Showing posts with label Crispy Notes. Show all posts
Showing posts with label Crispy Notes. Show all posts

Thursday, November 5, 2015

Hadiah=Hidayah




Hidayah hadir saat saya berteman dengan seorang wanita sederhana yang saya panggil 'mbak'.






Saya sedang merindukan sosoknya,
yang setelah kembali ke tanah kelahirannya di pulau Sumatera,
menggenap dan melahirkan seorang putra,
komunikasi kami tidak lagi se-intens dulu.
Jadi, ini dalam rangka dokumentasi masa titik balik dalam hidup saya,
sekaligus sebagai pengingat bagi diri bahwa hidayah itu mahal
dan istiqomah itu butuh perjuangan.

Ia teman sekelas saya ketika tingkat persiapan bersama (tahun pertama di IPB),
sekaligus tetangga kamar asrama.
Saya yang tidak mudah akrab dengan orang,
yang penuh waspada dan diselimuti penyakit kurang pede akut.
Juga saya yang sedikit terpengaruh dengan islamophobia dari media dan keluarga.
Penampilannya yang rapi dan bersahaja sempat membuat saya menjaga jarak.
Saya tidak ingin dipengaruhi. Dicuci otaknya. Dan disesatkan agamanya.
Maka sebisa mungkin saya ciptakan pertahanan.

Belum apa-apa, saya sudah mendeklarasikan diri tak mau berjilbab panjang dan
beragama biasa-biasa saja.
Maka ketika ada wanita-wanita setipe dengan 'mbak', saya menghindar.
Di kolom-kolom absensi acara kampus dimana berkeliaran 'teman-teman' mbak,
saya mengosongkan no telp dan bagian no kamar asrama.
Ketika saya menceritakannya kepada mbak, dia hanya tersenyum.
Tidak menyalahkan. Tidak marah.
Mungkin itu yang membuat saya nyaman bersamanya.
Dan padanya juga saya tidak tega ber gue-elo,
agak sulit awalnya tapi lama-lama aku-kamu menjadi biasa di lidah sampai sekarang. 
(dan ini bisa jadi cerita tersendiri, bagaimana saya latihan membiasakan diri ber aku-kamu dengan seorang teman)

Sering menghabiskan waktu dengannya, membuat saya tahu aktivitasnya.
Sepekan sekali ia ikut pengajian,
yang katanya hanya berisi beberapa orang dipandu dengan seorang guru.
Ia tidak mengajak saya untuk ikut. Tapi saya sudah menekankan padanya,
kalau saya tidak mau ikut pengajian seperti itu.
Lagi, ia hanya tersenyum. Dan sama sekali tidak mempengaruhi untuk ikut.
Suatu kali saya bertanya,
"Kenapa mbak selalu pakai rok? Di Al Qur'an hanya ada penjelasan menjulurkan jilbab ke dada,
tapi tidak ada perintah wajib mengenakan rok."
Saya ingat, saat itu kami sedang di kamar asrama, tepatnya di kamar 212.
Dan ia tengah bersiap untuk pergi menghadiri acara
yang mungkin khusus untuk orang-orang seperti mbak --karena dia gak ngajak saya, hehe. 

"Karena setahu saya, kita dilarang menyerupai laki-laki." jawabnya santai.
Saya diam sambil memeluk guling.
Saya sudah sering dengar kalimat itu saat mengaji di waktu kecil dulu.
Tapi kali ini, ada yang mengusik di hati.

 ***
Malam itu, kami duduk di lorong asrama.
Sudah larut, sebagian besar penghuni asrama sudah tidur. 
Akan berbeda suasananya ketika itu pekan ujian, bisa dipastikan asrama masih ramai sampai larut malam.
Kami mulai bertukar cerita tentang sekolah asal, kota kelahiran, kondisi keluarga.
Dan entah bagaimana, sampai kami tiba-tiba membahas ashabul kahfi, pemuda-pemuda dalam gua.
Di usia saya yang bukan anak kecil lagi saat itu,
saya baru mendengar kisah itu untuk pertama kalinya.
Saya suka baca; cerita putri kerajaan, fabel, kisah rasululloh dari lahir sampai wafat,
kisah 25 nabi, masih sangat lekat di kepala saya.
Tapi cerita yang baru saja diceritakan oleh mbak, membuat saya tampak bodoh.
Saya terkesima, lebih lagi ketika tahu bahwa itu kisah nyata.
Bukan rekaan seperti kisah cinderella dan snow white.
"Itu ada di Al Qur'an, des..."
Jleb!
Saya terlahir di keluarga muslim, hingga saat itu masih muslim..
Dan saya tidak tahu kalau di Al Qur'an yang dipelajari sejak kecil, ada kisah sedemikian dahsyat.
Saya malu. Mau nangis saat itu juga tapi gengsi.
Kesokan harinya saya bertekad untuk membeli sebuah Al Qur'an terjemahan
dan kelak membacanya hingga tamat (khatam).
Ahh.. bahkan saat itu tersadar; belum pernah sekalipun saya mengkhatamkan Al Qur'an.
Dengan terbata, saya biasakan lagi mengeja ayat-Nya.

***
"Des, kalo kamu dapet hadiah rok. Kamu mau pake gak?"
tanyanya di satu waktu. Ia tahu betul tak ada jenis pakaian itu di lemari.
Terakhir saya punya rok, ya rok abu-abu. :D
"Hmm... ya namanya dikasih, harus dipakelah..."
Dan di pagi itu, 17 Desember 2007 saya menemukan sebuah bungkusan berisi rok jeans di depan pintu kamar.
Hadiah ulang tahun darinya.
Dan karena alasan janji yang sudah terucap, keharuan yang menyeruak.
Untuk pertama kalinya, saya mengenakan rok di kampus.
Rekan-rekan yang lain menahan senyum dan bertanya-tanya.
Terlebih melihat bagaimana cara saya berjalan.
Bahkan ada yang mengancam, "Des kalo lo ikut2an kayak si mbak, gw gak mau ah main sama lo lagi."
 --alhamdulillah, ancamannya hanya dibibir saja ^^v

  ***
Kami sedang menunggu ruang kuliah di Fakultas Pertanian,
ketika terdengar kasak-kusuk teman sekelas mendiskusikan sesuatu.
"Lo tau kan des, kalo anak kelas A (matrikulasi) ada pelajaran agama, itu ada praktikumnya gitu.
Isinya pengajian gitu, baca Al Qur'an sama artinya, ada materi-materinya, sama curhat-curhatan.
Semester depan kan kita dapet tuh. Rencananya kita mau mulai sekarang aja, sama SR. Lo mau ikut gak?"
"Sama siapa aja?"
Rekan saya itu menyebutkan nama-nama teman seasrama.
Semua nama itu setipe dengan saya; yang akrab dengan celana jeans dan jilbab pendek.
Entah apa yang membuat saya saat itu mengangguk dengan cepat tanpa paksaan siapapun.
Dan perjalanan saya dengan mereka; para 'laskar bintang' dimulai...
dari lingkaran kecil di sebuah kamar asrama.
Hingga sampai di satu fase lingkaran kami harus melebar,
dan bertebaran di bumi Allah yang lain dengan segala dinamika pasca kampus.

Alhamdulillah...
Terima kasih, mbak.
*Mungkin si mbak pun baru pertama kali mendengar cerita ini :)

Dan di setiap pertemuan kita dengan seseorang, selalu terselip hikmah.
Allah selalu punya cara terbaik untuk mengembalikan kita ke jalur-Nya.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
(QS. Al Fatihah; 6-7)

Jakarta, 5 November 2015 

Sunday, October 25, 2015

Berawal dari senyum

Sore itu, seperti biasa saya bergegas pulang tepat waktu untuk bersegera menuju terminal grogol.
Pulang selalu membuat saya bersemangat.
Kopaja 88 mengantarkan saya sampai 'kolong' grogol, sisanya saya lanjutkan berjalan kaki. 
Biasanya aptb 05 sudah berbaris menunggu penumpang. 
Kali ini agak berbeda, terminal lenggang.
Sementara penumpang semakin menumpuk. 
Pukul 17.50, saya memasuki mushola terminal yang masih kosong, untuk menghindari antrian wudhu. 
Seusai berwudhu, seorang perempuan bermukena sudah duduk rapi di sebelah sajadah yang sebelumnya sudah saya gelar dan tandai dengan mushaf kecil berwarna coklat tua di atasnya. 
Kami bertukar senyum. Adzan berkumandang, saya meneguk teh manis yang sengaja saya bawa dari kantor untuk berbuka. Hari itu tanggal 10 Muharram, puasa sunnah asyura. 
Selesai sholat, saya sedikit berbasa-basi menanyakan arah pulangnya. -kebiasaan berbasa-basi ini saya dapat sejak bekerja di tempat saya sekarang, istilah kerennya customer intimacy :) untuk menggali kebutuhan nasabah, sehingga saya bisa tepat menawarkan produk yang cocok. Tapi kali ini saya berbasa-basi bukan untuk itu, entahlah semacam dorongan hati kalau semua orang suka disenyumi, disapa dengan ramah, maka saya selalu menerapkannya ketika situasi memungkinkan. 
Rupanya ia menuju pancoran dan berniat menggunakan jasa aptb 05 juga.
Kami terpisah ketika menunggu bis, lalu kembali bertemu dalam desakan antrian di depan pintu bis yang baru tiba. 
Ia bersama gadis bergamis hitam yang dipadukan jilbab panjang biru dongker, seseorang yang ia temui ketika memilih duduk di pelataran warung tadi. 
Kami saling bertukar senyum. 
"Pulang kemana, kak?" 
"Cibinong. Mbaknya?"
"Jagorawi."
"Oh, sama. Maksudnya di situ juga, tujuannya kemana?"
"Cileungsi, kak."
"Aku juga naik angkot itu, nanti bareng yaa."
Sempat-sempatnya kami bertukar informasi ditengah padatnya antrian.
Kami memilih duduk bersisian, berderet tiga, setelah sebelumnya minta bertukar dengan bapak-bapak. Mungkin sama-sama lelah, kami hanya sedikit bertukar obrolan. Saya sedikit ngemil qitela tempe mengganjal perut bada shaum. Lalu mereka tertidur, sementara saya memilih mendengarkan musik sambil memejamkan mata sepanjang perjalanan. 
Gadis itu pamit, karena satu shelter lagi menuju pancoran-saya menyesal tidak menanyakan namanya. 
Perjalanan masih panjang.
Pukul delapan lewat, kami tiba di pintu tol Citeureup lalu naik angkot yang sama. Di sana saya baru menanyakan namanya, bertukar obrolan tentang pekerjaan, asal sekolah, tempat tinggal hingga jadwal pulang. Kami rupanya teman ngobrol yang cocok.
Sadar kalau destinasi saya sebentar lagi, maka saya menanyakan pin bbmnya. Dan dari sana silaturahim kami berlanjut.
Alhamdulillah, hanya diawali dengan senyum dan saya mendapatkan teman baru. :)
Ah.. itulah kenapa senyum dikatakan sedekah termurah.
Ia bisa mengubah suasana hati seseorang. Mengubah atmosfer ketegangan. Mengubah kekakuan menjadi keakraban.

Senyumlah... bukan untuk orang lain, tapi untuk hatimu agar berbahagia. :)

Bogor, 25 Oktober 2015

Thursday, October 15, 2015

Rezeki itu bernama teman.




Lucu itu...
ketika teman-teman kantor heboh dapet prospekan baru.

Bukan terkait pembiayaan atau pendanaan.

Diluar itu mereka seperti memasang radar,
untuk menangkap 'customer' yang mungkin bisa diprospek
dengan prinsip sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.
Pagi itu tiba-tiba rekan saya telpon ke ext saya,
meminta untuk dikunjungi meja kerjanya sebentar saja.
Ia menyodorkan data akurat beserta foto dua pria single.
Menjabarkan secara ringkas kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Saya melongo, sementara kepala kantor saya senyum-senyum-
yang ternyata sudah kongkalikong.
Aiihhh.... antara pengen ngakak dan terharu.
Mereka yang sudah terlatih jualan produk perbankan,
menjadi agen biro jodoh dadakan.
Yah namanya juga dadakan,
masalah jodoh kan bukan cuma tentang BI checking nya bagus atau gak,
masuk daftar DHN dan Blacklist PPATK atau gak.
ketika ditanya status lebih lanjut mereka kelabakan-
apakah sudah punya pacar/punya calon istri/punya tunangan/lagi ta'arufan.-
Mereka rupanya butuh identifikasi lebih lanjut.
Dan pertanyaan urgent lainnya, menyontek kalimat dari seorang teman.
"Dia nya mau gak sama gue??" Hehe.
Bukan masalah kelak berhasil atau gak,
karena lebih sering cerita kayak gini berakhir dengan cekikikan.
Tapi, bentuk perhatian mereka itu...
bikin saya sekali lagi mensyukuri 'rezeki' berupa rekan-rekan kerja yang menyenangkan.
Jakarta, 9 Oktober 2015

Wednesday, September 9, 2015

Nunggu apa lagi sih?

“Nunggu apa lagi sih, Des?”

Seorang teman dari masa jeda yang begitu panjang, sepanjang masa penantian penggila AADC menunggu sekuel ke-2 yang baru akan dibuat setelah 14 tahun lamanya.
Ya, 14 tahun lalu sejak kelulusan sekolah dasar dan berpisah di jenjang-jenjang pendidikan selanjutnya. Kami belum dipertemukan lagi sampai kemarin saya tahu ia sudah memiliki jagoan berumur 2 tahun. Dari pertemuan virtual via media sosial, satu per satu sahabat-sahabat di masa imut-imut itu pun bermunculan. Salah satunya dia, teman sebangku saya di kala sekolah dasar.
Wajar saja ketika ia menanyakan itu. Karena saya merupakan salah satu dari segelintir teman sd yang masih mempertahankan predikat single, ketika yang lain sudah beranak pinak-hehe.
Dia bertanya apalagi yang membuat saya betah duduk di ruang tunggu?
Dengan masa sekolah sampai perguruan tinggi  yang sudah saya selesaikan bertahun lalu. Dengan pekerjaan tetap yang sudah saya geluti dua tahun lamanya. Dengan usia yang semakin hari semakin bertambah. Dan tenang, saudara sejomblo seperjuangan setanah air :)
Saya selalu punya jawaban yang mewakili perasaan kalian (tsaahhh) untuk pertanyaan seperti itu.
“Nunggu calonnya.” It’s simple. Karena saya gak mau ribet jawab panjang lebar via bbm. Kecuali yang bersangkutan minta saya jawab via blog :)
In my humble opinion, seseorang memilih menikah bukan karena sudah jadi sarjana, sudah jadi pegawai tetap, sudah penuh tabungannya, sudah cukup usianya, atau sudah banyak ditanya dimana-mana. Dan bukan karena sudah ada calonnya juga. Karena banyak yang sudah pacaran bertahun-tahun , gak nikah-nikah juga,see?
“Jangan cuma nunggu des, tapi dicari.”
Yup. Sepaket! Definisi menunggu di sini memang bukan berarti berpangku tangan. Tentu saja, saya, kami dan para kaum ‘jomblo mulia’ lainnya sepakat bahwa kami tidak boleh berhenti ikhtiar. Namun tentu saja, ikhtiar kami berbatas hal-hal prinsip yang diatur dalam syariat.
Dan dari seribu satu ikhtiar, kelak semua akan bermuara pada ketentuan-Nya.
Dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
(QS. Al An’aam (6): 59)
Saya hanya sedang menunggu ketentuan-Nya, darl….. :)
~special untuk yang sedang sama-sama menunggu, 080915

Tuesday, September 8, 2015

Energi yang menular

Betapa energi positif itu menular.

Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya, angkot berwarna merah menyala menjadi teman perjalanan saya ke kantor.
Angkot pertama dikendalikan oleh supir berperawakan kurus, yang terus memacu mobilnya berkejaran dengan angkot satu trayeknya. Rupaya mereka gagal memperhitungkan putaran roda mobil yang dibawanya sehingga harus bersisian berebut penumpang.
Angkot kedua, dikendalikan oleh seorang supir tambun berkepala plontos yang sejak saya masuk dan duduk bersenandung kecil. Berseloroh “Boleeeeh.” dengan semangat ketika penumpang minta berhenti di suatu tempat. Menyapa sesama supir angkot satu trayeknya yang kebetulan berpapasan di jalur masing-masing sambil tertawa-tawa.
Saya senyum-senyum sendiri dibalik masker kodok berwarna hijau yang saya kenakan.
Suatu kali, saya dengan seorang teman pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa keperluan.
Tiba di satu toko, sang pramuniaga menghampiri tanpa sepatah kata dan seulas senyum pun di bibirnya. Bahkan pertanyaan kecil saya tentang produk yang dijualnya pun tidak ditanggapinya. Ia masih berdiri mematung, sementara saya asyik memilah. Sambil dibisiki rekan saya,mungkin mbaknya habis bertengkar dengan suami di rumah. Saya mengangguk pelan, atau karena barang yang akan kami beli tidak seberapa harganya? –astaghfirullah, saya mulai berprasangka macam-macam sekaligus terbawa sebal dibuatnya.
Selesai memilih dan memutuskan (hidup memang selalu tentang ini- eh) saya menyerahkan uang untuk membayar sambil berseloroh “ Mbaknya capek banget yaaa?” dengan nada lembut dan dibuat semanis dan se-empati mungkin (uhuk). Wajah yang semula kusut itu perlahan mengurai dengan segaris senyum di wajahnya, lalu dengan malu-malu mengelak dari yang saya tuduhkan. “Habis kelihatannya capek banget (penghalusan dari kata bête banget-hehe) dari tadi wajahnya.” Ia menyerahkan kembalian dengan senyum yang makin melebar dan ucapan terimakasih.
Dan saya melenggang pergi dengan senyum kemenangan. Sementara rekan saya terus memberondong saya dengan pertanyaan, “Elo apain tadi mbak-mbaknya? Jadi senyum manis begituuu…
Jadi, percaya kan kalau energi positif itu menular? Begitupun dengan energi negative. Tinggal bagaimana kita memilih dan memutuskan. Energi mana yang ingin kita bagikan :) 
Semangat Pagi!
Jakarta, 080915
 

Thursday, July 23, 2015

Ikhtiar...?

"Dest, gimana kabarnya? Gimana ikhtiar walimahannya? Aku juga masih ikhtiar nii.."
Saya bergeming setelah membaca inbox facebook yang masuk beberapa hari yang lalu dari seorang rekan yang sedang menimba ilmu di negeri orang itu. 
Dari sekian macam pertanyaan "Kapan nikah?" (Ini yg paling gak kreatif menurut saya. Haha) ; "Kapan nyusul?" (Dikira lagi balap karung kali ah :p) "Kapan undangannya?" (Yang ini mungkin lebih visioner krn mau nyiapin kado barangkali. Wkwk) Yang ketika saya jawab secara diplomatis "Mohon doanya aja." Sambil mesem semanis mungkin, diikuti dengan pertanyaan menyudutkan dari si penanya "Tapi calonnya udah ada kan?" Seakan kalo saya jawab belum, dunia akan kiamat. 
Ok. Saya sebenarnya punya jawaban pamungkas dari tipe pertanyaan macam itu. "Udah. Udah ada. Semua orang kan udah punya jodohnya masing-masing. Jangankan saya, si A (nyebut nama bayi tetangga yang baru lahir) aja udah ada jodohnya. Cuma belom ketemu aja." Sambil nelen ludah. Pait. Haha.
Kembali ke pertanyaan rekan saya, "Gimana ikhtiarnya?" 
Butuh waktu untuk menjawab pertanyaannya. Sudah sejauh mana ikhtiar saya? Lalu mencoba menghitung dengan jemari. Ikhtiarkah semua itu? Atau justru bercampur dengan banyak kecerobohan?


Sunday, July 5, 2015

Maybe yesss? Maybe no.

Orang bilang saya melankolis. Dilihat dari tulisan-tulisan saya. Dilihat dari playlist music yang kerap saya dengarkan. Maybe yessss, maybe no.
Orang bilang saya plegmatis. Dilihat dari keengganan saya terlibat 'perang'. Memilih menjadi penengah atau diam. Maybe yessss, maybe no.
Orang bilang saya sanguinis. Bawaannya rame aja katanya. Berisik. Maybe yessss, maybe no.
Orang bilang saya korelis. Keras kepala katanya. Maybe yessss, maybe no.

Pengelompokan karakter ini kadang membuat kita terlalu cepat menilai seseorang. Padahal, dalam diri seseorang keempatnya ada.
Ada saatnya salah satunya mendominasi. Di saat lain, sisanya bisa bergantian mendominasi.
"Don't judge a book from the cover."



Jakarta, 5 Juli 2015

Tuesday, June 30, 2015

Sepotong episode, sebuah kesyukuran..

Tiba-tiba saya teringat ketika masa-masa awal on job training di kantor wilayah tempat saya bekerja. Mungkin saya sudah banyak bercerita bagaimana saya berjibaku mencari pekerjaan selepas merampungkan pendidikan di sebuah perguruan tinggi negeri. Dan itu fase yang cukup sulit untuk saya pribadi.
Butuh berbulan-bulan, dan hampir menggenap bilangan tahun hingga akhirnya saya diterima bekerja di tempat saya sekarang. Beberapa perusahaan baik kecil maupun besar, dari perusahaan pengolahan ikan, penerbitan buku, sampai perusahaan kosmetik ternama pernah saya sambangi. Hingga sempat saya mengajar di salah satu sekolah dasar sebagai guru honorer, yang hanya bertahan selama 4 bulan. Saya jadi berpikir, betapa baiknya bapak kepala sekolah mau melepaskan saya yang baru bekerja seumur jagung. Atau sebaliknya? Melepaskan saya merupakan keberuntungan untuk sekolah tersebut? Haha.
Ok. Kembali ke point awal alasan saya menulis kali ini. Tentang sebuah menori yang amat berkesan dan memotivasi untuk saya.
Pekerjaan ini sebenarnya tidak pernah terlintas di benak saya sedikitpun. Saya yang berkepribadian cuek anarkis diharuskan berwajah manis dan ramah serta sedikit peduli pada penampilan. Entah bagaimana (yang pasti ini ketentuanNya) setelah melewati proses panjang recruitmen yang lamanya setara dengan pengalaman mengajar saya di SDIT sebelumnya, 4 bulan. Saya diterima. Lahawlawalla quwwata illa billah...
Sehari setelah tanda tangan kontrak, saya diwajibkan OJT selama 10 hari. Alhamdulillah saya dipertemukan dengan senior yang satu "prinsip" dengan saya. Di sini saya merasa Allah begitu menjaga saya.
Saya ingat betul kata-katanya ketika saya mulai melontarkan ketakutan saya akan beberapa hal,
"Kamu tenang saja, jilbab kamu aman. Jadi tetaplah seperti itu. Tidak ada peraturan yang melarang jilbab panjang." Ujarnya menenangkan. Alhamdulillah...
Dan rasanya banyak sekali bantuan yang Allah berikan lewat beliau.
Di satu moment, saya harus melewati tahap training selanjutnya di kantor yang berbeda selama tiga hari. Kali ini ada semacam latihan, mulai dari body language dll. Tiba saat sesi latihan memberi salam, cukup panjang namun ada kalimat 'pertolongan Allah' lagi yang saya simpan rapat.
"Kadangkala customer mengajak kita untuk berjabat tangan. Untuk yang tidak berkenan bersentuhan dengan lawan jenis, cukup sedikit tundukkan kepala sembari menangkupkan tangan di dada."
Setidaknya prinsip yg saya pertahankan tidak masuk dalam daftar pembangkangan peraturan perusahaan. Meski yg terpenting adalah tetap peraturan Nya. :)
Satu lagi yang saya syukuri berada di sini adalah kebebasan memilih rok atau celana sebagai seragam kerja.
Poin-poin kecil ini, membuat saya semakin faham bahwa rencana Allah begitu indah.


Jakarta, 30 Juni 2015

Sunday, October 13, 2013

Putaran Roda-180Derajat



Dulu, seringkali saya bertanya pada diri sendiri "Kenapa harus saya yang mengalami kejadian ini? Kenapa bukan dia, bukan mereka, atau bukan kamu?" "Kenapa takdir serumit ini?" "Kenapa? Kenapa dan kenapa?"

Hingga sebuah taujih menampar saya telak, bahwa kata "kenapa" bukanlah sebuah pertanyaan melainkan sebuah gugatan. Dan pantaskah kita, saya menggugat Allah? Astaghfirullah... hingga saya berhenti pada sebuah kesadaran dan keyakinan, bahwa setiap peristiwa memiliki hikmah. Meski entah kapan kita baru bisa mengetahuinya. Bahwa rencana Allah selalu indah.

~~~

Saya ingat, malam itu saya menangis sesungukkan. Saya, seorang perempuan yang pantang mengeluarkan air mata di depan orang lain, benar-benar banjir air mata. Ini sudah klimaks. Akumulasi dari rasa kesal, marah, sedih. Pertemuan malam itu juga merupakan klimaks. Akibat pesan singkat yang saya kirim, pernyataan bahwa saya memilih mundur.

Pertemuan malam itu merupakan mediasi antara saya dan partner kerja saya di sebuah organisasi kampus. -Yang saya baru ketahui setelahnya, bahwa partner kerja saya itu juga mengirimkan pesan yang sama, menyatakan mundur.- Saat itu saya merasa benar-benar berada pada posisi tersulit. Terhimpit. Seakan tidak ada masalah yang lebih besar dari masalah saya.

Saya menumpahkan semua keluhan saya, dan dia hanya diam. Saya merasa puas dan lega. Sekaligus merasa heran dengan diamnya rekan kerja saya. Kadang sikap datarnya itu membuat saya bete gak karuan. Karena saya merasa justru dikacangin, merasa kalau apa yang saya katakan hanya angin lalu. Hingga akhirnya mediasi itu hanya menjadi ajang curhat saya. Esoknya kami masih dinaungi organisasi yang sama. Melakukan pekerjaan bersama. Seolah tidak terjadi apa-apa.

~~~

Hari ini, saya mendengarkan dengan seksama keluhan rekan kerja saya di kantor, sebut saja A. Setelah beberapa hari saya melihat ia marah-marah tak karuan ke sesama rekan kerja lain di kantor, sebut saja B. Bisa dikatakan sebenarnya B ini atasannya, atasan saya juga, hehe. A mengeluhkan sikap santai B, sikap tenangnya yang kadang dianggapnya sebagai tindakan kurang sigap. A juga mengeluhkan B yang hanya bisa mengerjakan satu pekerjaan di satu waktu, sehingga terkesan -maaf- lambat.

Saya lagi-lagi hanya memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama. Sekali-kali mengangguk, dan satu waktu tersenyum :)

Ya Allah... saya seperti melihat putaran video di hadapan saya. Kejadian masa lalu saya terekam dengan jelas. Saya melihat A adalah saya, dan B adalah rekan kerja saya. Hingga akhirnya saya membisiki diri sendiri, ternyata ini, ternyata ini jawaban atas hikmah yang saya cari bertahun lalu. Saat itu Allah Swt. tengah mempersiapkan saya untuk hari ini. Allahuakbar!

Dengan sebisa mungkin memberikan pencerahan yang tidak terkesan menggurui, saya mencoba membuka pola pikir A.

*Pertama saya jelaskan bagaimana psikologi laki-laki, salah satunya yaitu bahwa mayoritas kaum adam tidak bisa multi tasking. Wanita bisa menerima telpon + mengetik di kompt + berbicara dalam satu waktu. Sedangkan kebanyakan laki-laki tidak bisa melakukannya. Dan ini membuat kaum hawa merasa laki-laki begitu lambat dalam melakukan pekerjaannya. :D

*Kedua, saya ajak ia berandai-andai. Jika saja B tipe orang yang reaksioner menanggapi dengan serius protes2 maupun keluhan A, coba bayangkan apa yang terjadi? Akan terjadi perang dunia ketiga! Hehehe.

*Ketiga, coba bayangkan kalo B tipikal orang yang -kembali lagi- reaksioner. Saya bisa guling-guling di tanah setiap hari! Hahahaha. (Fyi, saya tipikal orang yang gampang sekali panik. Jadi bisa ditarik kesimpulannya sendiri kan?)

Akhir kata... jangan pernah menyesali hari ini, yakinlah suatu hari nanti kita akan mensyukuri hari ini.


                                                                                    diBawahLangitBogor_13 Oktober 2013


Tuesday, October 1, 2013

Dunia Positif-180Derajat



"Cintailah saudaramu sekadarnya, mungkin suatu masa ia akan menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi kekasih yang kau cintai." (HR Tirmidzi, Baihaqi, Thabrani, Daruquthni, Ibn Adi, Bukhari).


Sebenernya saya sedang tidak ingin membahas cinta-cintaan apalagi benci-bencian dalam tanda kutip yaa. Begini, kenapa saya kutip hadist di atas? Karena agak relevan dengan tema yang sedang ingin saya tulis kali ini. 

Well, sedikit flashback about 'saya' dengan segala pernak perniknya, hihi. Tahu kan kalo saya bukan tipikal cewek yang cewek banget? *maksudnye??* (yang saya kenal dengan baik saya pasti akan langsung ngangguk2 sepakat :p) Nah! Si cewek yang gak cewek banget ini tentu tidak akrab dengan pernak pernik yang kecewean, kayak make up, heels, dll. 

Bahkan si cowok-cowok yang katanya ngaku temen baek tega-teganya ngomongin saya di depan batang idung saya sendiri!! "Si desti bisa lembut gak ya?" "Nanti gimana nasib suaminya ya?" blablabla..... *ngetik sambil garuk-garuk tanah* Lah, justru itu bang! Saya mau berlemah lembut ke suami saya aja, emangnya ente siapa harus dilembut-lembutin :p

*Tarik napasssss* Fiuhh. Kembali ke topik :))

Jadinya yah... ini emang rencananya Allah Yang Maha Canggih. Siapalah yang menyangka saya justru diterjunkan ke dunia saya yang sekarang. Dunia layanan yang mengharuskan saya akrab dengan benda-benda ke-cewe-an. Memutar hidup saya 180 derajat. Dari desti yang cuek, moody, galak, 'tomboy', selengean, jadi 'harus' perhatian, murah senyum di setiap kondisi dan situasi, ramah, harus selalu tampil ceria seberantakan apapun isi hati, 'feminim', hati-hati, jaim, dan lalalaaaa. 

Subhanallah. Sebenarnya ada dua sisi untuk menanggapi perubahan jalan hidup yang saya alami. Positif dan negatif. Tapi, saya lebih memilih untuk menanggapi 'skenario' ini dengan positif, positif, dan positif. Dan semoga yang membaca postingan ini pun menangkap yang positif-positifnya aja :D 


Dan quotes hari ini adalahhhhh.... "Seseorang yang pernah terjatuh, akan lebih menikmati manisnya bangkit."

                                                                                      diBawahLangit Jakarta, 1 Okt 2013

Sunday, July 21, 2013

Mas Agung & Mbak Lela

Ada yang nonton acara reality show "We Sing For You" di Net.TV jam 19.00 tadi??? Cung.. cung!

Saya juga baru pertama kali nonton, awalnya tertarik liat iklannya. Ada seorang "akhwat" bergaun pink di sebuah taman... hmmm... acara apakah yang menampilkan seorang akhwat selain acara talkshow, liputan LDK kampus, or sinetron religi (begitu batin saya, hehe ^^v)

Buat yang gak berkesempatan nonton, akan sedikit saya review..

Adalah Mas Agung, seorang suami yang ingin memberikan surprise kepada sang istri, Mbak Lela. Mereka sudah tujuh tahun berumah tangga dan dikaruniai 2 orang anak laki-laki. Biasa banget ya?

Tapi, menjadi luar biasa ketika saya tahu Mas Agung adalah seorang tuna rungu. Ia ingin mengekspresikan isi hatinya dengan lagu, tapi dia gak pernah bisa. Gak akan pernah bisa. Karena memang dia tidak bisa bernyanyi layaknya orang kebanyakan. Seumur hidupnya, ia tidak mengenal nada. Jangankan nada, mendengar suara terbata yang keluar dari bibirnya saja ia tidak mampu. Jadilah ia mengikuti acara ini.

Seperti acara reality show lainnya, acara dimulai dengan berbagai persiapan bagaimana konsep surpise nantinya. Ada satu scene dimana para konseptor acara mewawancarai Mas Agung, saya hanya akan menggaris bawahi pertanyaan seseorang diantaranya, yaitu :

"Tolong ceritain dong, Mas. Gimana saat-saat pacaran dengan Mbak Lela?"

Mas Agung menggeleng dan hanya mengucapkan satu kata, "Gak."

"Maksudnya saat Mas Agung jatuh cinta sama Mbak Lela, Mas langsung ketemu orang tuanya untuk melamar?"

"Iya. Kami bertemu. Saling cocok. Dan memutuskan menikah tanpa pacaran."

Wajah-wajah itu seketika terperangah, sangat maklum... karena mungkin hal ini sangat tabu bagi mereka. Kalau saya justru semakin tertarik untuk mengikuti acara ini jadinya.

Acara kejutan dimulai, Mbak Lela ditinggal di taman sendirian. Dan tiba-tiba sebuah intro lagi "Kau lah Segalanya" mengalun,

Mungkin hanya Tuhan yang tahu segalanya

Apa yang kuinginkan di saat-saat ini

Kau takkan percaya kau selalu di hati

Haruskah ku menangis tuk mengatakan yang sesungguhnya

Kaulah segalanya untukku

Kaulah curahan hati ini

Tak mungkin ku melupakanmu

Tiada lagi yang kuharap

Hanya kau seorang

diikuti penari-penari yang berdatangan secara bergantian memberikan bunga disepanjang jalan.

Sampai diujung jalan, Mas Agung sudah berdiri sambil memegang lembaran papan dengan tulisan-tulisan diatasnya. Tulisan yang saya ingat diantaranya,

"Terimakasih telah menjadi telinga dalam kehidupanku."

"Aku pun akan terus menjadi kompas dalam kehidupanmu."

Dingdong! Saya pun berkaca-kaca membacanya... :'(

Mereka pun berpelukaaaaaan (gak papa,, kan udah halal ^__^)

Di akhir, seorang crew nya bertanya lagi. Kali ini kepada Mbak Lela.

"Bagaimana awalnya sampai Mbak Lela dan Mas Agung ini akhirnya memutuskan untuk menikah?"

Mbak Lela dengan sisa-sisa air mata di pipinya menjawab, "Banyak yang bertanya kepada saya kenapa saya memilih dia. Saat itu saya balik bertanya, apakah kita bisa memilih dari rahim mana kita dilahirkan? Pertanyaan itu sama. Bagi saya, Mas Agung adalah jodoh yang diberikan oleh Allah untuk saya. Pun jika saat itu saya menolak Mas Agung, dan jika ia benar-benar jodoh saya, saya pasti tetap akan bersamanya. Itu takdir Allah. Dan saya percaya itu."

"Kami ini tidak pacaran Mbak, memang bagi sebagian orang ini merupakan hal yang berat. Apalagi Mas Agung punya keterbatasan dalam komunikasi. Sementara yang saya ketahui, langgengnya sebuah hubungan sangat tergantung dengan komunikasi. Hingga akhirnya saya bertanya pada guru ngaji saya. Ustadz, saya sedang ta'aruf dengan seorang pria tuna rungu. Bagaimana ustadz? Bagaimana saya bisa menjalani hubungan yang baik tanpa komunikasi yang baik pula?"

"Ia menjawab, komunikasi tidak terletak pada panca indera. Komunikasi yang baik terletak pada keikhlasan memberi dan menerima pasangan kita. Jawaban ustadz itulah yang membuat saya akhirnya mantap menerima pinangan Mas Agung."

#jlebjlebjleb

Saya pribadi belajar banyak sekali dari tayangan ini, so inspiring... tentang ilmu ikhlas, tentang cinta yang dilandaskan kepada Sang Pencipta, tentang penerimaan yang tulus...

Karena tidak semua orang bisa seperti Mbak Lela, dan tidak semua orang bisa seperti Mas Agung. Tentu, tidak semua pasangan seperti mereka.

Saya tidak akan memberikan kesimpulan apa-apa, hanya selantun doa.. semoga kita, terutama saya, bisa sedikit merenung, memetik ibroh, dari secuil kisah ini...

Dan.. satu lagi, bagi saya kisah mereka jauh lebih romantis dari Romeo dan Juliet yang melegenda itu.

Friday, July 12, 2013

Quotes Of The Day

"Kita tidak pernah tahu bagaimana cara takdir bekerja.Bisa jadi kita harus melewati jalan berputar, berkelok, lurus, keriting, becek, kering, untuk sampai ke pulau impian. Tanpa kita tahu kalau ternyata pulau impian itu masih di tempat dimana kedua kaki kita berpijak."

Monday, February 25, 2013

AHER-DEMIZ 'Pemenang' yang Tak diharapkan?

Hiruk pikuk pesta demokrasi Jabar yang baru berlangsung kemarin tak seramai event serupa di DKI Jakarta. Jika saat kemenangan Jokowi Ahok, media mainstream seakan bersuka cita dengan menayangkan kemenangan pasangan tersebut hingga infotaiment yang notabene mengkhususkan diri menggelar berita selebrita pun tak mau ketinggalan. Berbeda dengan berita kemenangan Kang Aher-Demiz versi quick qount oleh berbagai lembaga survei. Media hanya menayangkan sekedarnya saja, tidak seperti euforia kemenangan Jokowi yang ramai diberitakan. Hal ini kemudian membuat saya bertanya-tanya.

Seusai data hasil quick qount masuk 100%, tampaklah calon mana yang meraup suara terbesar. Ternyata pasangan no.4 yang diusung oleh partai PKS, PPP, PKB, PBB dan Hanura-lah yang menempati urutan pertama disusul oleh pasangan no.5 dan no.3. Kantor Media Center Aher-Demiz dipenuhi riuh pendukungnya, bahkan beberapa pendukung pasangan ini melakukan sujud syukur. Di saat Kang Aher, begitu calon gubernur incumbent akrab disapa, melakukan press conference beberapa stasiun televisi melakukan siaran langsung. Tapi tidak semua stasiun televisi merasa perlu menayangkannya penuh, di salah satu televisi swasta misalnya, hanya ditampilkan cuplikan Kang Aher yang menyatakan kemenangannya berdasarkan quick qount. Selanjutnya dipotong dan diisi oleh komentar seorang pengamat yang belakangan sering muncul di televisi untuk mengomentari percaturan politik, terkhusus berita tentang PKS. Mungkin pengamat ini dianggap mumpuni, tahu seluk beluk partai Aher berasal karena buku yang ditulisnya tentang partai tersebut.

Salah satu kalimat komentar BM berbunyi,"Seharusnya Aher menyadari kalau kemenangan ini bukanlah miliknya, namun milik warga Jawa Barat. Jadi janganlah terlalu berlebihan dalam menanggapi kemenangan ini." kurang lebih redaksinya seperti itu. Jika ada yang salah, penulis mohon maaf sebesar-besarnya. Sementara tepat setelah komentarnya itu keluar, di salah satu channel lain tampak seorang reporter mengulang pernyataan Aher di press conference "...Aher menyatakan kalau ini kemenangan warga Jawa Barat...". Ajaib! Apakah Aher mendengar komentar BM disaat bersamaan ia sedang berada di hadapan khalayak wartawan dan pendukungnya di Media Center Kancing Beureum? Sehingga ia merasa perlu mengatakan itu? Atau... karena kesadaran itu berasal dari lubuk hatinya? Silahkan disimpulkan sendiri.

Selepas magribh, pemberitaan kesuksesan pasangan no.4 ini hilang entah kemana. Tak ada satu pun stasiun tv yang mengabarkan perkembangannya. Tapi,berbeda di jagad dunia maya, pendukung Aher banyak mengungkapkan kegembiraan atas kemenangan jagoannya. Dan tiba-tiba sebuah berita heboh di timeline twitter. Tentang kecerobohan majalah senior menerbitkan berita online, baca di sini yang merupakan salah satu kompasianer, karena berita resminya telah diralat setelah diprotes masyarakat socmed.

Keesokkan harinya, yaitu hari ini tepatnya tanggal 25 Februari 2013, sebuah koran lokal di Bogor menuliskan tagline besar di lembaran ekslemparnya : "Rieke memperoleh suara tertinggi" Wow! Benarkah? Setelah dibaca isinya, ternyata hanya memberitakan kemenangan pasangan ini di salah satu lapas. Sementara di lembar sebelahnya tercantum lebih dari satu halaman data statistik berupa diagram batang hasil perolehan suara di setiap kabupaten dan kota di Jabar. Tentu berita ini mengecohkan pembacanya. Sekilas, apalagi bagi orang yang malas membaca, informasi yang ditulis itu akan membentuk opini bahwa kemenangan merupakan milik Rieke-Teten. Jadi, hasil quick qount salah? Mungkin begitu pikiran yang melintas di awal saat membaca judul besar tersebut.

Tidak sampai di situ, karena di halaman depan tersebut yang ditonjolkan adalah tagline yang sengaja di beri bold Golput Menang. Urutan judul besar kedua adalah, "Rieke Mencomot Suara Dede". Jika tidak teliti atau tidak membacanya dari dekat, Anda akan nyaris melewatkan sebuah judul yang dicetak lebih kecil dari dua judul tersebut, yaitu : "Aher-Demiz Pimpin Jabar". Sungguh mencengangkan, bukankah pasangan yang menangan biasanya akan menjadi sorotan? Tapi mengapa kali ini berbeda? Sebentar, coba amati berita ekspresi pendukung Aher-Demiz yang sujud syukur. Berita itu seperti tidak lebih dari sekedar berita pelengkap yang dimunculkan jauh di bawah berita (lagi-lagi) Rieke-Teten dan Dede-Lex yang hampir mendominasi satu halaman.

Oh, ada apakah ini? Tidakkah berita kemenangan Aher-Demiz untuk memimpin Jabar menarik bagi media? Okelah jika Aher tampak tidak menarik bagi media, tapi begitu pulakah Deddy Mizwar yang merupakan aktor senior yang diakui masyarakat Indonesia? Atau... jika boleh mengutip pernyataan Anas Urbaningrum dan sedikit mengeditnya, mungkinkah "Aher-Demiz adalah 'sang pemenang' yang tak diharapkan untuk menang?"

*hanya sebuah coretan dari seorang blogger yang prihatin dengan geliat tak netral media akhir-akhir ini*

Saturday, December 22, 2012

Bersiap-siagalah!

"Jangan terburu-buru, tapi juga jangan mencari alasan untuk menunda-nunda."

Singkat, Padat, dan Jelas. Wejangan yang diberikan oleh salah seorang terpercaya yang saya miliki itu, pasca percakapan singkat yang kami lakukan via mobile. Tentang pengaduan saya yang sedikit banyak mengganggu hari saya akhir-akhir ini. Tentang beberapa pertanyaan yang mampir dan butuh jawaban bijak untuk menyelesaikannya.

Entahlah. Meski buku a-b-c-d telah rampung saya baca. Meski sharing telah banyak dilakukan. Meski materi-materi ta'lim sudah banyak didapat. Tapi ternyata, belum mampu menghapus keraguan di hati saya.

Lalu, orang terpercaya itu pun terdiam sebelum mengajukan sebuah pertanyaan. "Apa lagi yang kamu tunggu? Sebutkan lima hal yang menghalangimu untuk mengatakan, ya saya siap."

Kini giliran saya yang terdiam cukup lama, menggumamkan huruf 'mmmm' yang sangat banyak. Hingga akhirnya saya menyebutkannya dengan speed lambat, mengejanya satu per satu, menimbang-nimbang sebelum benar-benar memverbalkannya. Bla...bla...bla....

Dan ciaatttt... semua alasan saya berakhir skak matt! Semuanya bisa diluruskan kembali olehnya hingga saya hanya bisa ber'ooooo' dan mengangguk kalah. Tanda kalau pada akhirnya saya menerima semua penjelasannya.

Akhirnya, beliau mengucapkan sebuah kalimat di akhir percakapan kami: "Kelak akan ada saatnya keyakinan untuk maju itu menghampirimu, hingga tak ada sedikit keraguan pun untuk mengatakan 'ya'. Ya, saat itu pasti akan datang. Tapi, apa kau yakin ketika 'ya' sudah mantap di hati, pada saat bersamaan ada pertanyaan yang sama?" JLEB!

Bersiap siagalah!

Tuesday, December 18, 2012

5cm The Movie

Angkat jempol tinggi-tinggi! Satu kata untuk menggambarkan film ini; KEREN!

Baru kali ini saya merasakan efek setelah membaca sebuah novel dan menonton filmnya, sama. Sama-sama takjub, sama-sama merasakan feelnya, sama-sama termotivasi. Menurut saya, film ini benar-benar mampu mentransformasi kata demi kata dalam sebuah novel berjudul sama "5 cm." menjadi sebuah karya audio visual; film.

Applause buat sutradara, script writer, para crew, produser, aktor aktris, semua yg terlibat dalam pembuatan film ini.

Selama ini saya pesimis terhadap film yang dibuat dari sebuah novel, kebanyakan semua film-film ini mengecewakan. Kebanyakan beralasan juga, karena novel dan film merupakan karya berbeda. Jadi sangat sulit membuat film yang sama persis dengan novel, begitu yang sering saya dengar.

Ya, memang benar. Tapi untuk menimbulkan efek yang sama, tidak perlu sama persis bukan? Tapi bagaimana pembuat film menangkap betul poin-poin penting dan mengolahnya sebaik mungkin untuk menyajikannya di depan penonton. Karena tidak mungkin film yang hanya dibatasi berkisar 2 jam, merangkul semua isi novel yang bisa ratusan halaman. Bisa-bisa yang terjadi adalah film berwujud sinetron ;)

Ini yang benar-benar NIAT membuat karya luar biasa, terlihat dari totalitas dalam pengerjaannya (meski saya sama sekali tidak tahu behind the scene-nya) tapi totalitas inilah yang mampu ditangkap oleh penonton seperti saya. Semua setting, dialog, adegan, really-really good! Penantian saya bertahun-tahun untuk menonton film ini tidak sia-sia.... haha,, puaaasss

"Sebenarnya sudah ada persiapan sejak 2010 mengenai pembuatan film ini, bahkan pada Oktober 2008, Soraya Films sudah membeli hak untuk mengangkat novel ini ke layar lebar. Namun lumayan banyak muncul pertanyaan, mengapa film ini belum juga sampai sekarang rilis bahkan baru akan rilis akhir tahun ini. Menurut pernyataan Donny Dhirgantoro sendiri, ia ingin menjadikan film ini sebuah film yang bagus, maka ia benar-benar memilih film maker yang cocok dan tidak akan mengecewakan penonton film ini nantinya. Dari sana didapatilah Rizal Mantovani yang akhirnya membesut film ini yang sudah menyutradari sekitar 15 film. Rizal sendiri menggunakan Fedi Nuril sebagai Genta, Herjunot Ali sebagai Zafran, Raline Shah sebagai Riani, Igor Saykoji sebagai Ian, Denny Sumargo sebagai Arial dan Pevita Pearce sebagai Arinda dalam jajaran para tokoh utama film ini." (sumber)

Yang belum nonton, yuuukkk nonton untuk membuktikan bahwa film berkualitas memiliki tempat di hati Indonesia :)

Monday, November 26, 2012

'Rasa' Menunggu

Menunggu adalah ujian tersendiri dalam hidup. Setiap orang hampir pasti pernah mengalaminya, menunggu apapun itu. Saya jadi penasaran, bagaimanakah 'rasa' menunggu yang dialami orang-orang. Samakah dengan 'rasa' yang saya rasakan juga? Meskipun belum pernah membuat survei khusus, namun saya yakin kalau 'rasa' menunggu bagi setiap orang sungguh persis. Tapi, yang memiliki perbedaan adalah bagaimana orang tersebut menyikapi 'rasa' menunggu tersebut.

Ya. Seperti sikap banyak orang dalam menghadapi rasa masakan misalnya. Ada yang mesem-mesem ketika makan mangga asam, tapi tidak sedikit yang biasa saja malah cenderung menikmati. Ada yang tak tahan menghadapi pedasnya sambal, tapi ada yang tidak bisa makan tanpa sambal. Ada yang membenci makanan manis, ada yang sangat tergila-gila dengan gula. Well, benarkan? Rasa yang dicicip sama. Tapi efeknya akan sangat berbeda bagi masing-masing orang yang merasakannya.

Dari analogi diatas, saya berkesimpulan mungkin tak ada yang berbeda dengan 'rasa menunggu' antar individu, tapi yang berbeda adalah efek dari perasaan itu. Membuat seseorang menjadi optimis atau pesimis? Membuat orang terlena atau produktif? Membuat orang bersemangat atau malas?

Saya mempunyai pengalaman menunggu berbagai hal. Dari berbagai hal itu, menunggu kabar baik menjadi sesuatu yang menyenangkan sekaligus menyebalkan! ^^v Karena konsekuensi menunggu kabar ada dua, yaitu sesuai harapan kita atau sebaliknya. Saat jaman menjadi mahasiswa tingkat akhir, pekerjaan saya adalah menunggu dosen; menunggu kedatangannya, menunggu tanda tangannya, menunggu ucapan persetujuannya. Dan itu menjadi masa-masa sulit dalam hidup... bayangkan, saya butuh waktu dua tahun untuk menyelesaikan skripsi (plis jangan bilang wow, apalagi koprol!),

Satu hal yang membuat saya kuat menjalaninya, saya yakin semua moment sudah dituliskan di Lauh Mahfudz (kitab tersembunyi) milik-Nya. Saya yakin saatnya akan tiba, tapi masalahnya saya tidak pernah tahu kapan pastinya waktu itu. Maka saya terus berusaha berlari untuk bersegera menemui waktu itu. Dan... jengjengjeng... target wisuda bulan desember pun melorot sampai ke bulan april di tahun berikutnya. Namun, saya tidak menyesalinya. Sebab saya yakin, sekencang apapun saya berlari... jika Allah belum berkehendak maka saya tidak akan pernah sampai di tempat tujuan.

Seperti malam ini, sejak hari jumat saya tak pernah lepas dari hape. Setiap bunyinya membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Dan saya harus berlapang dada ketika ternyata itu pesan dari operator gsm, bukan orang yang saya harapkan. Saya terus menunggu dengan sejuta harap yang membumbung. Akankah ini tiba saatnya waktu yang dijanjikan Allah setelah masa-masa sulit dan perjuangan yang saya alami? Ataukah bukan sekarang, karena Allah masih ingin saya berusaha keras. Karena Allah telah menyiapkan tempat yang lain, ladang rizki yang lain, yang tentu lebih baik untuk dunia dan akhirat saya.

Manusia, pun keyakinan itu ada di sudut hati. Tapi toh sudut hati yang lain membisiki kalimat sebaliknya. Calm down. Allah sesuai prasangka hambaNya, ketika ia katakan "Jadi!" maka Jadilah... :)

Terima kasih atas semua ujian hidup yang telah Engkau berikan, karena dengannya aku semakin kuat!

Wednesday, May 9, 2012

#GhawzulFikr

1.Sejak dulu, penyesatan lewat ideologi/pemikiran adalah bahaya laten #ghazwulfikr
2.#ghazwulfikr berasal dari kata ghazw dan al-fikr, yang secara harfiah dapat diartikan "Perang Pemikiran"
3.#ghazwulfikr :upaya-upaya gencar pihak musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala untuk meracuni pikiran umat Islam agr umat Islam jauh dari Islam
4.(con't) lalu akhirnya membenci Islam, dan pada tingkat akhir Islam diharapkan habis sampai ke akar-akarnya #ghazwulfikr
5.dan hebatnya, #ghazwulfikr tidak disadari oleh korban2nya..
6.Dahulu,penjajah menyerang Muslimin dg senjata bom, meriam,peluru,&serangan itu hingga kini sebetulnya masih tetap berlangsung-> #ghawzulfikr
7.skrg senjatanya adl surat kabar, majalah, radio, televisi dan media-media massa lainnya, baik cetak mau pun elektronik #ghazwulfikr
8.so qt emang harus selektif pilih berita;film;lagu'de-el-el bisa jadi isinya salah satu #ghazwulfikr mereka
9.ada juga yg menyerang dr dalam;pribahasanya 'musuh dalam selimut'. yaps! they are~jrengjreng~ JIL adl slh satu perangkat#ghawzulfikr
10.untuk tau lebih jelas ttg JIL, sila follow @TanpaJIL  banyak info ttg JIL yg disebarkan spy qt selalu waspada #ghawzulfikr
11.kalo mnrt sy pribadi, adanya gerakan #IndonesiaTanpaJIL merupakan upaya pencerdasan umat dr bahaya #ghawzulfikr
12.tp sy juga sangat memaklumi kalau ada yg sepakat maupun tidak;setiap org punya pendapatnya msg2 #IndonesiaTanpaJIL #ghawzulfikr
13.balik lagi ttg bahaya laten #ghawzulfikr; sarana yg biasa #mereka gunakan -> dikenal dengan 3F dan 5S.
14.3F (Food,Fun,Fashion); 3S (Song,Sex,Sport,Shopping,Science) #ghawzulfikr
15.Apalagi coba tujuannya kalau bukan untuk bikin umat islam minder sama agamanya #ghawzulfikr
16.Bikin umat islam su’udzon sama agamanya sendiri,sama saudara seaqidahnya sendiri #ghawzulfikr
17.Sampe akhirnya umat islam asing sama ajaran agamanya sendiri #ghawzulfikr
18.Pake jilbab dibilang gak up2date.Gak pacaran dibilang kolot.Ikut kajian ‘rohis’ dibilang sok alim. Omaigad! #ghawzulfikr
19.Qt jg dibuat konsumtif; lebih rela ksh uang ke promotor konser ato ganti gadget baru,pdhl msh byk yg butuh untuk makanjatohnya apatis #ghawzulfikr
20.Trus skrg lebih byk lagu2 yg mendewakan cinta kpd manusia drpd Tuhannya sendiri, rela mati, bagai debu, astagfirullah.. hati2 y jatuhnya bisa syirik ntar #ghawzulfikr
21.Ms gt aja syirik sih?kan CUMA lagu. “Syirik itu lbh samar dr semut hitam yg merayap di atas batu hitam pd waktu malam gelap gulita”HR.Al-Hakim #ghawzulfikr
22.“Syirik itu lbh samar dr semut hitam yg merayap di atas batu hitam pd waktu malam gelap gulita”HR.Al-Hakim #ghawzulfikr
23.Dosa yg dianggap sepele,gak kelihatan,semakin lama akan semakin menumpuk;apalagi dosa syirik #ghawzulfikr
24.So,langkah yg bisa qt gunakan agar tdk jd korban #ghawzulfikr adl perkuat aqidah!
25.“Lailahaillallah.” Menafikan Tuhan selain Allah; “Muhammaddarrasulullah.” Mengikuti ajaran islam spt syariat yg rasulullah ajarkan. #ghawzulfikr
26.Lalu sebarkan ilmu ttg #ghawzulfikr kpd org2 yg qt sayangi
27.Sy jg msh terus bljr&berusaha memperbaiki diri. Semoga sharetweet ttg #ghawzulfikr bermanfaat ^^ Wallahu’alam