tiba saatnya kita keluar memisahkan diri untuk melanjutkan hidup di negeri antah berantah yang tak pernah kita duga. Kita hanya mampu membawa satu pendar cahaya, milik kita sendiri. Yang hanya mampu menerangi selangkah demi selangkah kaki sendiri dalam kegelapan. Bahkan kita tidak bisa membagi sinar ini sampai ujung jalan sana, karena mungkin cahaya yang kita punya tak terlampau kuat. Tapi, bukankah bintang tetap indah meski hanya sendiri di tengah hamparan langit yang menghintam?"

*Tetiba, teman perjuangan di kampus dulu (udah selama itu ya? perasaan baru kemarin jadi mahasiswa baru ^^v) telpon. Obrolan ngalor ngidul kami itu berputar tentang kehidupan masa depan; entah itu karier, jodoh, negeri yang carut marut dari hari ke hari, Mesir yang sedang diuji, dakwah yang selalu penuh onak duri. Banyak hal. Sampe hal remeh temeh berujung, "Nanti kalau jadi ibu mau dipanggil apa sama anaknya, dest?" *gubraaakkkk!!!* Bahkan gue belum kepikiran dipanggil apa sama suami gue nanti! :D

Ada-ada aja kan?? Tapi, jd kepikiran. Justru yang mengada-ada itu yang kadang saya rindukan. Karena seseorang tidak harus punya alasan untuk merasakan sensasi bernama rindu. Seperti kali ini, tak ada hal spesial ataupun khusus dalam obrolan kami. Tapi, cukup membicarakan hal-hal remeh tadi, saya merasa ada. Dan saya merasakan dia pun ada.

Thursday, May 30, 2013

So, sorry...

Please do not apologize anymore, because it makes me even more guilty....

Tuesday, February 26, 2013

Nominator Seleksi Cerpenis

"Nominator Seleksi Cerpenis

Posted on January 25, 2013 by morningdew

Berikut ini daftar pelamar Festival Kumcer dan Kisah Jogja yang lolos seleksi:

Anggun Prameswari

Arumi Ekowati

Avioletta Zahra

Desti Astuti

Lidya Renny Chrisnawaty

Naminist Popy

Reni Erina

Richa Miskiya

Swistien

Veronica Gabriella

Hilal Ahmad*

Novella Putri Iriani*

Setiap cerpenis akan dihubungi dan dikirimi sinopsis untuk menuliskan kisah yang diminta oleh editor.

Catatan:

*Untuk projek kumcer berikutnya."

sumber: gradien

Alhamdulillah... beberapa hari yang lalu saya mendapatkan kejutan dari salah satu penerbit yang sedang mengadakan event kepenulisan cerpen. Semoga saya bisa menunaikan tugas ini dengan baik! :)

Tuesday, February 5, 2013

Perfect

Hampir sepekan tanpa kacamata, untuk seseorang yang masih memiliki mata normal mungkin sama sekali tak masalah. Tapi untuk, pengidap miopi seperti saya, ini sangat mengganggu. Ketika jarak penglihatan makin terbatas, dan kepala seringkali diserang rasa pening. Yup, kacama saya patah sehingga tidak bisa digunakan lagi. Lembiru menjadi alternatif yang terakhir dan harus segera dilakukan.

Lalu, beberapa hari setelahnya... hujan deras tanpa sengaja memandikan hape saya. Alhasil LCD-nya tak sebening dulu, meskipun sudah dikipas semalaman, dijemur di atas magic com, tetap saja tak kembali seperti semula. Belakangan saya tersadar kalau ia tak bisa lagi mengeluarkan bunyi ketika ada sms masuk ataupun panggilan masuk. Dan, hey iya juga tak bisa lagi memutar musik kegemaran saya.

Lalu, hari ini tetiba teman lama saya mengajak ngobrol via telpon, beberapa kali ia mengeluh suara yang putus-putus. Mungkin karena signal yang jelek. Beberapa kali telpon sengaja dimatikan karena tak bersuara katanya. Dan, setelah diselidiki, ternyata masalah ada di hape saya. Hmmmm...lembiru lagikah?

Awal bulan yang 'perfect'....

Tuesday, January 1, 2013

Epilog Awal Tahun

"... sejak bertemu denganmu, aku tidak lagi takut menjadi seorang pemimpi."

*and i really really hope, sometimes i want to tell that to someone,.

Labels