Showing posts with label Epilog. Show all posts
Showing posts with label Epilog. Show all posts

Saturday, January 25, 2014

Hurt




Terkadang, cara terbaik untuk mengobati luka adalah rasa sakit itu sendiri.Terkadang, untuk membuat seseorang kembali kepada jalurnya adalah dengan menamparnya keras-keras. Terkadang, kita butuh menampar diri sendiri.

   diBawahLangit, 25 Januari 2014 

Friday, July 19, 2013

Hari Ini

Hari ini, entah kesekian kalinya mengunjungi kota itu dengan alasan yang sama. Membawa harapan yang sama. Dan semoga tak berakhir sama dengan kunjungan-kunjungan sebelumnya.

Hari ini, ia bertanya pertanyaan yang sama, dengan nada yang sama, iba yang sama, kabar yang sama. Dan semoga aku punya jawaban lain yang tidak sama.

Hari ini, butiran bening itu mengalir lagi, masih dengan cairan yang sama, pedih yang sama, menangisi nasib yang sama. Dan semoga ini tangisan terakhir untuk penyebab yang sama.

Hari ini, kepalaku dipenuhi pertanyaan yang sama, seperti kemarin, seperti minggu lalu, seperti bulan lalu, seperti tahun lalu. Pertanyaan yang tak pernah berkesudahan. Pertanyaan yang tak juga menemukan jawaban.

Hari ini, aku begitu lelah.

Thursday, July 11, 2013

Rame Rasanya!!

Hidup ini emang beneran kayak makan permen Nano-Nano.

Itu loh permen yang punya rasa manis, asem, asin sekaligus dalam tiap kepingannya. Pernah nyoba? Jujur. Saya suka banget sama permen ini. Awalnya gak ngerti kenapa, tapi kemudian saya sadar. Rasanya yang rame memang unik banget di lidah. Oh, jadi kejutan aneka rasanya lah yang kerap kali membuat saya nagih.

Meski hidup ini gak sesimpel kepingan permen aneka rasa, tapi hidup punya keramean rasa yang lebih banyak. Itu yang membuat hidup unik dan bikin ketagihan untuk terus hidup? Hahaha. Saya rasa bukan. Karena setiap orang, sadar ataupun tidak, pasti berharap hidupnya selalu bahagiaaaa. Ya kan? Hayo Ngaku!

Kita selalu berharap apa-apa yang kita inginkan dalam hidup ini terwujud, apa-apa yang kita rencanakan benar-benar terjadi. Tapi sayangnya, hidup tidak melulu tentang keinginan kita. Ada yang lebih berkuasa dibandingkan otak dalam tempurung kepala kita, untuk mengatur apa-apa yang akan terjadi pada kita. Tuhan. Allah SWT.

Kemarin kita bisa sangat sedih. Hari ini bisa terbahak-bahak karena bahagia. Dalam hitungan jam, menit, detik, kita bisa kembali bersedih, bingung, bimbang. Kemarin kita bersyukur, hari ini kita merutuk, meratap, marah. Kita sama sekali tak punya jaminan apa-apa terhadap hidup kita sendiri. Ya. Kita tak punya apa-apa karena memang kita bukan siapa-siapa.

Tapi, kita punya Allah. Kita punya prasangka baik kepada Dia. Kita punya harapan kepada Maha Pemberi. Kita punya banyak pertanyaan dalam kepala, sekaligus punya jawabannya. Bahwa rencana Allah selalu indah. Pun dibalik beban yang teramat sangat.

"Tersenyumlah... Allah mencintaimu, lebih dari yang kamu perlu." (Tasaro Gk)

Saturday, December 22, 2012

Bersiap-siagalah!

"Jangan terburu-buru, tapi juga jangan mencari alasan untuk menunda-nunda."

Singkat, Padat, dan Jelas. Wejangan yang diberikan oleh salah seorang terpercaya yang saya miliki itu, pasca percakapan singkat yang kami lakukan via mobile. Tentang pengaduan saya yang sedikit banyak mengganggu hari saya akhir-akhir ini. Tentang beberapa pertanyaan yang mampir dan butuh jawaban bijak untuk menyelesaikannya.

Entahlah. Meski buku a-b-c-d telah rampung saya baca. Meski sharing telah banyak dilakukan. Meski materi-materi ta'lim sudah banyak didapat. Tapi ternyata, belum mampu menghapus keraguan di hati saya.

Lalu, orang terpercaya itu pun terdiam sebelum mengajukan sebuah pertanyaan. "Apa lagi yang kamu tunggu? Sebutkan lima hal yang menghalangimu untuk mengatakan, ya saya siap."

Kini giliran saya yang terdiam cukup lama, menggumamkan huruf 'mmmm' yang sangat banyak. Hingga akhirnya saya menyebutkannya dengan speed lambat, mengejanya satu per satu, menimbang-nimbang sebelum benar-benar memverbalkannya. Bla...bla...bla....

Dan ciaatttt... semua alasan saya berakhir skak matt! Semuanya bisa diluruskan kembali olehnya hingga saya hanya bisa ber'ooooo' dan mengangguk kalah. Tanda kalau pada akhirnya saya menerima semua penjelasannya.

Akhirnya, beliau mengucapkan sebuah kalimat di akhir percakapan kami: "Kelak akan ada saatnya keyakinan untuk maju itu menghampirimu, hingga tak ada sedikit keraguan pun untuk mengatakan 'ya'. Ya, saat itu pasti akan datang. Tapi, apa kau yakin ketika 'ya' sudah mantap di hati, pada saat bersamaan ada pertanyaan yang sama?" JLEB!

Bersiap siagalah!

Saturday, March 3, 2012

Kelakar Rindu

//Angin tak berhembus malam ini,
entah enggan. Atau bosan?
Karena aku selalu titipkan rindu agar dibawa pergi.
Terserah pada siapa akan diberi,
setidaknya ia tidak mengendap disini.//

Thursday, January 19, 2012

sepotong keikhlasan

"Hei..bisakah kau berbalik?"

"Eh?"

"Ya, berbaliklah.. aku ingin meminjam punggungmu sebentar saja."

"Kau menangis?"

"Bukankah ini lebih baik daripada aku harus memakimu?"

"Ya, silahkan. Kau boleh menyembunyikan kesedihanmu di punggungku."

"Aku bukan ingin menyembunyikannya, aku hanya ingin melepaskannya."

***

"Bolehkah aku mengatakan kalau hatiku sangat sakit?"

"Tentu saja kau berhak."

"Lalu, bolehkah aku membenci orang yang menyakiti hatiku?"

"Eh? Tapi memaafkan itu bukankah lebih baik?"

"Ya, tapi... aku tidak bisa untuk tidak membencinya."

"Separah itukah?"

"Entahlah."

"Kau hanya butuh sepotong keikhlasan untuk bisa membuat hatimu tenang."

"Eh?"

Monday, October 24, 2011

i luph writing so bad

Aku mencintai hal ini,
sejak aku tahu semua peristiwa bisa dilukis tanpa kuas...
setiap warna bisa digambar tanpa cat...
daun-daun yang jatuh bisa menjadi kisah...
titik hujan bisa menjadi musik syahdu...

Semuanya terangkai dalam secarik kertas...

tanpa kuas, tanpa cat, tanpa suara,,,

i luph writing so bad!

Friday, July 29, 2011

Nyanyian Angin #6


Aku masih disini, terpaku menatap layar laptop, kembali menginstal ulang hatiku untuk mencintainya; tugasku. Saat tiba-tiba kau hadir di tengah pagi yang damai.
"Kau? Datang sepagi ini? Ada angin apa?"
"Hmm... ada angin yang mengabarkanku kalau kau sedang sibuk sekali di depan laptopmu pagi ini. maka aku ingin memastikannya sendiri, kalau kau benar-benar melakukan tugasmu dengan baik."
aku tersenyum tipis. setipis kabut pagi yang menyapa matahari di ufuk timur.
"Ya, aku ingin memperbaiki semuanya. Kelalaianku selama ini, meski tidak akan menghapus semua salah yang telah kubuat, kuharap minimal kerusakannya tidak bertambah parah."
kau tersenyum. belum pernah aku melihat senyummu semanis ini. Hey! Benarkah kau setuju dan mendukungku?
lalu aku melepaskan pandanganku dari laptop beralih ke matamu.
"kau tahu? kau sangat banyak membantuku."
kau menyeringai. tampak salah tingkah mendengar pernyataan jujurku.
"disaat semua orang tertawa dengan lelucon yang kubuat, kau bahkan tahu air mata yang mengalir deras di hatiku. disaat aku bilang tidak apa-apa, kau menamparku keras untuk menyadarkanku kalau sebuah luka akan membusuk jika tidak diobati segera. disaat aku ingin sendirian, kau mengingatkanku untuk tak pernah sendiri karena hakikat manusia diciptakan adalah hidup berdampingan." aku menarik nafas. dan kau masih membisu mendengarkanku dengan seksama.
"kau, disaat aku tak punya teman untuk mendengar keluhku. hanya kau yang selalu datang dan setia menemaniku. karena kau tahu, sekuat apapun aku untuk menyembunyikan kegelisahan, akan ada saatnya semua itu akan meledak dan berganti menjadi lahar panas yang dapat menghancurkan apa yang ada di sekitarku."
kau kini menghinggapi sebuah persegi berbingkai merah muda, kemarin kau ada di pantulan kaca jendela, kemarin lusa kau bersembunyi di genangan air hujan, kau selalu tersenyum disaat aku berwajah kusut. kau sisi lain dariku, selalu muncul ketika kutatap cermin berbingkai merah muda di dinding kamarku, kau bayanganku.
***TamaT

Thursday, July 28, 2011

Nyanyian Angin #5


"Nay?"
aku terkejut melihatmu sudah di depan pintu menyambutku. aku yang datang basah kuyup karena terguyur hujan segera menerobos masuk tanpa menjelaskan yang ingin kau ketahui dariku tentang perasaanku hari ini. aku sadar kau bingung; tapi aku hanya ingin menetralkan hatiku saat ini.
"Jadi, kau berharap air hujan dapat menyembunyikan sisa air matamu?" kau lagi-lagi membuatku terdiam;bukti kalau aku memang tak bisa menyembunyikan apapun darimu.
"Aku ini tidak berguna." ujarku membuat wajahmu berubah tak karuan. "Aku tidak bisa apa-apa." tambahku lagi membuat suasana kamar sempit ini menjadi semakin sesak. "Kau tahu? Apa yang aku lakukan tidak pernah berakhir dengan sempurna. aku selalu salah dan melakukan kesalahan."
kau tak menanggapiku. semakin membuatku ingin berkata lebih sarkastik lagi! lebih gila! lebih ekstrim! untuk sekedar membuatmu buka suara dan merubah tampangmu yang tanpa ekspresi itu. bahkan aku tidak yakin kalau kau benar-benar mendengarkanku.
"Kadang seseorang butuh dipercaya untuk melakukan hal luar biasa." aku kini tidak peduli kau mendengarku atau tidak. aku hanya ingin menumpahkan isi kepalaku. isi hatiku.
"Dan seseorang akan dipercaya jika ia memang bisa dipercaya." sambungmu membuat bola mataku membesar; penasaran apa maksud perkataanmu."Bagaimana mungkin orang lain akan mempercayaimu jika kau bahkan tidak percaya dengan kemampuanmu? Nay, percaya itu letaknya disini. di hatimu." lanjutmu membuat aku tertunduk lesu. "Mereka hanya butuh pembuktian kalau kau memang bisa melakukannya, masalah sempurna atau tidak, biarlah niat baikumu yang menjelma menjadi sebuah amal kebaikan;bukan sebuah pengakuan. Setiap sesuatu memiliki latar belakang, jika ia baik maka hanya kebaikan yang akan kau tuai. begitupun sebaliknya."
Kau mendekati jendela, membukanya lebar. tampaknya kau lupa kalau aku tengah basah kuyup kini, angin yang berhembus membuatku semakin menggigil.
"Jadilah seperti angin, Nay. kau tidak akan pernah bisa melihatnya ataupun merabanya, namun kau bisa merasakannya; ia ada.. selalu ada mengikuti titah Penciptanya."
seolah dihipnotis, aku memejamkan mataku, mencoba memaknai kehadiran angin yang kau maksud. menghirupnya dalam; berharap ia merasuki dan menyejukkan hatiku.***Bersambung

Sunday, July 24, 2011

Nyanyian Angin #4


"Hai..." kini aku menyambutmu dengan tersenyum. aku tidak terkejut lagi dengan kedatanganmu yang selalu-tiba-tiba. tanpa ketukan pintu; tanpa langkah kaki yang menderap; dan selalu tanpa jejak. kau agak kikuk kusambut tidak seperti biasanya.
"Bagaimana kabarmu hari ini?"
"Lebih baik dari hari kemarin." jawabku mantap.
"Bagaimana mungkin kau lebih baik? Bukankah kau masih suka sendirian?"
"Eh?"
"Jika kabarmu baik, aku tentu tidak akan ada disini sekarang."
Ok. kau selalu memenangkan adu argumen antara kita. aku sampai tidak yakin dengan pandanganku sendiri, karena ternyata kau selalu lebih tahu tentang kondisiku bahkan melebihi diriku sendiri. kau duduk di kursi kerjaku tanpa kupersilahkan.
"Apa aku salah memilih kesendirian? Aku hanya lebih merasa nyaman jika aku sedang sendiri. berkutat dengan isi kepala juga isi hatiku. aku merasa menjadi diriku sendiri, tanpa beban, tanpa harus pusing sengan pendapat orang lain." aku menghirup nafas dalam, dan saat sendiri...hanya saat sendiri kau datang mengunjungiku. kata itu tercekat di tenggorokan.
kau tersenyum, "kau berharap aku selalu datang menemanimu bukan?"
air mukaku berubah. mungkin semerah buah apel yang ranum. rasanya ingin jatuh saja dari tangkainya, terbawa hanyut aliran sungai jernih, lalu bersembunyi di balik batu, tenggelam.
"kau tak perlu khawatir, aku akan selalu datang jika kau terus mengharapkan aku ada."
aku menatap ujung kakiku,
"Nay, bagaimana jika aku benar-benar pergi? Tak lagi datang membawakan teh hangat saat kau menangis, tak lagi menghiburmu ketika hatimu sedang sakit, tak lagi memarahimu ketika kepala batumu sedang kumat, bagaimana Nay? bagaimana menurutmu?"
keningku berkerut, tidak suka berandai-andai sepetimu. bukankah baru saja kau berjanji tak akan pernah pergi? lalu sekarang kau berharap akan pergi?
"Haha.. Nay, kau ini ternyata sangat manja! kau bilang kau suka sendirian, tapi kau tidak mau jika aku tinggalkan."
apa ini aba-aba darimu? kalau suatu saat kau akan pergi dari kesendirianku? mengurungku dengan isi kepala yang saling hantam melukai hati kecilku?
apa tawamu yang lepas itu tanda perpisahan darimu?***bersambung

Wednesday, July 20, 2011

Nyanyian Angin #3


"Kau, menyendiri lagi?"
Eh, aku sangat terkejut dengan kedatanganmu yang selalu tiba-tiba. Lagi, kau datang disaat aku sendirian, menatap langit;mengajukan beberapa tanya; mengeluhkan asa; lalu akhirnya kau akan datang seperti kiriman langit untuk menjawab semua tanyaku. Aku berusaha tersenyum untuk menyambut kedatanganmu kali ini,
"Sudah, tak perlu berpura-pura di depanku."
Mataku membulat, agak kaget mendengar pernyataanmu yang terus terang itu.
"Kau tersenyum seperti itu, bersikap ceria untuk menyenangkan orang lain, mengangguk bilang baik-baik saja, menahan air mata agar tidak tumpah; sudah cukup Nay!"
Kini aku benar-benar takjub dengan wawasanmu tentang aku. Aku yang perlahan membekukan hatiku, bahkan kau tahu itu; sesuatu yang orang-orang terdekatku tidak menyadarinya.
"Hanya karena kau tidak ingin dibilang cengeng? terlalu melankolis? lemah? lalu kau mengabaikan rasa itu; rasa sakit di ulu hatimu; rasa pahit menanggungnya sendirian; Nay, kau ini hanya manusia. tak perlulah kau bersikap layaknya malaikat."
Rahangku mengeras, kau terlalu banyak tahu.
"Kau tak perlu membuat semua orang menyukaimu, kau hanya perlu bekerja setulus hatimu."
Rasanya aku ingin mengusirmu pergi jika aku bisa. Kau terlalu jujur! Lebih jujur dari diriku sendiri.
"Nay, kenapa kau sekarang lebih suka sendirian? Kenapa kau yang dahulu sangat perhatian kini malah bersikap dingin pada siapapun? Benarkah karena kau kecewa? Benarkah karena kau terlalu takut ditinggalkan hingga kau lebih memilih menjaga hatimu agar kelak hingga waktunya tiba untuk berpisah, kau akan aman dari rasa kesepian?"
Aku tak mau menatap matamu yang tajam menusukku. Aku khawatir kau akan menemukan pembenaran di mataku atas tuduhanmu tadi.*bersambung

Friday, June 24, 2011

Nyanyian Angin #2


Kau tahu? Aku benar-benar menangis deras setelah kau meninggalkanku sendiri.
Bahkan aku harus terduduk lemah di pojok ruangan seperti pesakitan, memeluk lututku yang ikut bergetar hebat. Kalau kau ada disini, kau pasti menertawaiku, mengatakan aku seperti anak kecil yang menangis karena tak diajak ke pasar oleh ibu. Atau kau akan geleng-geleng kepala dan berkata aku tak pernah dewasa?
Ternyata aku salah, kau kembali dengan secangkir teh hangat di tanganmu. Lalu menyodorkannya padaku yang tengah sibuk mengeringkan air mata yang menderas di pipi tadi. Kau sama sekali tidak menertawaiku seperti bayanganku tadi, kau ikut berjongkok lalu menghadirkan senyuman yang sama dengan senyummu sebelum meninggalkanku tadi.
"Kadang semua amarah, kesal, kecewa, sakit hati;akan hilang hanya dengan menangis." ujarmu membuat wajahku mendongak agar ucapanmu terdengar lebih jelas.
"Apa kau pernah menangis?" aku ragu-ragu bertanya setelah meneguk teh pemberianmu.
Kau berdiri, persis menatap jendela seperti yang kulakukan tadi, "Tentu saja, tapi tidak di depanmu, Nay!" ujarmu membuat wajahku berlipat. Katakan saja bahwa apa yang kulakukan tadi sangat memalukan, menangis di depanmu! Aku bahkan tidak pernah merencanakannya sedetikpun.
"Nay, jangan berpura-pura kuat ketika kau melemah. Itu hanya akan membuatmu hancur perlahan." kau menatapku serius, sampai aku pun tidak berani membalasnya. Lalu kita membiarkan hening berlalu lalang di sekitar kita.*bersambung


Nyanyian Angin


“Kau kenapa?”
Aku menggeleng keras, membuatmu semakin penasaran tampaknya. Mungkin kau merasakan gelagat anehku belakangan ini, atau mungkin juga kau sempat memergoki pelupukku yang basah tadi. Aku membalikkan tubuhku menghadap ke jendela besar ruang kerja kita.
“Kau lelah?” tanyamu lagi yang kujawab dengan diam. Bukan, sebenarnya bukan itu yang membuatku belakangan ini berubah sikap. Bukan pula karena marah atau kecewa, sungguh bukan karena itu.
“Aku hanya sedang ingin sendirian.” Akhirnya hanya itu yang kukatakan padamu, dan kau tanpa bertanya panjang lebar segera bersiap mundur teratur untuk meninggalkanku sendiri. “Aku, aku, bukankah aku sangat ceroboh? Bukankah aku sangat cengeng? Bukankah aku sangat mudah menyerah?” aku mencoba membuatmu tetap di tempat dengan meracau seolah tak seorang pun mendengar.
Aku tahu, kau berhenti melangkah. Kau mendengar racauanku dengan baik, sebaik aku mendengar desau angin yang menemani kita. “Aku tidak pernah berhasil melakukan apapun? Lalu apa yang sebenarnya bisa kukerjakan?”
“Kau hanya bisa mengeluh!” aku menoleh ke arahmu. Kata-katamu berhasil membuatku merasakan sakit di ulu hati. Aku tertunduk, menangis. Kau benar, kali ini kau benar. Bahuku bergoncang keras menahan air bah yang meledak di pelupuk. Aneh, kau malah tersenyum di tempatmu berdiri.
“Menangislah, itu akan membuatmu lebih baik..” katamu lalu menghilang dari balik pintu. *bersambung.

Tuesday, May 24, 2011

epilog sunyi #1

Memperhatikan beberapa teman di rentetan OL facebook,
menyapa beberapa;sangat basa-basi.
Aku kembali memasuki goa;berdiam sendirian.
Menatap nyala lilin yang sedikit-sedikit memakan tubuhnya,
pasti hitungan menit saja tubuhnya akan lenyap bersamaan dengan padamnya cahaya.

Kurasakan bulir di ujung pelupuk dingin mengalir,
ahh.. bukankah sudah kutahan?
kenapa ia masih saja merangsek memaksa untuk keluar??
tuh kan,, ketahuan betapa lemahnya diri ini!