Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, February 26, 2013

Nominator Seleksi Cerpenis

"Nominator Seleksi Cerpenis

Posted on January 25, 2013 by morningdew

Berikut ini daftar pelamar Festival Kumcer dan Kisah Jogja yang lolos seleksi:

Anggun Prameswari

Arumi Ekowati

Avioletta Zahra

Desti Astuti

Lidya Renny Chrisnawaty

Naminist Popy

Reni Erina

Richa Miskiya

Swistien

Veronica Gabriella

Hilal Ahmad*

Novella Putri Iriani*

Setiap cerpenis akan dihubungi dan dikirimi sinopsis untuk menuliskan kisah yang diminta oleh editor.

Catatan:

*Untuk projek kumcer berikutnya."

sumber: gradien

Alhamdulillah... beberapa hari yang lalu saya mendapatkan kejutan dari salah satu penerbit yang sedang mengadakan event kepenulisan cerpen. Semoga saya bisa menunaikan tugas ini dengan baik! :)

Monday, June 11, 2012

Sekelumit Episode Hidup (AnnidaOnline,6 Juni 2012)

Semua orang ingin sukses. Entah ia berada di belahan dunia barat atau timur, utara maupun selatan. Profesi dokter, pengacara, maupun tukang becak; mereka ingin menjadi dokter yang sukses, pengacara sukses dan tukang becak sukses. Tetanggaku ketika ditanya hendak jadi apa kelak dewasa nanti, selalu dijawab ‘menjadi orang sukses’. Jawaban yang sebenarnya ambigu, apakah dia mau jadi pencuri yang sukses?
Ah, tentu saja niat bertanya itu ku urungkan. Meski sah saja jika aku bertanya, karena sebenarnya profesi itu pun nyata adanya. Jika tak nyata, tentu motor Bang Kasim tak akan lenyap ketika di parkir di depan mini market seminggu yang lalu. Mak Tini tak akan merasakan bagaimana dukanya kehilangan kalung mas seberat 5 gram karena dijambret copet. Ibuku tak akan mengumpat ketika sadar baju yang dijemurnya pagi tadi menghilang tanpa jejak. Dan aku tak akan pulang ke rumah tanpa alas kaki seusai shalat jum’at di mesjid.
Sukses. Itu juga impianku ketika aku mulai memahami arti enam huruf yang sering terdengar ketika ada seseorang yang mengalami keberhasilan dalam hidup. Aku ingin sukses, maka aku berusaha giat belajar hingga akhirnya selalu menjadi juara bertahan di sekolah dasar. Aku pun dinobatkan jadi anak SD yang sukses tanpa mendapatkan plakat penobatan seperti yang sering kulihat di televisi. Toh tanpa itu pun, semua orang tahu. Guruku, orang tuaku, teman-teman sekolahku, orang tua teman-temanku yang sering menjadikan namaku sebagai kata motivasi bagi anak-anak mereka di setiap jam belajar di rumah mereka. Mereka semua tahu siapa Galang Saputra.
Sukses pun terus mengiringiku, seakan aku dan enam huruf ajaib itu adalah dua sejoli yang sulit untuk dipisahkan. Aku menikmatinya. Sangat menikmatinya. Sukses itu pun melanggengkanku masuk SMP favorit di kabupaten tanpa tes dan digiringnya aku ke kelas kumpulan anak ‘sukses’. Terus. Terus. Hingga aku pun lulus dengan nilai memuaskan dan mengantongi tiket masuk SMA favorit tanpa tes. Tidakkah Tuhan sangat menyayangiku? Aku menikmati masa putih abuku; hangout, bersosialisasi, berorganisasi, lulus dengan nilai memuaskan. Lantas memberanikan diri mengikuti ujian tulis masuk perguruan tinggi negeri. Kalian pasti sudah tahu hasil ujianku. Ya, aku lulus ujian masuk PTN di pilihan kedua! Yihaa! Sukses adalah sahabat sejatiku. Tuhan memang sangat menyayangiku.
***
Selamat saudara Galang Saputra, Anda dinyatakan lulus dengan nilai A. Dan berhak menyandang gelar Sarjana Peternakan. Semoga ilmu Anda dapat bermanfaat di kemudian hari.
12 Desember 2011. Aku resmi menjadi seorang sarjana! Gelar yang sejak kecil kuimpikan karena terinspirasi dari tayangan ‘Si Doel Anak Sekolahan’ yang ku tonton malam hari bersama keluarga dan para tetangga. Aku ingat betul adegan ketika keluarga Si Doel menyambut gegap gempita kelulusan sarjana di keluarga mereka. Euforia semacam itu pun lantas menjadi milik keluargaku juga. Betapa sukses sangat membahagiakan bukan? Aku pikir juga begitu. Sampai aku merasakan, GAGAL.
Enam huruf ajaib itu berubah menjadi lima huruf menyakitkan. Rupanya jodohku dengan kesuksesan berakhir setelah aku menapaki dunia pasca kampus, tepat setelah gelar itu kusandang dengan jumawa. Atau ini karena jatah kesuksesanku sudah habis? Kenapa justru habis saat sangat kubutuhkan!
“Jangan berprasangka buruk sama Allah, Lang.” Yaofi, sahabat karibku itu tengah serius menasehatiku. Meski ia sadar betul, kini tak ada nasehat yang benar-benar masuk ke dalam hatiku. Semua nasehat seakan mental kembali bak bola bekel.
“Lalu kenapa Ia tidak juga menurunkan rizkiNya padaku, Yof? Aku lelah! Apalagi jika ibu dan bapakku sudah mengeluh macam-macam sementara aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Aku membekap wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku lelah tak punya pekerjaan sedangkan pendapatan untuk menghidupi kami sekeluarga hanya ditopang dari toko sembako orang tuaku yang tak tetap. Apalagi, menyandang gelar sarjana pengangguran itu seakan menjadi aib tersendiri; baik di keluarga besar maupun lingkungan tetangga rumah.
Kekecewaan demi kekecewaanlah yang membuatku menjadi selemah ini, seputus-asa ini. Bermula ketika sebuah perusahaan penerbitan ternama mengundangku untuk interview dan wawancara di kantornya di bilangan Jakarta Selatan. Aku merasa semua berjalan begitu lancar, meski latar belakang pendidikanku sempat dipertanyakan, tapi mereka tampak puas dengan jawabanku. Hari berbilang minggu, minggu berbilang bulan, tak ada pemberitahuan dari pihak perusahaan. Itu artinya aku tidak diterima. Aku gagal.
Aku tenggelam dalam kekecewaan, kusalurkan perasaan itu dalam sebuah tulisan. Aku memang memiliki hobi menulis dan tulisanku itu sempat beberapa kali dimuat di media remaja. Maka aku berharap hobi ini dapat mengobati sedikit kekecewaanku, aku segera mengirimkannya ke sebuah media. Seminggu. Hanya butuh waktu seminggu untuk menerima kekecewaan kembali. Tulisanku ditolak dengan alasan tanpa embel-embel apapun kecuali satu kata; monoton. Jleb! Aku patah hati. Kutinggalkan microsoft word-ku sebulan penuh.
Aku kembali menghanyutkan diri di berbagai area informasi lowongan pekerjaan. Berkutat dengan curriculum vitae dan application letter, berharap undangan interview segera menyambangi e-mail atau telpon selulerku. Dua minggu kemudian aku pun diundang sebuah perusahaan kosmetik terbesar di tanah air untuk tes dan interview, tahap demi tahap kulewati hingga di tahap akhir; aku kembali gagal. Aku kesal. Marah pada diri sendiri.
Intererview demi interview, tes demi tes, panggilan demi panggilan, berakhir pada satu titik; kegagalan. Jenuh. Aku kembali merangkai huruf, menumpahkan segala macam jenis kecewa yang berkecambuk di hatiku. Message send! Nekat. Kukirim tulisan itu ke sebuah media yang sama. Dan tak kusangka, jawabannya tetap sama; monoton. Bahkan hatiku kecilku mempertanyakannya, tidak bisakah menggunakan kata lain selain tujuh huruf itu? Setidaknya untuk memberikan harapan bahwa aku masih bisa memperbaikinya. Atau… mungkin saja sebenarnya tulisanku itu memang amat sangat buruk, aku memang tidak berbakat, pemuatan sebelum-sebelumnya hanya kebetulan saja! Aku tidak berbakat menulis. Ya. Aku tidak berbakat.
“Kesimpulan yang terlalu melodramatik.” Komentar Yaofi ketika aku kemukakan berbagai alasanku.
“Kau bisa mengatakan itu karena kau tidak merasakannya.” Ujarku kesal. Alih-alih memberikan simpati, ia malah tersenyum sinis. Mungkin aku juga salah memilih teman! Sebagai teman sejak kecil, bagaimana mungkin ia bersikap tidak empati seperti itu terhadap sahabatnya.
“Kau ingat, Lang? Saat aku menangis di pelukan ibuku selepas menerima rapor sekolah dasar?”
Aku berusaha mengembalikan ingatan ke masa itu. Yaofi Fadli, anak laki-laki yang terkenal preman di sekolah mendadak menjadi sangat cemen kala itu. Tanpa sadar, aku tersenyum mengingat kejadian belasan tahun lalu.
“Kau tahu kenapa aku menangis?”
Aku menggeleng, “Ibumu bilang, matamu kelilipan sesuatu.” Aku memang tidak benar-benar tahu. Hanya itu yang dikatakan oleh ibu Yaofi saat itu.
“Ia berbohong. Aku menangis karena kau menggeser posisi yang selama dua tahun menjadi milikku.”
Jleb! Ada sesuatu yang menusuk ulu hatiku. Ya. Sebelum aku dinobatkan menjadi juara di sekolah dasar saat kelas III, Yaofi-lah yang menempati posisi itu dua tahun berturut-turut.
“Kau tahu, aku merasa amat tersiksa karena sejak hari itu aku selalu menjadi orang nomor dua di bawahmu. Aku berusaha keras belajar setiap sepulang sekolah dan malam hari, tapi aku tak pernah bisa mendapatkan posisi itu kembali bahkan sampai kita lulus kelas VI.”
Aku terperangah menyadari kenyataan yang selama ini disembunyikan sangat rapi oleh Yaofi. Tapi ia tersenyum santai, “Masa itu sudah berlalu, Lang. Kau tidak perlu khawatir.”
Aku menghela nafas; lega karena mendapati Yaofi tak lagi membawa rasa sakit hatinya semasa SD itu ke masa kini. Buktinya di sela aktivitasnya yang padat, ia menyempatkan diri berkunjung ke rumahku akhir pekan ini setelah aku mengirimkan sms tersirat tentang rasa putus asa yang tengah melandaku.
“Lalu, kau diterima di sekolah favorit tingkat kabupaten. Aku sudah harus merasa puas sekolah menengah pertama di sekolah favorit tingkat kecamatan.” Aku kembali dibuat terperanjat oleh pengakuannya.
“Namun takdir mempertemukan kita kembali di SMA. Kita berada di sekolah favorit yang sama. Aku tak merasa kalah lagi denganmu.”
Jujur aku bingung harus berekspresi seperti apa.
“Sampai saat itu, saat kita sama-sama mencita-citakan kampus yang sama. Berjanji melakukan banyak hal saat menyandang status mahasiswa di kampus itu. Bahkan kita bersama-sama mengikuti bimbel untuk mencapai impian itu.” Mata Yaofi menerawang ke luar jendela. Tanpa ia lanjutkan, sebenarnya aku sudah tahu kelanjutannya. Aku diterima dan dia tidak. Tapi dengan bodohnya di malam itu, di malam pengumuman hasil ujian masuk PTN. Aku mengeluh karena hanya mendapatkan pilihan kedua, bukan pertama. Saat itu ia mengirimkan pesan singkat lewat telpon selulernya “That’s better than me; GAGAL.”
“Yof..” aku tak mampu merangkai kata. Semua huruf seperti berhamburan. Aku sulit menangkapnya satu persatu untuk kususun menjadi kalimat terbaik yang ingin kupersembahkan untuknya. “Lalu, setiap kita bertemu. Aku hanya sibuk menceritakan betapa sulitnya masa kuliahku disana, mengeluhkan nilai ujianku yang tidak sempurna, kelelahanku mengurusi organisasi, sampai IPK-ku yang hanya tiga koma nol.” Aku menarik nafas berat; menyadari sungguh kurang bersyukur diri ini atas semua yang kudapatkan. “Kau marah?” aku bertanya ragu.
“Awalnya, ya. Tapi kehidupan memberikan pembelajaran yang tak ternilai. Aku menemukan banyak hikmah di setiap apa yang kualami. Aku yakin yang Allah berikan, itulah yang terbaik untukku.”
“Ya, kau sudah mendapatkannya, Yof.” Aku tertunduk lesu, menyadari sahabatku ini telah enam bulan bekerja di sebuah perusahan ternama dengan gaji di atas rata-rata. Ia lulus tiga setengah tahun dengan predikat cumlaude.
Yaofi menepuk bahuku, semacam memberikan energi positif agar aku bersemangat. “Ia memberikan jalan hidup yang berbeda untuk setiap individu. Ingat, Lang! Pintu rizki itu banyak, bukan hanya ada di kantong para CEO perusahaan. Lagipula, pemberi rizki yang sebenarnya kan Allah. Tenang saja, hewan melata pun sudah ada rizkinya. Ia tidak akan menelantarkan hambaNya.”
Ada yang basah di pipiku. Betapa tanpa sadar aku telah menggantungkan harap pada para CEO perusahaan, berusaha memikat mereka dengan tampilan curriculum vitae semenarik mungkin, berusaha memberikan jawaban terbaik saat interview agar mereka terkesan, berpenampilan rapi dan sesempurna mungkin. Apa yang kuberikan pada Rabbku? Pemilik rizki yang sesungguhnya. Pemilik hati para atasan di gedung-gedung pekantoran. Sudahkah amal terbaik? Bagaimana mungkin meminta rizki turun segera, tapi amalku lebih sering tertunda-tunda.
***
“Pak, order seribu butir untuk pekan depan ya! Dikirim ke tempat biasa.”
“Siap, Bos!” aku sedang menutup telpon selulerku dan mencatat pesanan konsumen. Ketika sebuah mobil avanza berhenti di halaman rumah.
“Assalammu’alaikum, sibuk nih?”
Aku menjawab salamnya dan cepat-cepat menghampiri tamu sekaligus sahabatku itu. “Biasa, Yof. Ada apa pagi-pagi ke sini? Mau order telur asin?” Ah iya! Aku belum bercerita ya? Setelah aku menyadari semua kesalahanku dalam menjemput rizki, aku segera memperbaikinya. Kembali mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan. Penolakan demi penolakan kembali terjadi, tapi aku tak lagi menanggapinya dengan melankolis. Aku terus berbaik sangka bahwa Ia telah menyiapkan rencana terbaikNya. Aku juga masih mencoba menyalurkan hobi dengan menulis; ini pun tak berjalan mulus. Tapi setidaknya aku menanggapi komentar redaksi sebagai cambuk untuk memotivasi menulis lebih baik lagi-tidak seperti sebelum-sebelumnya yang kutanggapi dengan aura pesimis serta sinis.
Kini aku merupakan produsen telur asin terbesar di kotaku, memiliki puluhan agen di berbagai kota di seluruh Indonesia. Bahkan saat ini aku tengah merancang sebuah outlet pusat makanan khas kotaku yang akan menjaring produsen UKM kecil menengah yang selama ini tersendat pemasarannya. Kalian tahu bagaimana aku mendapatkan ide usaha telur asin?
Ide ini bermula dari kiriman sepuluh butir telur itik dari pamanku. Iseng aku mengaplikasikan ilmu yang pernah kudapat di bangku kuliah. Percobaanku pun berhasil! Kebetulan Yaofi tengah berkunjung ke rumah saat telur yang selama dua minggu kusimpan dalam balutan abu dan garam selesai kurebus.
“Kenapa tidak coba usaha telur asin, Lang? Aku dengar, produsen telur asin masih sedikit di sini, sedangkan permintaan terus meningkat. Itung-itung mengisi waktu sambil menunggu panggilan kerja.” Ujarnya sambil mengunyah telur asin buatanku yang menurutnya enak. Kenapa tidak pernah terpikir hal ini?
“Tapi…”
“Aku pinjamkan modal jika kau berminat.” Potongnya seolah mengerti maksudku. Aku tersenyum lebar. “Baiklah! Aku terima tantanganmu!”
Dan aku tak pernah menyangka perkembangannya dalam tiga tahun sepesat ini. Tentu ini tak lepas dari campur tanganNya. Ini hal yang mustahil? Ah, tidak ada yang mustahil di dunia ini selama Ia menghendaki! Perjalanan tiga tahun ini bukan perkara yang mulus seperti jalan tol. Butuh berlembar-lembar kertas untuk menuliskan cerita ini tersendiri. Tapi cukuplah ayat cinta dariNya ini yang mampu menggambarkan semua…
Sesungguhnya setelah kesulitan, ada kemudahan. Sungguh, setelah kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah; 5-6)
Seperti adam yang diciptakan berpasangan dengan hawa, begitu pula kesulitan yang diciptakan berpasangan dengan kemudahan 
Desti Adzkia
diBawahLangit, 1 Juni 2012_12:39

AnnidaOnline

Saturday, March 17, 2012

Sepenggal Rasa Tak Bernama

Kau tahu bagaimana rasanya menyimpan sesuatu tapi kau tidak bisa mengatakannya?
Sedang sesuatu itu terus merangsek, memenuhi setiap sudut dalam sebuah wadah bernama hati. Ia terus meracuni sel-selnya, memintamu untuk terus terperangkap di dalamnya. Kadang kau tersenyum bahagia, kadang tangismu meleleh meski tak tahu sebabnya, kadang kau merasa kesepian, kadang kau seperti berada dalam pikuk keramaian.
next story

Saturday, February 11, 2012

Jodoh Si Mata Elang



*Dimuat Islamedia Online 9 Januari 2012

Islamedia - Dinding yang menunjukkan pukul 01.00 dini hari, sudah larut tapi aku masih saja enggan untuk memejamkan mata. Aku memilih untuk merebahkan tubuhku, merenggangkan punggungku yang sudah terasa keram. Sekelebat wajah itu muncul, tidak asing, meski tidak pula terlalu familiar untukku. Beberapa kali pemilik sorot mata elang itu hadir menyambangi bunga tidurku. Aku menggeliat, tubuhku sudah tidak bisa diajak kompromi.

Diam. Hanya terasa hembusan angin yang memainkan anak rambutmu, dan juga ujung jilbabku mungkin. Kau bersandar pada sebuah batang pohon besar, menatap hamparan perkebunan teh yang menghijau. Keningku berkerut, untuk apa kau dan aku ada disini? Disaat pertanyaan itu menyembul-nyembul di benakku, kau menoleh. Kau berhasil merontokkan semua tanyaku, hingga kesadaranku pulih.

Read More?? Let's check it out!
http://www.islamedia.web.id/2012/01/jodoh-si-mata-elang.html

Thursday, December 29, 2011

Rekam Jejak Karya

16 Desember 2011 menjelang hari kelahiran saya...
sebuah buku kumpulan cerpen pertama, meskipun keroyokan ^^v
Terimalah persembahan dari saya, sebuah cerpen berjudul "Karenamu;Aku Kembali"

dalam kumcer "Setia Tanpa Jeda" ::



Pemesanan bisa di www.leutikaprio.com , cekidot!


Mau menengok puisi saya? Ada di sini! :)

Puisi "Sabda Cintamu" dalam antologi puisi "Senandung Waktu Subuh"




dan puisi "Rinai;Pelangi Senja" dalam






Terima kasih ^^v

best regard,

Desti Adzkia

Wednesday, November 9, 2011

Mitos and Me

Malam ini, gak tahu malam keberapa saya menyanyikan lagu 'penantian panjang'nya Nikita Willy dan 'gantung'nya melly goeslaw... ini semua ekspresi kegalauan saya nunggu jadwal sidang yang entah kapan, hehe...
Kira-kira seminggu yang lalu saya kirim cerpen setelah stress skripsi blm di acc dosen juga, ya akhirnya saya cari pelarian---->lanjutin tulisan yang udah kesave lama tanpa ensing di folder 'harta karun' :)

And then... malam ini dapet email dari annida,
alhamdulillah cerpen saya dimuat lagi akhirnyaaaaaa.... ^^v
selamat menikmatiii

MITOS AND ME


“Hiyy… Jijik!” Dara mengumpat sambil melempar jasad binatang merayap itu ke sembarang arah setelah berhasil mendarat tepat di kepalanya. “Kenapa jatuhnya di kepala aku sih?!” tambahnya sebal.

Aku mengangkat bahu, “Itu tandanya kamu mau kena sial!” ujarku dengan tampang meyakinkan.

Mata Dara membulat, “WUAHAHAHA…,” seketika tawanya pecah. “Udah era K-Pop begini masih ada yang percaya sama begituan?” Ia masih menyisakan tawa, meledekku.

“Heh, kamu jangan ngomong sembarangan yah, Ra! Kata-kataku ini bener… kata ibu aku….”

“Stop, Mel. Itu mitos, gak usah dipercaya.”


http://annida-online.com/artikel-4369-mitos-and-me.html

Sunday, September 25, 2011

Ramdan di Bulan Ramadhan




“Kalo bulan bisa ngomong, dia pasti ngasih tau kamu kalo aku cinta kamu." Ramdan tersenyum puas, karena telah berhasil meniru kata-kata rayuan gombal Babehnya yang telah berhasil memikat Emaknya tempo dulu; disaat dia belum lahir.

"Gombaal.." Mini membuang muka, jual mahal.

"Beneran. Ini bulan puasa, masa boong?" Ramdan menunjukkan ekspresi serius-bener aku gak bohong, tanya aja Pak Ustadz Romli, Pak Haji Marzuki, Bang Somad yang hansip sampe anak-anak yang pake seragam merah putih aja tahu kalo sekarang emang lagi bulan puasa!

"Buktikan dong kalo kamu cinta aku!"

"Gimana buktiinnya ya?" Ramdan garuk-garuk kepala; sok-sok mikir padahal kepalanya emang lagi gatel karena ternaknya di kepala sudah harus di panen pake peditox.

"Beliin aku cokelat 1 karung." Ujar Mini membuat mulut Ramdan menganga karena kaget.



Gubrakh! Gedebuk! “AWWWW!” Ramdan mengaum layaknya serigala di tengah hutan yang tengah mencari mangsa sambil mengusap-ngusap kepalanya yang baru saja menyium ujung meja belajar. Ah ternyata hanya mimpi, aduh.. akhir-akhir ini si Mini selalu hadir mengusik malam-malamnya. Sebenarnya ia bersyukur karena wajah Mini yang manis bin imut itu emang gak bikin bosen buat di ajak ke alam mimpi setiap malem. Tapi kadang cewek gebetannya yang rumahnya di gang sebelah itu suka gak tau diri kalo lagi bertamu ke mimpi orang. Malam ini dia minta dibawain cokelat sekarung, kemarin minta dibawain pisang goreng satu gayung-gimana bisa coba? Orang Mpok Minah di warung sebelah kalo jualan pisang goreng gak pake gayung! Yaiyalah. Gayungnya kan dipake mandi!



Tapi namanya juga cinta, kotoran ayam juga serasa cokelat. Di tengah khayalannya tentang Mini, kata-kata sahabatnya si Miun, remaja mesjid di kampungnya terngiang di telinga ‘bulan puasa, nggak boleh pacaran’. Astagfirullah, betul juga. ‘Tapi kalo kangen, boleh dong’. Sekarang suara si Dandy, playboy kampung cap ikan lele menimpali suara Miun. Iya juga sih. Apalagi ama cewek imut yang bawelnya bukan main itu. Suara si Miun dan si Dandy saling beradu di telinganya. Ramdan pusing. Tapi akhirnya dia sudah bertekad dalam hati: nanti pas tarawih, aku akan menunggunya di ujung gang dan ajak dia makan somay di bawah pohon jambu klutuk sambil liat orang-orang pasang petasan. Malahan, malam takbiran nanti, aku akan ajak dia pukul bedug keliling kampung naik truk. Prefecto! Bayangan Mini kembali berkelebat, Miun sama Dandy masih adu mulut. Sementara Ramdan sudah asyik dengan mimpinya bersama Mini di episode selanjutnya.



“Mini, bapaknya tukang sendok ya?”

“Hah, darimana abang tau?”

“Karena kamu telah mengaduk-ngaduk hatiku…”

***



Saat tarawih tiba, Ramdan sudah menyiapkan penampilan terbaik. Minyak wangi Babehnya disiram semua ke baju koko satu-satunya. Rambutnya klimis, sesekali latihan senyum tiga jari kayak di iklan pasta gigi menganggap cermin di hadapannya adalah Mini sang pujaan hati. Ramdan celingak-celinguk setelah rakaat terakhir tarawihnya, ia berhasil menangkap sosok Mini keluar mesjid. Ia bergegas ke tempat sandal, mencari sandal yang baru ia beli tadi pagi di pasar kaget. Matanya bergantian menatap sandal;Mini, sandal;Mini, sandal:lho Mininya mana?? Ia mengucek-ngucek matanya, Mini yang tadi masih mengenakan mukena putih sudah menghilang ditelan ujung gang. Ia harus segera mengejar Mini sebelum gebetannya itu balik ke rumah.



Tapi ternyata selain Mini yang sudah menghilang, sandalnya pun raib entah kemana. Alhasil Ramdhan memilih pulang ke rumah daripada mempermalukan diri ngejar gebetan tanpa alas kaki; alias nyekermen. Ramdhan melangkah lesu meninggalkan abang somay yang sudah mangkal di bawah pohon jambu kelutuk sejak tadi.



“Kagak jadi ngapelin si Mini?” Miun yang lagi nongkrong di teras rumah menyapanya.

“Sendal gue ilang di mesjid, si Mininya juga uda pulang duluan.” Jawab Ramdhan pasrah.

“Loe sih, Dan! Niat ibadah kok buat ketemu cewek. Dibales langsung tuh!”

“Gue sholat kok tadi…”

“Iya emang loe sholat, semuanya juga tahu. Tapi niat loe dalem hati cuma Allah yang tahu, loe sholat buat Dia apa Mini?”

Ramdhan tertunduk, sejak awal memang ia ngebet pengen nemuin Mini, ya salah satunya dengan taraweh di mesjid yang biasa didatengin sama si Mini.

“Ya udah, Allah itu penerima tobat, apalagi ini bulan puasa… semua doa loe bakal dikabulin. Cepetan dah lurusin lagi niat loe, minta sandal loe balik, trus dijodohin sama si Mini.”

Ramdhan mengangguk, sambil menengadahkan tangannya ke langit dengan mulut komat-kamit.

“Amiiin.” Miun mengamini tanpa tahu isi doa Ramdhan. “Tuh sandal loe udah balik, ada di kantong kresek di bawah meja sono.” Tambahnya setelah Ramdhan menyelesaikan doanya.

“HAH?JADI LOE YANG NGAMBIL SENDAL GUE?”

“Cuma mengamankan, supaya loe sadar niat loe itu gak baik. Hehe.”

“Doa di bulan puasa beneran dikabulin?”

“So pasti itu!”

“Doa apa aja?”

“Apa aja.”

“Gue tadi doa yang ngambil sandal gue bakal diseruduk sapi, jatoh ke sumur kagak ditemuin tujuh hari tujuh malem.”

“APAAA?”

Ramdhan mengangguk polos.

Gedubrak! Miun sukses pingsan di tempat.***






Semoga terhibur :)



Desti Adzkia

alhamdulillah sudah dimuat di majalah story edisi 25 tanggal 25 agust-24 sept 2011 dalam KISSING (KISahSINGkat)

*pada notes ini tulisan asli sebelum pengeditan redaksi

dibalik layar cerpen dadakan, cekidot ---->>>
http://aliyaadzkia.blogspot.com/2011/09/kisah-dibalik-cerpen-dadakan.html

Wednesday, July 27, 2011

Aku Ingin Kembali




”Hey, gak boleh melamun!” aku menyikut Aldisa, adik kelasku di SMA dulu. Kini ia sedang mengurus administrasi di kampus yang sama denganku.

“Eh iya, Mbak.” Ia tersenyum, tapi lalu mengembalikan tatapannya ke posisi semula. Aku sadar betul apa yang diperhatikannya. Seorang wanita berjilbab besar dengan gamis marun sedang khusyuk membaca Al-Qur’an. Ia memang tampak menyejukkan di tengah KRL ekonomi yang pengap dan gersang. “Aku kagum mbak sama mereka itu.” Ujar Aldisa bersemangat. “Kemarin, waktu aku pertama kali nyampe Jakarta, aku ketemu sama mbak-mbak kayak gitu. Nyapa aku ramah banget, mungkin kasian liat wajah ndeso-ku ya mbak.” Tambahnya lugu.

“Hati-hati, Nduk. Mereka nyapa ada maunya!” jawab Rina sahabatku dengan ketus, menatap sinis ke arah wanita yang mengaji itu.




See More??
Klik this link --> http://www.islamedia.web.id/2011/07/aku-ingin-kembali.html





Sunday, July 17, 2011

Mode Paris


Ini cerpen terbaru saya yang dimuat di Annida, sebenernya awalnya cerpen ini berjudul "Jilbab Paris, Nay!" tapi mungkin karena judul itu kurang menjual menurut redaksi, jadi diganti oleh redaksi annida menjadi "Mode Paris". Sa
ya sih oke2 aja selama perubahan ini tidak merubah esensi nilai yang ingin saya sampaikan di cerpen ini, so... check it out!!

“Rambut lu baru dipotong ya?” ujar Adi yang tiba-tiba saja muncul di depan hidungku, tempe goreng yang sedang kukunyah merangsek masuk ke tenggorokan, alhasil aku batuk-batuk karena keselek.

“Heh, sok tahu banget!” aku mengumpat setelah meneguk segelas es teh teman makan tempe goreng tadi.

“Hahahaha…padahal kalo cewek itu bagusan rambut panjang lho…” ia tertawa girang sekali sambil ngeloyor pergi. Mukaku berlipat tujuh. Mana mungkin ia tahu kalau baru kemarin sore aku memotong rambut menjadi sebahu? Apa Adi memergokiku masuk salon? Tapi kan salon langgananku itu salon khusus perempuan. Selera makanku hilang seketika. Kutinggalkan satu potong tahu goreng di piringku, segera kembali ke kelas mungkin pilihan yang tepat.

Di kelas, dua sahabatku sedang ngobrol seru sekali; atau lebih tepatnya penuh emosi karena ada acara gebrak-gebrak meja segala. Pastilah itu kerjaannya si Tami yang tomboy abis, terdengar nama Adi disebut-sebut akupun langsung bersemangat menghampiri mereka untuk mengadukan kekesalanku atas insiden di kantin tadi. Mereka yang menyadari kedatanganku segera menarikku ikut bergabung ke obrolan seru mereka.

“Kalian ngomongin apa sih?”

“Itu si Adi kurang ajar banget!” ujar Tami geram. Aku memilih menunggu ia melanjutkan kata-katanya. “Dia tukang ngintip!”

“Haaaa?” mulutku menganga lebar. “Dapet kabar darimana?”

“Iya Nay, Tami bener!” Tasya menjawab yakin, lalu mengalirlah cerita itu darinya. Cerita yang sebenarnya hampir mirip dengan yang aku alami di kantin tadi. Saat itu Tasya dan Tami sedang duduk-duduk di depan kelas, dan Adi si manusia iseng itu tiba-tiba muncul. “Sya, tumben rambutnya gak dikepang?” ujar Adi yang digambarkan berekspresi sangat menyebalkan oleh Tasya. “Tam, loe sekali-kali dikepang dong kayak Tasya. Jangan dikuncir kuda melulu! Oh iya gue lupa, rambut loe kan pendek ya? Hahaha….” Manusia iseng itu kabur sebelum kena bogem mentah Tami. Aku masih belum mengerti darimana Adi tahu bagaimana bentuk rambut kami. Kami ini kan biar dijuluki genk anak gaul di kelas tetap berusaha menjadi muslimah yang baik dengan mengenakan jilbab mulai lebaran tahun lalu.

“Bener Tam, gue yakin banget kalo dia ngintipin kita!” Tasya masih memaksakan hipotesisnya ke Tami. Bel masuk setelah istirahat berbunyi nyaring, semua teman sekelasku masuk kelas berebutan. Seperti sekawanan rusa yang lari terbirit-birit dikejar serigala. Bunyinya mengganggu sekali. Seseorang yang jadi bahan obrolan kami bertiga itu masuk dengan tampang innocent sambil nyengir kuda. Otomatis tiga pasang mata melotot ngajak ribut.

***

Sepulang sekolah, seperti biasa aku dan kedua sahabatku itu tidak langsung pulang. Kami akan duduk di pinggir lapangan untuk menonton eskul basket latihan sambil menyeruput teh botol.

“Neng-neng cantik gak pada pulang?” kami bertiga refleks menoleh ke arah suara yang sangat familiar itu secepat kilat.

“Heh, jangan cari gara-gara lagi ya, Di!” Tami naik pitam.

“Oh.. santai bos..” Adi mencoba menenangkan Tami yang sudah bersiap mengeluarkan jurus karatenya. “Emangnya gue ada salah apa?” tanyanya enteng membuat mata Tami makin menyala.

“Loe ngintipin kita kan?!” teriak Tasya cempreng hingga membuat beberapa orang di sekitar kami melirik lalu kasak-kusuk di belakang. Rasanya aku ingin menyumpal mulut Tasya kalau aku tidak ingat ia juga sahabatku.

“Haaaah? Buat apa?”

“Buktinya loe tau rambut kita bertiga, ayo ngaku!” Tasya buka mulut lagi. Aku menepuk jidat. Tami menghela napas. Kasak-kusuk makin ramai.

“Buat tahu itu gak usah repot-repot pake ngintip segala kali, Sya.”

“Maksud loe?” kami bertiga hampir bersamaan.

Adi tersenyum bagai berada di atas angin, sangat menyebalkan! “Iya, loe tanya Rahmat yang notabene ketua Rohis kita juga dia pasti tahu. Jilbab kalian itu transparan, jadi bisa keliatan. Katanya mau nutup aurat, tapi kok gak menyeluruh. Kalo gitu sama aja kayak si Elisabeth, bisa ketahuan dia hari ini dikuncir apa gak, lurus apa keriting. Haha….”

Wajahku memerah. Sementara Adi ngeloyor pergi setelah membuat kami seperti kepiting rebus yang siap diserbu para pemburu berita. Rencana kami menonton basket dibatalkan mendadak, Tami berjalan sambil mencak-mencak di depanku. Tasya tampak seperti orang linglung memperhatikan Tami marah. Aku? Rasanya ingin menangis guling-guling di lantai sambil menggaruk tanah jika tidak ingat malu.

Sepanjang perjalanan pulang, tak ada yang bersuara. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Terlebih pikiranku yang sudah melayang ke beberapa bulan silam, saat kakak perempuanku bersiap kembali ke Malang setelah libur panjang kuliah.

“Aku gak suka jilbabnya, gak modis!” aku merenggut di kamar sambil membiarkan jilbab merah muda tersungkur begitu saja di tempat tidurku. Ibuku membujuk untuk menerima pemberian kakakku itu, sementara kakakku sedang menonton tv di ruang tamu.

“Loh, ini kan warna kesukaanmu…” ujar ibu sambil membeberkan jilbab tebal dan besar berbodir bunga di tepiannya. Aku menggeleng bersikukuh menolaknya. Tidak lama kemudian, kepala kakakku nongol dari balik pintu. “Ya sudah, kalau gak suka ya gak usah dipake. Kenapa jadi ngambek?” ujarnya cuek.

“Aku kan minta dibeliin jilbab paris warna pink, kenapa malah yang begini?!” jawabku sewot.

“Ini bagus lho, harganya juga lebih mahal dari jilbab paris…” bela ibuku.

“Jilbab paris itu tipis, menerawang kalau dipake.” Tambah kakakku lagi, aku menutup telinga. Tahu apa kakak tentang gaya terupdate? Lihat saja bajunya yang gombrang-gambreng, penggunaan jilbabnya juga begitu-begitu saja, hanya berubah bros dan warna. Meskipun aku terinspirasi menggunakan jilbab dari kakak, tapi aku sudah bertekad tidak akan menggunakan jilbab kuno seperti kakak.

“Jilbab kalian itu transparan, jadi bisa keliatan. Katanya mau nutup aurat, tapi kok gak menyeluruh”.
Kata-kata Adi mengingatkanku pada pesan kakak kala itu yang tidak pernah kugubris. Air mataku meleleh, antara rasa malu dan menyesal. Sudah setahun aku berjilbab, ternyata sama saja seperti sebelumnya. Bahkan Adi menyamakan aku dengan gadis non muslim yang notabene tidak menggunakan jilbab.

“Kuno itu presepsi siapa sih, Nay? Cuma karena model pakaian kakak tidak sama dengan mode orang-orang barat sana, lantas kakak dikatakan kuno?” begitu tanya kakakku saat aku memprotes cara berpakaiannya.

Teman sekelasku, Airin yang penampilannya persis kakakku ketika kutanya tentang jilbab panjangnya yang menurutku sangat panas memiliki jawaban yang membuatku semakin mantap berjilbab. “Setahu saya, perintah menutup aurat yang ada di Al Qur’an itu ya begini, Nay. Orang puasa juga lapar, Nay. Tapi apa karena lapar maka kita boleh berbuka? Begitupun berjilbab, merasakan panas pasti, tapi apa itu bisa menjadikan alasan seseorang membuka jilbabnya?”

“Nayu nangis?” Tasya tiba-tiba mengejutkanku, aku segera mengucek mataku yang basah.

“Aku gak papa, Sya.” Jawabku mengelak. Padahal kami sama-sama mengerti, tidak ada yang tidak kenapa-napa setelah insiden tadi.

***

Aku marah. Kenapa harus Adi yang menegurku? Kenapa anak selengean yang tidak lebih baik dariku yang justru berkata seterus terang itu tentang jilbabku? Bukankah ia juga bukan anak alim macam Rahmat atau Airin yang tercatat sebagai anggota Rohis?! Lantas bukankah masih banyak teman-teman di sekolahku yang menggunakan jilbab serupa dengan kami, malah banyak pula yang belum menggunakan jilbab. Kenapa ia tidak urusi gadis-gadis yang belum teketuk hatinya itu untuk menggunakan jilbab?

Aku menutup wajahku dengan bantal. Ingin meledak rasanya membayangkan apa yang akan dikatakan teman-teman satu sekolah yang kemarin memergoki kami berempat beradu mulut di pinggir lapangan basket hari senin nanti.

“Hmm… jangan pernah berpikir kita lebih baik dari orang lain, Nay. Harusnya kamu berterima kasih sama temanmu itu karena telah diingatkan. Mungkin Adi hanya ingin teman seaqidahnya menjalankan agamanya dengan baik.” Ujar kakakku di seberang sana setelah aku menceritakan kejadian itu padanya. Kok malah belain orang lain! Batinku kesal.

“Kalau Airin atau Rahmat mungkin aku masih terima, Kak. Tapi ini Adi Kak, yang sholatnya aja mash bolong-bolong!” aku meracau sekenanya.

“Yakin kalau mereka yang ngingetin, kamu akan terima? Jangan-jangan kamu malah akan bilang ‘ngapain sih ngingetin aku, sok alim banget! Berasa ahli syurga aja’ hehe.” Kakakku terkekeh dibalik telepon.

“Kok kakak ngomongnya gitu sih?!”

“Iya maaf… pesan kakak satu aja deh sebelum kamu ngambek lagi dan nutup teleponnya sepihak. Jangan lihat siapa yang memberikan nasihat, tapi lihat apa isi nasihatnya. Okey?”

Aku terdiam. Benar, bagaimanapun sebenarnya kata-kata Adi itu benar. Hanya saja aku yang naïf tidak mau menerimanya karena merasa lebih baik darinya. Astaghfirullah…

Aku mengeluarkan jilbab paris berbagai warna dari dalam lemariku, memasukkannya ke dalam kardus lalu meletakkannya di depan pintu gudang belakang. “Loh, Nay itu mau dibawa kemana?” tanya ibuku melihat aku membawa kardus besar.

“Dibuang, dibakar juga boleh!” jawabku enteng. Ibuku mgeleng-geleng melihat kelakuanku, mungkin ingat saat aku merengek-rengek minta uang untuk beli jilbab-jilbab itu.

“Kenapa dibuang, Nay?” sebuah suara dari ruang tamu membuatku menoleh.

“Kak Nissa?” aku terkejut melihatnya tiba-tiba saja muncul dengan jilbab biru muda. Pantas saja backsound saat di telepon tadi berisik sekali, rupanya ia sedang dalam perjalanan pulang!

Mataku menyipit, sadar akan sesuatu. Bukankah yang dikenakan kak Nissa itu jilbab paris juga? Aku segera menyerbu ingin memegang jilbab yang dikenakannya untuk memastikan.

“Ada banyak cara untuk tampil ‘modis’ tapi tetap syar’i!” ujarnya seolah mengerti apa yang aku pikirkan. Aku mengangguk sambil kembali mengangkat dus berisi jilbabku ke dalam kamar.

“Eh, itu buat kak Nissa aja sini…” goda Kak Nissa yang membuatku semakin cepat melangkahkan kaki masuk ke kamar. Hanya butuh lapisan untuk membuatnya tidak transparan! Bisikku senang. Bukankah aku ingin masuk syurgaNya dengan sempurna, bukan setengah di syurga dan setengahnya lagi di neraka panas menyala, maka kenapa perkara wajib seperti ini masih kutawar-tawar? Tekadku bulat untuk menyempurnakan cara berjilbabku, aku ingin tampil keren di mata Allah, bukan keren di mata manusia.



diBawahLangit, 20 Juni 2011


http://annida-online.com/artikel-3456-mode-paris-.html

Bulan Sempurna Membulat di Negeri Jiran


Bulan sempurna membulat, memberikan warna berbeda pada lukisan langit yang hanya berwarna hitam. Meski sekeliling yang aku lihat penuh lampu gemerlap, namun tak pernah ada lampu yang akan menggantikan posisi terindah bulan di mata manusia manapun. Selain itu, alasannya adalah karena bulan hanya satu. Dimanapun kita melihatnya, sejauh apapun jaraknya, hanya satu bulan yang dilihat. Terlebih aku yang terdampar di negeri orang ini, sendirian, tanpa sanak saudara. Pedih memang, ketika harus memutuskan untuk merantau ke negeri asing. Tapi aku tahu, akan lebih pedih tinggal di tempat yang sama dengan luka yang menganga.

lanjutkan??? http://www.islamedia.web.id/2011/03/bulan-sempurna-membulat-di-negeri-jiran.html

Dua Penghujung Hati


Pucuk daun teh dengan tetesan embun di atasnya, harum aroma kesejukan di pagi hari tanpa gas karbon dioksida membuat seluruh syaraf di tubuhku rileks. Sedikit melupakan rinduku pada kehangatan seseorang, sosok yang setahun kebelakang selalu ada di sisiku, menemani hari-hari yang sebelumnya kosong. Suara merdunya saat membacakan ayat-ayat suci di waktu subuh, mengingatnya membuat hati ini semakin tidak rela. Rabb,,,bantu aku mengikhlaskannya…dan kelak bila Engkau berkenan menginjakkan kakiku di syurgaMu, pertemukanku dengannya.
“Nesha… sampai kapan kamu akan seperti ini?” suara lembut itu… aku mengenalnya! Tak butuh satu detik otakku untuk menerjemahkan pemilik suara itu. Aku menoleh, menatapnya tak percaya. Menatap wajah teduh milik seseorang yang berwajah kaku ketika meminangku setelah melewati masa ta’aruf yang cukup singkat setahun yang lalu.

Buka link ini untuk baca lanjutan ceritanya --> http://www.islamedia.web.id/2011/03/dua-penghujung-hati.html

Sebuah Nilai


Sebenarnya kehadirannya biasa saja, layaknya karyawan baru yang datang dan pergi. Tak ada yang istimewa, kecuali penampilannya yang super aneh. Namun keanehan itulah yang membuatnya berbeda, diantara gadis-gadis cantik dengan pakaian serba minim. Ia laksana oase di tengah padang pasir… jilbabnya yang tampak kebesaran, baju-bajunya yang longgar dan kaos kaki yang selalu menyelimuti kakinya. Penampilan yang sangat tidak biasa di lingkungan kantor sebuah televisi swasta, yang penuh hedonisme. Tidak sedikit yang rela menanggalkan jilbab-jilbab modisnya untuk bisa diterima di kantor ini dengan gaji dan prestige yang menggiurkan. Namun ia hadir, bekerja professional dengan prinsipnya yang teguh : penampilannya adalah bukti dari keteguhannya. Meski tidak sedikit yang meremehkan dan memandang sebelah mata ketika melihatnya, ia tetaplah Adisa Malika yang professional dan low profile, tempat bertanya dan curhat rekan wanita di kantornya.
....... See more???
Klik this link : http://www.islamedia.web.id/2011/01/sebuah-nilai.html

Penyesalan Rintan


“Gaji kok meleset terus sih? Terus kita kasih makan apa si Kesya, kalo kamu kerja gak ada hasilnya gini?” aku setengah berteriak menghardiknya, mungkin ini akumulasi kekesalanku karena semenjak menikah, suamiku itu memaksaku untuk berhenti dari pekerjaanku sebagai public figure dengan alasan kecemburuannya yang menurutku sangat tidak masuk akal! Aku harus meninggalkan kehidupan gemerlap, mundur dari pesta berkelas, menghempaskan karirku yang sedang naik daun karena satu judul sinetron stripping yang aku lakoni, kehilangan para fans fanatik yang terkadang memberikan barang-barang mewah yang aku inginkan. Semuanya hilang karena satu kalimatnya; aku begitu mencintaimu itulah alasan kenapa aku sangat cemburu melihatmu dengan kehidupan gemerlapmu.

Check it out -->
http://annida-online.com/artikel-2752-penyesalan-rintan.html

Friday, January 21, 2011

Ketulusan di Tepi Trotoar



Aku terpaku menatap tumpukan tanah di sebuah tanah lapang di pinggiran kota Solo. Di atas tumpukan tanah itu mencuat satu batu berukuran sedang, sebagai tanda sederhana bahwa itu tempat peristirahatan seseorang. Tempat peristirahatan sementara setiap manusia yang ingin bertemu Tuhannya. Air mataku meleleh, seseorang yang sangat ingin aku temui telah pergi… bahkan bukan sekedar ingin kutemui, aku sangat ingin memeluknya dan mengucapkan terima kasih.
“Ia bilang, akan ada seseorang yang mencarinya. Seorang mahasiswi cantik dan baik hati, apa itu Mbak?”
“Dia berlebihan, dialah yang sebenarnya baik hati.” Aku menjawab pendek. “Kapan ia pergi?”
“Dua bulan yang lalu, ada flek di paru-parunya selain karena gegar otaknya akibat kejadian itu…”
“Gegar otak? Kejadian apa?”
“Ia dipukuli warga karena diteriaki maling oleh ibu tirinya, beruntung sebagian warga lain berhasil menyelamatkannya. Tapi, ia menderita gegar otak, hanya beberapa hari setelah itu… ia menghembuskan nafas terakhirnya.”
Tangisku semakin menderas, dipukuli?? Diteriaki maling?? Pastilah setelah itu, setelah ia menyuruhku pergi untuk membeli tiket pulang. Pastilah kejadian itu saat aku sedang terduduk manis di gerbong kereta api menuju Bogor, tempat tinggalku. Disaat aku tengah buncah bahagia karena bisa pulang setelah kecopetan yang meraibkan semua barang bawaanku. Namun saat itu pula aku resah, ingin cepat sampai di rumah lalu secepatnya kembali, ke tempat aku meninggalkan anak lelaki itu sendirian, di bawah pohon rambutan yang tengah berbunga…

Lemas. Aku terduduk di trotoar tanpa mempedulikan orang-orang di sekelilingku. Toh mereka pun acuh tak acuh lalu lalang berlalu begitu saja di depan wajahku yang mendung. Dengan wajah yang campur aduk antara bingung, sedih, marah, pikiranku terus menerawang. Tak ada uang sepeserpun di tanganku, handphone lenyap tak berbekas, barang bawaanku tertinggal di kereta karena aku terlalu bersemangat mengejar pencopet itu hingga tidak sadar aku baru saja keluar dari kereta yang akan membawaku ke Yogyakarta dan hanya dalam hitungan menit, kereta itu sudah melaju lagi. Lalu aku dengan sukses melakukan hal bodoh itu.
“Kakak orang baru ya?” sebuah suara kecil menyapaku, bau keringat dan panas matahari menyeruak agak mengganggu indera penciumanku. Anak laki-laki yang kira-kira berumur belasan tahun duduk tepat di disampingku sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan topi lusuh senada dengan lusuhnya pakaian yang dikenakan. Rupanya ini yang menyebabkan tanganku refleks menutup hidung, rasanya aku ingin membentaknya karena dengan semena-mena menyebarkan aroma tidak sedap padaku yang sedang kesal. Orang baru katanya?? Hey, apakah gaya pakaianku sangat kampungan sehingga anak ingusan berumur jagung itu mungkin mengira aku adalah salah satu pelaku urbanisasi dari kampung antah berantah. Aku memutuskan untuk tidak mempedulikan anak kecil itu.
“Saran saya, kakak pindah saja. Disini sudah banyak orang, lagipula setoran disini lebih mahal dari tempat lainnya.” Ujar anak itu sok tahu. “Apalagi kakak ini terlalu rapi untuk menjadi pengamen, terlalu bersih untuk menjadi seorang pengemis, dan… kurang sexy untuk menjadi…” sebelum anak menyebalkan itu melanjutkan kata-katanya, aku langsung memotongnya brutal.
“Hey! Cukup.” Aku setengah berteriak. Tapi wajah marahku berubah menjadi seperti orang linglung ketika tak lagi kulihat ia duduk di sampingku. Kulihat ia tengah melangkah menjauh dariku, syukurlah…sebaiknya anak itu pergi jauh saja daripada menambah masalah. Namun tidak lama kemudian ia kembali, menyodorkan segelas minuman dingin yang menggoda tenggorokanku yang memang kering sejak tadi.
“Buat Kakak.” Ujarnya lugu sambil memasukkan permen lolypop merah jambu ke mulut mungilnya. Ragu-ragu aku mengambilnya, “Terima kasih.” Dan aku berhasil meneguk habis minuman itu dalam hitungan detik.
“Saya baru saja kecopetan.” Terangku tanpa ditanya, berusaha menghapus keburukan perlakuanku tadi padanya.
“Saya tahu.” Jawabnya sambil asik menikmati permennya. Aku menatapnya takjub, ia baru saja membantuku melepaskan dahaga tanpa aku minta. Bahkan ketika semua orang tidak peduli dengan kesedihanku yang baru saja mendapatkan musibah, ia tiba-tiba saja datang menyapaku meski aku bertampang sangat tidak bersahabat. Ya Tuhan, Hasnaa… kau sungguh naïf! Aku mengutuk diriku sendiri. Bukankah anak ini seumuran dengan adik bungsumu?? Husnaa yang lucu dan lugu itu. Ya. Ia hanya seorang anak kecil layaknya anak-anak lainnya, hanya saja mungkin nasib yang membuatnya berbeda. Ia dilahirkan di lingkungan yang tidak mendidiknya menjadi anak lembut dan menyenangkan seperti Husna. Sebaliknya ia dilahirkan di tempat yang keras, yang memaksanya untuk dewasa sebelum waktunya. Namun lihatlah, anak kecil selalu saja baik, bagaimanapun caranya ia telah menolongku.
“Kok bisa?” tanyaku heran, mungkin saja anak ini hanya sok tahu.
“Saya sering melihat orang-orang seperti kakak, merenung sendirian di tepi jalan dengan pandangan kosong. Mereka biasanya akan terlantar dan berakhir di jalanan, ada yang niatnya menjadi karyawan, pengusaha, bahkan konglomerat hanya berakhir menjadi kuli bangunan, pengamen, pengemis, pelacur, bahkan menjadi pencopet seperti yang dilakukan orang di masa lalunya disini.”
“Tapi saya berbeda, saya mahasiswi.”
“Status kakak yang mahasiswi itu tidak memiliki pengaruh apa-apa disini, kalau kakak tidak punya uang.”
Ardi, anak kecil yang baru saja memperkenalkan diri secara sepihak itu cukup cerdas untuk anak seumurannya. Bahkan jawaban-jawabannya sangat bagus untuk anak jalanan yang lahir dan tinggal di lingkungan tidak berpendidikan. Seorang anak jalanan, telah ditinggalkan ibunya ketika berusia 4 tahun yang ia tidak mau mengemukakan alasannya. Setahun kemudian ayahnya pun pergi, berbeda dengan ibu yang pergi karena dipanggil penciptaNya. Ayah dipanggil oleh seorang wanita genit yang dinikahinya. Maka sejak itu, sejak umur lima tahun ia sudah lekat dengan kesendirian di jalanan yang keras. Mengemis, mengamen, bahkan mencopet pernah dilakoninya. Jam terbangnya cukup tinggi untuk seorang pencopet cilik, namun kini ia lebih memilih menjual Koran. Meski ia tahu pendapatannya sangatlah kecil dibandingkan mencopet, namun gurunya bilang itu lebih baik karena halal. Entahlah siapa seseorang yang ia sebut guru itu, pastilah seorang hebat yang mampu merubah Ardi dan menanamkan kebaikan di hati anak kecil ini. Meski aroma tidak sopannya masih tetap ada, terbukti dengan pernyataannya sok tahunya tadi.
###
“Kakak pasti lapar?” Tanya Ardi seusai aku menunaikan sholat ashar di mesjid terdekat saat itu. Aku mengelus perutku, apakah suara cacing-cacing ini terdengar oleh telinga Ardi. Tanpa basa-basi aku mengangguk, aku sangat lapar.Ardi tersenyum, dan memberi isyarat agar aku mengikutinya. Aku kira ia akan mengajakku ke warteg atau warkop yang biasanya hanya menyediakan menyediakan mie rebus atau mie goreng, apapun itu aku akan melahapnya. Tapi lihatlah, anak jelek dan kucal ini membuatku terpaku di depan pintu kaca otomatis berlogo sebuah merk ayam goreng terkenal, frenchise dari luar negeri sana. Yang di Negara asalnya didemo habis-habisan karena dianggap tidak sehat, namun sebaliknya di negeri ini semua memujanya. Ya, ayam goreng merk import ini memiliki prestige tersendiri di sini.
“Kita makan disini?” aku mengeluarkan pertanyaan bodoh.
“Menurut kakak?” jawab Ardi tersenyum menggoda.
Aku menggeleg cepat, rasanya aku belum siap harus cuci piring atau ditangkap polisi karena tidak bisa bayar. Namun dengan cepat anak itu menarik lenganku dan berhasil membuatku berdiri di sampingnya yang sedang asyik memilih menu, dilayani oleh seorang waiters berwajah jutek.
“Mau pesen apa?!” tanyanya ketus. Aku tersentak, para waiters yang biasanya berwajah ramah dan selalu tersenyum menyambut konsumen tiba-tiba berubah menjadi seseram monster. Kalau saja di kantongku masih tersisa dompet, aku sudah menyumpal mulutnya.
“Mmm.. kalau paket A itu isinya apa?” jawab Ardi masih menatap gambar-gambar menu yang terpampang, semuanya tampak enak.
“Ayam, nasi, softdrink. Harganya sepuluh ribu.”
“Kalau paket B?”
“Ayam, nasi, kentang goreng, softdrink. Lima belas ribu.”
Ardi mengangguk-ngangguk, wajah sang waiters semakin berlipat. Konsumen baru datang, Ardi ditinggalkannya. Ia tersenyum sangat manis, menyapa dengan suara lembut. Berbeda sekali dengan pertanyaannya ke Ardi tadi, mungkin karena konsumen yang kini datang adalah seorang Koh Cina yang kelihatannya berdompet tebal. Ia kembali pada Ardi yang masih berdiri mematung memandangi aneka menu, “Jadi pesen yang mana?!” kembali ketus, mungkin ia berkepribadian ganda! Atau mungkin menurutnya hal itu pantas dilakukan kepada anak kecil miskin di hadapannya, padahal gajinya pun tidak seberapa. Mana boleh memandang rendah begitu, aku geram.
“Kalau softdrinknya diganti teh manis bisa?”
“Ya bisa, jadi harganya tiga belas ribu.”
“Hmmm…. Kalau begitu pesan paket A aja dua porsi ya.” Order Ardi akhirnya.
Waiters itu menggerutu, mungkin kesal karena sudah banyak tanya tapi pesannya yang murah-murah juga. Menghabiskan waktunya mungkin, padahal ia juga tidak sibuk-sibuk amat, pikirku mangkel melihat wajah sombongnya. Lalu Ardi mengambil uang dari saku mungilnya, seperti yang kuduga : semuanya uang receh. Ia menghitungnya satu-satu di atas meja kasir, cukup lama sampai akhirnya terdapat dua gunduk uang receh, dua puluh ribu rupiah dan sepuluh ribu rupiah di sebelahnya.
“Ini dua puluh ribu bayar ayamnya, ini sepuluh ribu untuk mbak karena sudah membantu saya bisa makan ayam goreng disini…terima kasih ya mbak.” ujar Ardi sumringah.
Aku terkesiap, tidak percaya dengan apa yang kulihat. Anak kusam, jelek, dan dianggap remeh tadi oleh sang waiters lebih memilih menu termurah dan memberikan sisa uangnya pada waiters yang jelas-jelas bersikap tidak ramah tadi! Subhanallah… mataku berkaca-kaca, ingin segera memeluknya erat, namun egoku mengalahkan keinginanku.
Kurasa waiters itu sama kagetnya denganku, mungkin kepalanya serasa ditimpa palu beton puluhan kilo. Bagaimana mungkin ia yang tadi sangat kesal dan meremehkan anak itu kini malah menerima ucapan terima kasih dan memberinya uang sepuluh ribu. Mungkin banyaknya memang tidak seberapa, namun orang-orang berdompet tebal sekalipun sangat jarang ada yang memberinya uang. Meski nilainya tidak seberapa di mata mereka, mereka lebih memilih mengantongi uang kembalian ke sakunya masing-masing. Mungkin untuk ditumpuk di pundi-pundi uang mereka. Tapi anak ini, ia sangat yakin uang senilai sepuluh ribu tidaklah mudah didapatkan oleh anak kecil macam itu. Butuh kerja keras dan pengorbanan yang banyak, ia berkaca-kaca. Tidak kuasa berkata apa-apa bahkan untuk mengucapkan terima kasih kembali.
Sementara aku semakin terpesona pada anak kecil berhati mulia ini, ia bahkan tidak menyadari kalau apa yang dilakukannya tadi sangat luar biasa untuk anak kekecil dia. Atau mungkin semua anak kecil selugu dia, berbeda dengan orang dewasa yang telah luntur ketulusannya?
“Ardi, kenapa kamu baik sekali pada kakak?”
“Saya hanya ingin ditemani makan disini, saya takut kalau sendirian. Nanti diusir satpam, kayak kemarin.” Jawab Ardi, aku geli sekaligus miris mendengarnya. Ya, baru saja Ardi menceritakan kalau kemarin siang ia juga berniat kesini sendirian, berbekal uang yang tadi ia bawa. Namun seorang satpam berkumis tebal malah menyuruhnya pergi, ia tidak percaya kalau Ardi hendak makan disana. Bapak satpam itu mengira Ardi akan mengemis atau setidaknya mengamen di dalam yang akan mengganggu pelanggan. Rupanya beginilah gambaran masyarakat kita, padahal sama-sama miskin, sama-sama kekurangan, tapi soal rendah-merendahkan rasanya nomer satu.
“Selain itu?”
“Tidak ada.” jawabnya cuek.
“Tapi apa tidak apa-apa uangnya dihabiskan untuk makan disini? Nanti setoran kamu?”
“Ini uang hasil tabungan saya, Ka. Keuntungan menjual Koran setiap hari, uang yang berhasil saya sembunyinkan dari preman-preman.”
Aku mengangguk, ya kehidupan jalanan memang tidak jauh dari aksi premanisme. Korbannya pun beragam dan yang paling banyak tentu saja anak ingusan macam Ardi. Aku sempurna menghabiskan hidanganku, dan Ardi masih asyik membersihkan piringnya. Aku memperhatikannya, mungkin ini kali pertamanya anak ini makan disini. Begitu banyak orang yang obesitas karena banyak mengkonsumsi junkfood, sementara di sisi kehidupan lainnya ada anak-anak seperti Ardi yang bahkan untuk pertama kalinya merasakan makanan ini. Mereka berteriak menyalahkan produsen, padahal jika saja mereka tidak makan berlebihan, jika saja mereka membagi makanannya pada orang lain yang kekurangan, mungkin perut-perut mereka tidak akan segendut sekarang.
###
Aku mendengus resah, bingung, rupanya setelah perutku kenyang terisi makanan. Kepalaku tetap pusing, memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke Bogor, atau setidaknya dapat melanjutkan kembali perjalananku ke Yogyakarta untuk daftar ulang masuk Universitas disana. Kalau saja aku ingat satu nomer telpon yang bisa kuhubungi, ada tapi satu-satunya itu adalah nomer handphoneku sendiri. Huh! Aku memang pelupa parah, aku bisa saja meminjam uang Ardi untuk menelpon orang rumah, namun masalahnya kini terletak pada memori-ku yang tidak menyimpan nomor keluargaku sendiri. Menyesal sekali terlalu bergantung pada memori handphone.
“Lalu bagaimana cara kakak untuk pulang?”
Aku mengangkat bahu, bingung hendak berkata apa. Tidak ada satu ide pun terlintas dipikiranku.
“Kakak ikut saya.”
Keningku berkerut, hal aneh apalagi yang akan dilakukannya??
Kami memasuki gang-gang sempit, aroma semerbak got penuh sampah tercium pekat. Pemandangan kumuh ini sangat sering kulihat di televisi, namun baru kali ini aku benar-benar menyaksikannya, bahkan merasakannya. Meski orang-orang yang berebut sampah sebagai mata pencahariannya itu bekerja tanpa menangis atau keluhan, tapi ini sangat miris. Bagaimana mungkin sebagian orang bekerja di lingkungan ber-AC, pulang pergi ke luar negeri, bahkan banyak yang gabut-gaji buta- tapi bisa makan enak hingga buncit. Sementara sebagian lain terpanggang matahari hanya untuk mendapat seperak dua perak uang, hanya sekedar untuk sesuap nasi yang bahkan tidak membuat kenyang.
“Kakak tunggu disini.” Ardi mamaksaku untuk tetap diam di tempat, tidak beranjak apalagi sampai mengikutinya masuk ke salah satu rumah kardus yang terletak beberapa meter saja dari tempatku berdiri.
“ANAK SIALAN! HEH, SINI LU! JANGAN KABUR!” suara teriakan itu menggema seiring dengan langkah kaki Ardi yang keluar dari rumah sekaligus asal suara itu. Ia melesat meninggalkan seorang wanita berkaos belel warna putih kusam dengan kain sarung, tangannya menggenggam kipas bambo yang ia tunjuk-tunjukkan ke arah Ardi lari. Aku tidak sempat menyaksikan apalagi yang terjadi karena Ardi dengan cepat menarik lenganku dan aku dengan terpaksa mengikuti langkah cepatnya, berlari entah mengejar atau dikejar apa. Tapi yang pasti jantungku saat itu berdetak sangat cepat, ada apa ini??
Kami berhenti di suatu tempat, agak jauh dari kumpulan rumah kumuh tadi. Aku terengah-engah, sangat lelah. Tapi tidak menyurutkan rasa penasaranku, “Apa yang kamu lakukan Ardi?! Kamu mencuri?!” aku berteriak marah.
Ia menggeleng takut melihat kobaran api di mataku, lalu terduduk di bawah pohon rambutan yang tengah berbunga. “Saya bukan pencuri.” Ujar Ardi pelan.
“Awalnya saya percaya itu, tapi sekarang? Setelah saya melihat peristiwa ini, apa kamu masih mau membohongi saya?!”
“Dia yang pencuri, wanita itu yang pencuri! Dia mencuri ibu saya, dia mencuri bapak saya, dia mencuri semua yang saya punya!!” mata Ardi memerah, mungkin menahan air mata yang hampir tumpah. Aku tidak mengerti dengan apa yang diucapkannya, namun tidak tega juga melihatnya.
“Ibu kamu sudah meninggal, ikhlaskan.. dan jangan jadikan alasan untuk berbuat buruk pada orang lain.”
“Ibu bunuh diri karena bapak nikah lagi, lalu wanita itu yang suruh bapak mengusir saya dari rumah. Adik saya yang masih bayi ditinggal di panti asuhan yang sampai sekarang saya tidak tahu tempatnya. Lalu apa saya salah mengambil ini? Mengambil milik ibu…” akhirnya ia menangis sesungukan. Aku terduduk lemas, anak sekecil ini… sudah harus menanggung derita sedemikian dahsyat.
“Ini punya ibu?” aku bertanya memastikan sambil menunjuk sebuah kotak kecil berwarna merah, sebuah tempat yang biasanya digunakan untuk menyimpan perhiasan. Tanpa kuminta, ia menyerahkan kotak itu padaku. Aku menerimanya, lalu membukanya perlahan, sebuah kalung emas yang entah beratnya berapa gram. Namun tetap saja ini benda berharga, meski mungkin harganya tidak semahal berlian, namun nilai historisnya.. sebuah benda kepunyaan orang tersayang selalu lebih berarti.
“Itu buat kakak, buat beli tiket pulang.”
Apa? Aku tercenung, tidak percaya dengan apa yang diucapkannya. “Kamu jangan bercanda, Ardi.”
“Saya serius, saya tahu rasanya kehilangan orang-orang yang saya sayangi. Saya tidak mau hal yang sama menimpa orang tua kakak, mereka pastilah merindukan kakak. Saya tidak mau nasib kakak berakhir di jalanan.” Ia menatapku tulus, aku tidak sadar kalau itulah salam perpisahannya. Salam terakhirnya untukku.

“Sayalah penyebabnya, saya bersalah…” ujarku lemah.
“Ia sudah tenang, sudahlah Mbak, tidak ada yang salah. Semua sudah takdir, bahkan ia meninggal dalam keadaan terbaiknya. Meninggalkan mengemis, mencopet, dan beralih menjadi tukang Koran. Ia bahkan sempat menolong orang, bukankah begitu?”
“Anda siapa?” tanyaku seraya menatapnya, seorang lelaki bersih dan rapi-pemandangan langka di pemukiman kumuh seperti ini.
“Saya warga kampung sebelah, kebetulan sudah menganggap Ardi adik sendiri. Ia sering ke rumah untuk sekedar diajarkan membaca dan mengaji.”
“Jadi Anda yang dipanggilnya sebagai guru itu?” aku menatapnya takjub.
“Setiap orang wajib menjadi guru bagi orang lain, memberikan contoh teladan, berbagi kebaikan, mungkin Mbak juga guru bagi Ardi atau sebaliknya, semoga Ardi pun menjadi guru bagi Mbak.”
“Ya, ia telah menjadi guru yang mengajarkan ketulusan pada saya.”
Lelaki itu tersenyum teduh, lalu meninggalkanku sendiri. Di bawah pohon rambutan yang kini tengah berbuah.
diBawahLangit, 9 Oktober 2010


yang ini juga pernah diikutkan lomba,, tapi lupa lomba apaan..hehe dan again.. gaka da kabar beritnya.. so dapat disimpulkan, 'gagal maning gagal maning' hehehe

“Seperti Bintang”



Matahari terik membakar kota Jakarta, aspal-aspal seakan mendidih. Panas, keringat Arinda berjatuhan. Jalanan padat merayap, bus kota padat penumpang yang hendak beraktivitas dengan kegiatannya masing-masing. Ah, sebenarnya enggan sekali ia berangkat siang ini. Bukan karena ia tidak tahan dengan terik matahari atau kepadatan jalanan. Namun karena tugasnya kali ini : Wawancara dengan narasumber seorang polisi.
Profesinya sebagai seorang reporter sedang di uji keprofesionalannya, huh.. padahal ia sangat benci polisi dengan segala embel-embel cerita yang diketahuinya. Kini ia harus membuat sebuah artikel pembersihan citra polisi dengan narasumber seorang polisi, bagaimana mungkin?! Sebuah Kantor Polsek di pinggiran kota Jakarta menjadi tujuannya, kedatangannya disambut dengan aroma ketidakramahan. Setidaknya itu yang dilihatnya ketika melihat kesibukan para aparat di dalamnya, atau karena mindset-nya yang sudah ter-frame demikian? Maka semanis apapun senyum aparat menyambutnya, ia akan tetap curiga bahwa itu adalah pura-pura.
###
Narasumbernya itu terpaku pada posisinya, matanya menerawang dinding polos berwarna jingga di sekelilingnya. Arinda mengurai pertanyaanya dengan lugas. Selugas ia dengan prinsipnya, jilbab syar’i yang dipilihnya telah memperkenalkan lebih dari sekedar nama dan profesi yang diembannya. Sosok Arinda, membuat kilatan masa lalu Andika bermunculan : aktivitas di kampusnya empat tahun silam, sebagai seseorang yang pernah diamanahkan menjadi mas’ul di tataran dakwah kampus, ia tahu betul sekaliber apa akhwat di hadapannya. Bukan. Bukan karena jilbabnya yang lebar atau sorot matanya yang tersembunyi, bukan juga karena kata-kata atau sikapnya. Tapi auranya, aura yang pernah menjadi miliknya juga.. sebelum ia terkungkung dalam ruangan berstempel POLSEK.

“Menurut Anda, kenapa opini publik di masyarakat saat ini cenderung tidak simpati kepada aparat?” Arin memulai pertanyaanya dengan yakin.
“Mengenai opini... setiap orang berhak memiliki opini yang berbeda tentang kami. Tetapi hal itu menjadi tidak benar ketika opini itu dibentuk oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.”
“Oknum siapa maksud Anda?”
“Saya rasa, media lebih tahu dari kami sendiri...”
“Kenapa Anda harus menyalahkan oknum tertentu, kalau letak masalah sebenarnya ada pada tubuh aparat sendiri? Bukankah opini terbentuk karena ada kesalahan yang terbukti dari aparat sendiri?”
“Ya... kami mengakui kalau ada beberapa oknum aparat yang menyalahi aturan, menyalahi kekuasaan, dan lain sebagainya. Tapi saya ingin Anda juga tahu kalau jumlah aparat yang benar-benar menjalankan tugas lebih dari jumlah aparat yang memiliki sifat minus itu.”
“Jika memang lebih banyak, tapi kenapa justru yang terekspos oleh media adalah aparat yang tidak bertanggung jawab itu?”
Andika tersenyum misterius ketika Arin melontarkan pertanyaan yang memojokkan itu. “Sensasi.”
“Maksud Anda?”
“Bukankah media lebih suka meliput hal yang penuh dengan sensasi? Jika seorang aparat ditemukan mabuk dalam sebuah diskotik, hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemburu berita seperti Anda bukan?” Arin hendak memotongnya ketika Andika melanjutkan lagi perkataannya, “ Dan apabila ada aparat berhasil menggagalkan sebuah rencana kejahatan, akan menjadi sebuah berita yang sangat biasa karena hal itu memang dianggap sebagai tugas kami. Lalu Anda akan menjadi seorang yang tidak tahu menahu ketika ditanya tentang seorang aparat yang meninggal sebagai resiko keberaniannya dalam mengungkap kejahatan. Hal ini sungguh ironis.”
Beberapa detik Arin terdiam.
“Tapi saya ada ketika polisi dengan asal meniup pruitnya untuk menilang sesuatu yang tidak salah. Saya juga tahu ketika istilah ‘uang damai’ sudah menjadi image yang tidak dapat dipisahkan dari aparat. Saya juga melihat bagaimana dengan seragam polisi mereka dengan leluasa menggoda para pelajar.”
“Anda hanya ada saat itu dan tidak pernah mencari tahu dibalik semua itu.”
“Saya melihat apa yang terlihat. Lalu bagaimana caranya jika saya ingin mencari tahu? Pergi ke kantor polisi? Tempat yang kini menjadi sangat menyeramkan ketika hanya dengan uang pelicin semua masalah akan menjadi selesai.”
Andika cukup terkejut. Bukan hal baru ketika seorang reporter dengan tajam bertanya mengenai suatu hal, bahkan banyak yang menggunakan pertanyaan-pertanyaan jebakan di dalamnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda lewat pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis berjilbab ini, ini memang bukan hanya pertanyaan seorang reporter yang hanya berniat mencari berita untuk memenuhi perut mereka dengan bayaran yang mereka terima. Bukan juga seorang reporter yang ingin beritanya menjadi tampak wah ketika menghadirkan tulisan-tulisan yang sama sekali tidak peduli fakta. Ini pertanyaan seorang warga sipil yang sudah tampak lelah dengan kinerja aparat yang selama ini selalu dinilai kurang.
“Lapor komandan, ada telpon untuk Anda.”
Andika segera beranjak dari duduknya, “Saya permisi dulu...”
Arinda mengangguk, tanda tanya besar timbul dibenaknya. Siapa sebenarnya polisi ini? Seorang ikhwankah? Dari cara bicaranya, ia tidak berbeda jauh dengan Kak Sukri, sang aktivis tersohor di kampusnya atau Kak Dhani, ketua DKM itu. Tapi benarkah masih ada seorang ikhwan yang bertahan di tengah lingkungan yang kebobrokannya sudah menjadi rahasia umum. Arinda terus menyangkalnya, meski ia sudah menyadari sejak tadi kalau polisi muda bernama lengkap Andika Riza Pratama itu selalu menjaga pandangannya.
Tidak lama setelah itu, Andika datang dengan senyum andalannya. Arin lagi-lagi merasa bersalah ketika melihat senyum itu begitu teduh.
“Maaf... telah menyita waktu Anda..” Andika kembali duduk di tempatnya.
“Tidak apa, bisa saya lanjutkan Bapak Andika?” Tanya Arin dingin.
“Ya. Silahkan...”
“Baiklah, pertanyaan ini mungkin sedikit melenceng dari topik. Tapi saya harap Anda tetap professional untuk menjawabnya. Kenapa Anda memilih profesi menjadi polisi?”
Suasana tiba-tiba hening ketika Arinda menyelesaikan pertanyaannya. Aneh. Polisi itu tetap berwajah tenang, tidak ada raut bingung atau marah disana. Arin diam-diam menyesali hal itu, narasumbernya memang bukan orang sembarangan yang akan dengan cepat kebakaran jenggot jika pertanyaan tidak sesuai dengan kepentingannya. Arin sudah cukup sabar menunggu pria dihadapannya untuk mengeluarkan suara, sampai tiba-tiba...
“Maaf jika saya lancang telah mendengar pembicaraan ini...” suara seorang wanita dengan seragam polisinya membuat semua yang ada di sana kontan menoleh. “Perkenalkan, saya Marina Larasati, cukup panggil saya Laras.”
“Selamat siang Ibu Laras, silahkan duduk...” Andika dengan cepat mempersilahkan wanita berambut sebahu itu untuk ikut bergabung.
“Siang, Pak Andika. Terima kasih.” Jawabnya singkat dengan senyum yang sulit diartikan. “Saya dengar Anda reporter baru?”
Arin berusaha tersenyum, meski sebenarnya agak ngeri menatap mata tajam wanita bernama lengkap Marina Larasati itu. “Ya, betul. Saya Arinda Fariza, reporter baru dari majalah Amanah.” Ia mengulurkan tangannya, namun urung setelah beberapa detik tak ada sambutan.
Andika melihatnya, bagaimana Laras rekan kerjanya lagi-lagi menampilkan sisi arogansinya. Ia mengenal betul rekan kerjanya itu, wanita keras yang sulit beramah-tamah dengan orang yang baru dikenalnya. Sekaligus menjadi wanita yang begitu lembut ketika berhadapan dengannya.
“Saya tidak punya kepentingan dengan majalah Anda, namun saya menjadi berkepentingan ketika Anda mengusik profesi kami. Jika saya boleh bertanya, kenapa Anda memilih profesi sebagai reporter?”
Arin tertunduk, “Ini impian saya.”
“Impian??” Laras tersenyum kecut. “Jawaban yang bagus Nona... kalau begitu, saya akan meniru alasan Anda. Mungkin impian saya adalah menjadi Sailormoon yang akan menegakkan kebenaran di muka bumi ini...makanya saya memilih profesi sebagai seorang polisi wanita. Anda bisa menerima jawaban saya Nona Arinda??”
Arinda terdiam,
“Ehm.. maaf sepertinya waktu 30 menit kita telah habis. Saya pikir, wawancara ini ditutup saja.” Andika menengahi.
Arin menatap aneh. Laras melirik kesal, terlihat rasa tidak sukanya dipotong seperti itu.
###

“Baiklah, pertanyaan ini mungkin sedikit melenceng dari topik. Tapi saya harap Anda tetap professional untuk menjawabnya. Kenapa Anda memilih profesi menjadi polisi?”

Awalnya Andika tidak menyangka pertanyaan itu yang akan dilontarkan, ah.. bagaimana mungkin ia tidak bisa menjawabnya? Bukankah pertanyaan ‘kenapa’ itu begitu banyak berdatangan sewaktu ia memutuskan untuk mendaftarkan diri ke AKPOL empat tahun silam? Banyak yang menyayangkan, tidak habis pikir, dan menganggapnya sudah gila. Sarjana jebolan FISIP Universitas ternama di ibukota, jurusan Hubungan Internasional yang notabene memiliki prestige tersendiri dan diramalkan berprospek cerah tiba-tiba banting stir ke Akademi Polisi. Sebuah profesi yang teropini ‘buruk’ di masyarakat. “Mau jadi apa antum? Tukang korupsi? Centeng pejabat? Bekingan pengusaha? Ya Allah, antum sama saja menceburkan diri ke lubang hitam.” Andika hanya beristigfar kala itu, kupingnya memang panas mendengar celotehan-celotehan miring tentang pilihannya. Tapi sebuah senyum menguatkannya : senyum ibunya yang selalu mendukung dan menaruh kepercayaan penuh padanya.
Maka ketika Arinda Fariza, reporter itu dengan wajah polosnya menanti jawaban keluar dari bibir Andika saat berpamitan di pintu POLSEK . Ia bisa dengan tenang mengatakan,
“… karena saya juga manusia, yang diberi pilihan olehNya untuk memilih jalan kebaikan atau keburukan. Lalu apa saya salah memilih jalan kebaikan lewat profesi ini? Mungkin banyak yang memilih pilihan kedua, tapi andai Anda tahu… tidak sedikit orang yang istiqomah pada jalan pertama.”
Ia ingat betul kata-kata yang sampai saat ini masih terukir di hatinya, kata-kata dari seseorang special yang melahirkannya, juga melahirkan azzam kuat di hatinya bahwa perubahan harus dimulai dari hal kecil, yang selalu mengingatkan kalau Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum tersebut merubah nasibnya sendiri. “Jika semua orang baik menjauh dari kondisi buruk yang harus diperbaiki, maka kebobrokan demi kebobrokan tidak akan pernah selesai, anakku. Jadilah cahaya di tengah kegelapan, yang akan membuat sekelilingnya terang dimanapun ia berada. Ibu hanya berdoa satu untukmu, agar Allah menjaga imanmu. Kutitipkan engkau padaNya, maka ibu tak perlu khawatir.” Inilah kata-kata yang menyertai senyum ibu yang menguatkan itu. Maka tak peduli sepedas apa bisikan miring tentang keputusannya kala itu, azzamnya kuat untuk mulai melakukan perubahan dengan terjun ke dalamnya, segelap apapun tempat itu.
###
Langit semakin gelap, dan Arin masih saja sulit memejamkan matanya. Ia masih saja merasa bersalah dengan kejadian kemarin siang. Bagaimana ia dengan semena-mena men-judge Pak Andika dengan profesi yang dipilihnya. Tanpa mencari tahu dan mendengarkan penjelasan beliau dahulu. Ia mengambil kesimpulan atas penglihatannya sendiri hanya dari satu sisi. Padahal ia pun sebenarnya pernah mengalami posisi itu, dimana semua mayoritas keluarganya tidak setuju dengan pilihannya untuk menjadi seorang reporter. Mereka hanya memandang reporter dari pengetahuan mereka yang terbatas : bahwa banyak wartawan yang membolak balikkan fakta, banyak wartawan yang hanya mengumbar gossip. Tanpa mereka tahu justru karena itu, justru karena media kini banyak yang tidak sesuai koridornya, maka Arin ingin menjadi salah satu yang tetap bertahan di koridornya. Jika semuanya bersikap sama? Lantas siapa yang akan merubah keadaan? Dengan membawa misi itulah akhirnya ia berhasil mewujudkan mimpinya, meski masih saja ada sebagian yang mencibir.
Tiba-tiba ingatan masa lalunya muncul, ketika pertama kalinya ia diterima di sebuah redaktur majalah ternama. Bahkan ia tidak pernah bermimpi akan menjadi salah satu reporter disana karena hal itu sangat mustahil baginya yang lulus dengan gelar yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia jurnalistik. Tapi kenyataan berkata lain… ia berhasil bekerja disana beberapa bulan sampai kejadian pada hari itu…

“Tulisan apa ini??!” suara teriakan Pak Galih pagi tadi di kantornya masih terngiang jelas di telinganya, terus terdengar seperti putaran kaset rusak. Rekaman visual bagaimana atasannya itu melempar lembaran hasil ketikannya tanpa etika masih tergambar jelas. Semua kertas itu beterbangan seperti helain kapas yang tertiup angin. Arin seperti melihat tetesan keringatnya memercik, menguap di telan udara. Mulutnya terkatup rapat tak bisa bersuara.
“Saya beri waktu kamu tiga hari untuk menyusun sebuah tulisan agar orang yang bersalah itu makin terpojok. Bukan malah membuat orang itu diagung-agungkan!”
“Tapi saya hanya menulis apa yang ada dipikiran saya, Pak.”
“Kalau begitu memang pikiran kamu yang salah!! Sudah berulang kali saya tegaskan kalau majalah kita ini majalah umum, tidak memihak kalangan manapun termasuk agama manapun.”
“Saya tidak memihak apapun Pak. Tapi saya hanya menuliskan apa yang sebenarnya tengah terjadi, masalah publik menilai bagaimana itu terserah mereka. Tetapi yang pasti saya tidak memaksakan untuk membentuk opini itu. Kita harus adil Pak.”
“Adil apanya?! Kamu terkesan membela agama kamu!”
Mata Arin menyorot tajam, tak disangka atasannya itu akan mengatakan hal itu. Bukankah ia dengan atasanya itu satu agama, Islam. Satu-satunya agama yang di ridhoi oleh-Nya. Ia langsung menyadari satu hal... yang selama ini dicarinya. Alasan mengapa begitu banyak tulisannya yang tak termuat. Alasan mengapa ia tidak jadi dikirim menjadi salah satu reporter ketika isu hangat tentang pertarungan kaum Liberal gencar diberitakan. Arin kini menemukan jawabannya, ia segera memunguti lembar demi lembar kertas yang berserakan. Lalu pergi tanpa sepatah katapun, meninggalkan dunia yang selama ini seakan tak henti menyakitinya. Dunia penuh titik hitam yang terselimuti seonggok kertas yang begitu laku dipasaran. Dunia yang tidak menerimanya dengan status keIslamannya, meski mayoritas disana seorang muslim. Kegamblangnya dalam mengulas berita membuat semua atasannya gusar, opini-opininya seakan mengancam leher demi leher para boss berdasi di jajaran pimpinan redaksi.

Namun tekadnya kuat untuk menjadi seperti bintang dimanapun ia berada, karena bintang akan tetap bercahaya meski segelap apapun tempat ia berada, bahkan ia membagi cahaya itu pada rembulan hingga mereka bisa bercahaya bersama. Filosofi itulah yang membuatnya masih bertahan sampai detik ini untuk menjadi seorang reporter, meski ia harus meninggalkan perusahaan ber-prestige tinggi dan pindah ke tempatnya sekarang. Ya. Ia menemukan kisah hidupnya, prinsipnya, dan tekad bajanya pada diri aparat satu itu. Bapak Andika Riza Pratama.
Siang tadi ia bertemu dengan Kak Melisa, pemilik butik yang menjadi langganan untuk satu rubrik fashion muslim di majalah tempatnya bekerja. Mereka terlibat percakapan yang cukup seru meski mereka baru saja bertemu. Hingga Kak Mel bercerita mengenai adiknya, seorang pria mandiri yang memiliki prinsip. Seorang anak yang menyayangi ibunya, dengan satu cita-cita : membahagiakan ibunya. Tidak lebih. Meski awalnya Kak Mel tidak yakin dengan pilihan hidup sang adik, namun adiknya itu telah membuktikan semua janjinya.
“Kamu tahu, Rin? Satu-satunya polisi yang saya percaya itu ya cuma adik saya, Andika.” Ujar Kak Mel menutup rangkaian ceritanya. Alis Arin berkerut,

###
Pagi itu mendung menggantung, menandakan gerimis akan datang menyapa bumi yang mengering karena sudah seminggu tak bertemu air. Ujung jilbab Arin berayun pelan mengikuti irama angin yang berhempus lembut, pagi ini kelabu. Sebuah kabar mampir di telinganya bada’ shalat subuh tadi, kerusuhan lagi. Ia memang sudah tidak asing dengan kerusuhan, hampir tiap hari di Jakarta penuh amuk massa. Mulai dari seragam putih abu anak-anak ingusan yang bentrok karena masalah-masalah sepele berujung maut, sampai orang-orang intelek yang jotos-jotosan dalam gedung megah milik Negara.
Semalam sebuah kerusuhan terjadi, sebuah bom molotov entah milik siapa tiba-tiba saja meledak di tengah kerusuhan, menewaskan satu orang dan banyak luka-luka. Baik dari kalangan masyarakat yang bentrok maupun aparat yang berusaha mengamankan. Arin bergegas ke rumah sakit setelah matahari terbit, berniat menjenguk seseorang yang semalam ia lihat di televisi. Seorang polisi menjadi korban peledakan bom Molotov di tengah kerusuhan itu, seseorang yang setelah melihat wajahnya sangat tidak asing. Andika Riza Pratama, begitu sang presenter mengucapkan nama polisi itu dengan gamblang. Segamblang sorotan kamera televisi memperlihatkan bagaimana wajah lemah penuh luka itu sedang terbaring tak berdaya.
Ia sampai pada satu lorong, dilihatnya seseorang yang ingin ia temui sedang terduduk bersama seorang wanita yang Arin kenal sebagai kakak kandungnya. Narasumbernya untuk sebuah tulisan berjudul “Karena Polisi Juga Manusia”, tulisan yang lahir dari sebuah perenungan panjang juga tamparan keras atas kerangka berpikirnya selama ini yang hanya melihat satu sisi saja dari sebuah profesi. Seseorang yang telah membuka pikiran dan hatinya, bahwa tidak semua yang ia lihat bisa didefinisikan dengan sempurna dari satu paradigma. Bahwa di dunia ini ada dua jalan : baik dan buruk, dan manusia bebas memilih dengan segala konsekuensinya. Dan bahwa perjuangan selalu butuh pengorbanan. Untuk menginjak syurgaNya yang manis, kadang perlu keringat, air mata, bahkan darah sebagai gantinya.
“Apa kamu menyesal, Dik?” Tanya wanita di sampingnya dengan mata berkaca, memperhatikan kondisi adiknya yang memperihatinkan.
Andika menggeleng, “Saya tidak akan pernah menyesal Ka, karena saya tidak berhak menyesal. Setelah nikmat Allah berdatangan selama ini, apa patut saya berpaling karena sedikit ujian-Nya saja? Padahal mungkin, ini salah satu ungkapan kasih sayang-Nya untuk saya.”
Subhanallah… Arinda tergugu. Benar, bagaimana mungkin ia menyesal? Setelah semua hasil yang ia tuai, kemarin Arin bertemu Laras, polwan angkuh tempo hari itu telah berhijab sempurna, sikapnya tidak lagi dingin, dan ia hendak pergi untuk pengajian rutinannya. Ia juga sempat menceritakan kalau dikantornya tengah ngetren mengaji. Siapa lagi trendsetter itu kalau bukan Pak Andika Riza Pratama? Lelaki di hadapannya kini.
“Mungkin Allah telah mencukupkan mata ini untuk melihat sampai hari kemarin saja Ka, hanya sebuah titipan.. maka ketika diambil kembali pemilikNya, kita harus siap dan ikhlas.”
Bahu Arin bergetar hebat, Anda menepati janji Anda, untuk istiqomah pada pilihan pertama, Pak Andika. Meski kini Anda tak lagi dapat melihat, meski kini kaki Anda tidak mampu berpijak sempurna, namun iman Anda tetap lurus dan Anda tetap bercahaya seperti bintang segelap apapun tempat Anda berpijak. Tanpa sadar, air mata Arinda meleleh satu-satu.

*diBawahLangit, 26 September 2010


yang ini sempet diikutkan dalam lomba LMCPI Annida,, tapi gak menang.. hehe
so enjoy it!

Ketika Cinta Tak Terlukis Sempurna,,


Rintik hujan, entah mengapa gadis berumur 20 tahun itu selalu senang menatapnya. Butiran-butiran air hujan selalu mampu membuat perasaannya sejuk seketika. Selalu ada sesuatu yang lain muncul ketika ia menatap hujan dari balik jendela kamarnya. Aroma tanah basah yang tercium samar, suara gemericiknya ketika menyentuh permukaan bumi, tiupan anginnya yang membuat dedauanan menari syahdu, seperti menyaksikan sebuah pertunjukkan orkestra alam yang menakjubkan. Jilbab berbahan kaus yang menutupi rambutnya sampai ke dada berayun lembut mengikuti irama angin yang bertiup ramah menyapanya.
“Nad, jangan kebanyakan melamun…” suara Saskia, sahabatnya sekaligus teman satu kamar kostannya membuat buyar pertunjukkan orkestra alam dalam benaknya.
Nadia tersenyum kecil, “Aku gak melamun Sas, cuma lagi menikmati alam ciptaan-Nya… Subhanallah yah… selalu ada hikmah di setiap peristiwa alam di bumi ini.” tuturnya menampakkan kekaguman di wajah bersihnya.
Saskia mengangguk cepat, tanda setuju. “Lusa kan hari ibu Nad, udah nyiapin hadiah spesial buat ibumu belum??”
Nadia menggeleng pelan.
“Wah, kebetulan banget… aku jualan jilbab nih. Bisa jadi alternatif hadiah buat ibu kamu. Gimana?” promosi Saskia semangat.
Nadia tersenyum kecil, mengagumi sahabatnya yang sudah bisa mencari uang sendiri. Tangannya meraih jilbab putih berbordir bunga merah muda, indah… tapi ia tidak yakin akan tetap indah jika ibunya yang mengenakan.
“Kenapa, Nad?? Masih banyak pilihan koq… ayo dipilih aja.”
“Maaf, Sas…. tapi,” Nad berhenti meneruskan kata-katanya.
Saskia tersenyum, “Gak apa-apa koq… daripada ngelamun disini, mendingan kita ke ruang tengah yuk gabung sama yang lain. Sekalian bantuin aku dagang, hehe”
Nadia mengangguk, sambil membantu membawa barang dagangan Saskia ke ruang tengah. Beberapa teman kostannya memang sedang berkumpul di sana. Menikmati acara gosip sambil mengomentari orang yang menjadi korban gosip, berlagak seperti Cut Tari dan Irfan Hakim dalam acara Insert. Saskia dan Nad saling bertatapan, lalu menggeleng bersamaan. Ya, mereka memang paling anti dengan tayangan bernama infotaiment, selain tidak bermanfaat, acara itu juga hanya akan menambah timbangan buruknya di hari akhir kelak, begitu pikir mereka. Kali ini kasus buruk menimpa seorang artis kawakan bernama Dara Amira, beberapa foto vulgarnya beredar luas di internet. Tapi bukan Dara Amira namanya jika tidak berhasil membantahnya, padahal tanpa sorotan foto vulgarnya di interrnet pun semua orang sudah tahu kalau ia termasuk dalam jajaran artis terseksi tanah air.
Nadia menatap lekat layar TV 14 inch di hadapannya, tidak sadar sahabatnya sudah memanggilnya sejak tadi. Sorot matanya berubah, tak sebening saat ia menatap keluar jendela tadi. “Nad,,,Nadia….?” Saskia mengibas-ngibaskan tangannya di depan mata Nad.
“Iya, Sas. Ada apa??” ujar Nad terkejut.
“Sejak kapan kamu suka acara gosip murahan kaya gitu?”
“Eh, gak koq… aku cuma penasaran aja tadi. Gak bermaksud melihat…” elak Nadia gagap. Sejak wanita itu ramai dibicarakan di infotaiment, Sas.
***
Suara nasyid Do’a Rabithah yang dibawakan oleh Izzatul Islam mengalun dari telepon genggam milik Nadia, sampai lagu itu hampir usai Nadia belum juga berminat untuk mengangkatnya. Mati. Lalu berkedip lagi, mengalunkan irama musik yang sama. Lama, Nadia tetap tidak bergeming berdiri menatap keluar jendela. Mati. Berkedip lagi, masih mengalunkan irama musik yang sama. Akhirnya Nad meraih telepon genggamnya yang tergeletak di atas tempat tidur sejak tadi. Ia mengangkatnya tanpa bersuara,
“Ibu rindu kamu, Nad.” Terdengar suara parau dari seberang sana.
Nadia diam. Tak ada satu kata pun yang ingin ia ucapkan saat itu. Bahkan hanya untuk mengiyakan perkataan wanita yang menelponnya itu.
“Ibu ingin ketemu kamu, memeluk kamu…” ucap wanita itu lagi memelas.
Nadia tetap pada diamnya. Bertahan untuk mengunci rapat mulutnya. Terdengar isakan tangis di sana.
“Saya mau sholat dulu, sudah adzan Isya. Sebaiknya kita tunaikan sholat lebih dulu.” ujar Nad datar.
“Kita ngobrol-ngobrol dulu yah sebentar,,,” mohonnya.
“Maaf, saya tidak bisa. Assalammu’alaikum. Tuutt…tutt…”
Nad termenung sejenak, sebelum akhirnya segera beranjak untuk mengambil air wudlu. Sungguh, ia tidak ingin melakukan itu tadi, tapi rasa sakit yang belum mengering dalam hatinya membuat ia tidak bisa menahan amarah pada wanita yang telah melahirkannya. Bahkan sebenarnya ia enggan memanggil wanita itu dengan sebutan ibu. Ia mulai membasuh wajahnya dengan air wudlu, seketika hatinya menyejuk kembali.
***
Nadia melangkah ragu, memasuki sebuah halaman kecil dari rumah sederhana di hadapannya. Embun masih bermesraan dengan pucuk daun ketika ia tiba. Kabut samar menambah nafas dingin di tubuhnya. Kelopak bunga mawar putih yang tersusun rapi di sepanjang jalan setapak menuju teras menyambutnya ramah. Mawar putih, bunga kegemaran Nad dan ayahnya.
Tidak jauh dari tempatnya berdiri, seorang wanita berumur 40 tahunan sedang khusyuk menyiram tanaman. Tante Gita, wanita yang dinikahi oleh ayahnya tiga tahun lalu, dua tahun setelah ayah dan ibu Nad memutuskan untuk resmi bercerai. Nad memang sempat terpukul saat kedua orang tuanya mengambil keputusan berat itu, bisa dikatakan itu adalah masa-masa kritis dalam hidupnya. Tapi disanalah takdir telah mempermainkannya dengan indah, di tahun-tahun saat ia berada di titik terendah dalam grafik kehidupannya. Disaat itu pulalah ia menemukan cahaya Islam dan memutuskan untuk menggunakan jilbab, meskipun ibunya sangat menentang keras. Setahun kemudian ia diterima di sebuah Perguruan Tinggi Negeri dengan jurusan yang sebenarnya tidak ia minati. Tapi, disanalah semuanya bermula, bagaimana tarbiyah telah merengkuhnya erat, mengajarkannya banyak hal termasuk membulatkan tekadnya untuk benar-benar mengamalkan salah satu ayat dalam surah Al Ahzab : menyempurnakan hijabnya.
“Nadia....”
“Eh, iya tante, hari ini saya tidak ada kegiatan. Jadi boleh saya mampir ke sini?” Tanya Nad ragu.
Tante Gita tersenyum, berjalan pelan menghampirinya. “Kamu ini kenapa sih, Nad? Masih saja menganggap kami orang lain. Ini rumah kamu sayang, pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu.” Ujarnya lembut. Tante Gita memang begitu, semula ia berpikir itu hanya akal-akalannya untuk mendapatkan simpati dari Nad. Tapi lambat laun, ia sadar itu adalah sebuah ketulusan. Nad bisa membacanya dari mata wanita yang hari ini menggunakan jilbab berwarna biru muda, dan hari ini ia benar-benar telah khatam membacanya.
***
Malam mulai merangkak, memperlihatkan gemintang di langit hitam pekat. Berkedip-kedip seakan merayu mata-mata yang menatapnya. Nad salah satunya, terpesona menatap jutaaan kerlip cahaya itu lewat jendela kamar yang tadi disediakan Tante Gita. Bahkan suara langkah kaki istri ayahnya yang tengah mendekat itu tidak membuatnya terganggu,
“Sedang memperhatikan apa, Nad?” Nadia menoleh, agak terkejut dengan kehadiran ibu tirinya itu. Apalagi ketika menyadari ia sudah ada tepat di sampingnya. “Dilihat darimana pun, cahaya bintang memang selalu indah ya?” lanjutnya. Nad mengangguk setuju, senyum Tante Gita mengembang.
“Sebenarnya saya sedang berpikir, betapa beruntungnya ayah saya menikah dengan wanita sebaik tante.” Ujar Nad jujur.
Tante Gita menggeleng, “Bukan ayah kamu yang beruntung. Tapi saya yang sangat beruntung mendapatkan suami seperti ayah kamu, Nad.”
“Jawaban tante semakin meyakinkan saya, kalau tante begitu berbeda dengan ibu saya. Pantas saja ayah tidak pernah bahagia bersama ibu.” Bagaimana ayah akan bahagia jika ibu selalu seperti itu : Seorang ibu yang selalu memakai gaun terbuka, kecuali saat bulan Ramadhan tiba. Seorang ibu yang sibuk menghadiri pesta hura-hura dibandingkan berkumpul bersama anak dan suaminya. Pikiran Nad kembali melanglang buana ke masa-masa itu. Sampai suara Tante Gita membuyarkannya…
“Tidak ada seorang pun yang sempurna, Nad. Begitu pun saya dan ibu kamu. Mungkin kamu tidak akan percaya, satu-satunya wanita yang bisa membuat saya cemburu adalah ibu kamu.”
Kening Nadia berkerut.
“Ibumu, Dara Amira bisa melahirkan putri sebaik kamu. Tapi saya?? Sampai kapan pun saya tidak akan pernah menjadi seorang ibu. Tidak akan ada yang memanggil saya dengan sebutan ibu. Sebagai wanita, saya tidak pernah merasa utuh, Nad.” Ujar Tante Gita, dalam kondisi seperti itu ia masih berusaha menunjukkan senyum tulusnya. Meski Nad sudah mendengar kabar kalau rahim Tante Gita di angkat setahun lalu karena kanker rahim yang dideritanya, dari Ayahnya. Namun, tetap saja Nad tidak sanggup untuk mendengarnya langsung.
“Saya tidak sempurna seperti dalam bayangan kamu, begitu pun ayah dan ibu kamu. Tapi, disanalah letak dimana manusia dalam keadaan seutuhnya. Yaitu ketika ketidaksempurnaan kita mampu menyempurnakan ketidaksempurnaan orang lain. Itulah yang terjadi pada saya dan ayah kamu. Saya harap, hal itu juga yang terjadi pada kamu dan ibumu. Sempurnakan ibumu dengan ketidaksempurnaanmu, Nad...”
Air mata Nad meleleh, ia baru menyadari kalau selama ini ia hanya menuntut dan terus menuntut ibunya untuk menjadi lebih baik. Tanpa ia menuntunnya, menggengam tangannya untuk bersama-sama berjalan menuju kebaikan itu.
“Ibu…” ucap Nad ragu. “mmm... maaf boleh saya memanggil tante dengan sebutan ibu juga?”
Mata Tante Gita berkaca, perasaannya membuncah tak tertahankan. Sebutan yang ia rindukan selama kurang lebih lima tahun setelah pernikahannya itu akhirnya ia dapatkan. Mereka berpelukan, ditemani serpihan cahaya di langit sana. Andai ayah dan ibu kandungnya berada di sini, ia ingin memeluk erat mereka juga. Terlebih engkau ibu....
***
Nadia membaca ulang sms yang ia dapatkan semalam. Seruan aksi menuntut pengesahan RUU Pornografi dan Pornoaksi di DPR RI pagi ini. Tentu saja ia harus ikut, untuk memperjuangkan martabat perempuan. Dikenakannya almamater kebanggaan miliknya, juga poster karya Saskia semalam. Mereka berangkat dengan rombongan beberapa bus mini dari kampus dengan atribut masing-masing.
Terik panas matahari memantul pada aspal-aspal hitam di jalan-jalan ibu kota. Warnanya mengkilat, pertanda tubuh aspal telah mendidih. Debu dan polusi bercampur dalam udara kota Jakarta yang sumpek, sehingga oksigen terasa terhambat masuk dalam satu tarikan nafas. Suara deru dan klakson mobil bersahut-sahutan menciptakan irama musik yang memekakkan telinga. Nad mengusap wajahnya yang penuh keringat dengan tissue yang dibawanya. Hantaman udara panas dan kebisingan kota Jakarta tidak menyurutkan semangatnya, begitu juga semangat teman-teman seperjuangannya.
“Walaupun sesama wanita, belum tentu satu rasa ya, Nad?” ujar Saskia yang duduk di sampingnya setelah selesai membaca sebuah artikel di harian republika terbitan tadi pagi, yang ia beli sebelum naik ke atas bus mini.
“Maksudnya, Sas??”
“Kita membela perempuan dengan RUU yang berusaha melindungi perempuan dari eksploitasi. Tapi banyak perempuan-perempuan yang menentang keras RUU itu untuk disahkan. Mereka membentuk semacam aliansi untuk menolak RUU itu disahkan.” terang Saskia panjang lebar.
Nad mengangguk prihatin, tanpa komentar.
“Lagi-lagi artis ini, Nad!” ujar Saskia dengan aroma kemarahan di nada suaranya. Nadia menoleh, mencari orang yang dimaksud Saskia dalam lembaran koran yang masih dibaca olehnya. “Dara Amira…” tambah Saskia lagi, lalu menghembuskan nafas perlahan sebagai tanda kejenuhan.
“Dia kenapa lagi?” tanya Nadia yang tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan.
“Dia salah satu dari 7 orang pendiri aliansi penentang RUU pornografi disahkan.”
Nad menutup mata, berharap apa yang di dengarnya hanya sebuah mimpi. Bunga tidur yang akan menghilang begitu ia membuka mata. Tapi kenyataan tidak selamanya sama dengan apa yang diharapkan. Buktinya ia masih duduk di mini bus ini, masih duduk di samping Saskia yang sedang asyik membaca berita aliansi fenimisme yang sama.
***
Semula aksi yang digelar berjalan lancar, semua berjalan dengan semestinya, aman terkendali. Terdengar orasi dari perwakilan dari setiap universitas yang hadir. Lantunan lagu aksi membakar semangat para agent of change yang turun ke jalan, teriakan-teriakan mendukung pengesahan RUU pornografi terus dilontarkan tanpa rasa lelah. Walau terik matahari semakin kuat membakar, walau udara semakin panas bertiup, tak ada yang berniat mundur satu langkah pun.
Tiba-tiba sesuatu terjadi, situasi yang semula aman terkendali mendadak ricuh. Polisi yang semula berdiri mendampingi mahasiswa dengan tenang mendadak beringas. Benda-benda asing beterbangan bagai debu di udara. Suara teriakan tak lagi satu suara, semua berteriak panik. Asap dan darah bercampur, baunya mengepul di udara. Gas air mata sudah membumbung memecah barisan border mahasiswa. Semua tidak tahu pasti apa yang tengah terjadi, sampai suara desing peluru terdengar bagai petir di siang bolong.
Cipratan darah memercik ke seluruh penjuru, semua menoleh. Menyaksikan sesosok tubuh mahasiswi berjilbab putih terjatuh seperti adegan slowmotion dalam film matrix, saat itulah semua mulai menyadari akan apa yang sebenarnya tengah terjadi.
“NADIA!!!” suara teriakan Saskia menggema, membuat semua yang terpaku di tempatnya mulai sadar dan mulai ikut berlari menghampiri tubuh Nad yang tergeletak di atas aspal panas. Saskia terisak, memeluk Nadia dengan sangat erat.
Dara Amira terpaku di tempatnya berdiri, menatap nanar gadis berjilbab putih dengan almamater sebuah universitas negeri favorit di kotanya. Jilbab yang semua putih itu penuh bercak merah sekarang, tercium samar-samar aroma amis darah. Semua orang mengerumuninya, menampakkan wajah iba. Tidak sedikit yang terisak menahan air matanya yang mulai berjatuhan, semua orang berdatangan seperti semut mengerumuni gula.
“Dara, ayo kita cepet pergi! Sebelum kita mati konyol dikeroyokin mahasiswa gak beradab ini!”
“Nad…Nadia bertahan ya… hikshiks…” Saskia berucap lirih.
Dara Amira menoleh,
“Nad, tahan yah rasa sakitnya.. sebentar lagi…hiks…ambulannya datang…hiks”
Jantung artis cantik itu berdegup kencang, tiba-tiba saja perasaannya menjadi tak karuan. Ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah mahasiswi yang tertembak peluru tadi, tapi entah angin apa yang membuatnya ingin melihat wajah gadis itu dari dekat. Nadia?? Dari ribuan mahasiswi bernama Nadia,, kumohon jangan dia Ya Tuhan… Ia melangkah pelan, mendekat ke arah kerumunan mahasiswa yang melingkari gadis itu. Ia terlalu takut untuk berjalan cepat, ia terlalu takut untuk menghadapi segala pikiran yang ada di kepalanya… Ia terlalu takut menemukan kenyataan bahwa wajah gadis itu sangat mirip Nadia,, bukan…bukan sangat mirip…tapi itu memang benar wajah putri satu-satunya… Nadia Amira.
“Nadia,,, NAD…..!!” ia memeluk putrinya yang tergolek lemah itu. “Nad, bertahan ya sayang… ibu gak mau kehilangan kamu lagi…” ujarnya bergetar.
Nadia menggeleng lemah, samar senyumnya tersungging lembut. Tangan lemahnya berusaha merogoh saku jas almamaternya, mengambil lipatan kertas. Tanpa suara ia menyerahkannya pada ibunya, ia bahkan sudah terlalu lemah untuk mengeluarkan suara. Dara mengambilnya ragu, Nadia menatap lekat matanya dengan lemah. Lalu mengangguk pelan, sampai akhirnya mata beningnya itu benar-benar tertutup.
“Nad…Nadia……” ucap wanita itu lirih, didekapnya tubuh dingin Nad lebih erat. Tak peduli warna merah mewarnai pakaian mahal sutranya, tak peduli ribuan pasang mata menatapnya aneh, tak peduli jepret kamera berkali-kali memprlihatkan lampu bliztnya. Dibukanya lipatan kertas tadi perlahan…
Teruntuk seseorang yang terkasih…
Ibu… aku bukanlah Asma binti Abu Bakar, wanita pemberani anak sahabat setia Rasulullah yang menyembunyikan makanan untuk Nabi dibalik ikat pinggangnya. Bukan juga Fatimah binti Muhammad, anak dari Nabi Besar Kekasih Allah. Aku hanya gadis biasa, yang dilahirkan dari rahim seorang wanita biasa yang tidak luput dari salah. Bukan malaikat yang ditugaskan oleh-Nya untuk melahirkan dan menjadi wanita mulia bernama ibu, tapi manusia yang selalu berbuat kerusakan di bumi, gudangnya salah dan khilaf.
Ibu… wanita mulia itu adalah engkau, yang menghantarkanku pada indahnya dunia dan hangatnya kasih sayang. Aku menyayangimu dengan sangat, betapa pun aku mengelaknya. Maafkan aku yang telah meminta dan menuntut banyak darimu yang tidaklah sesempurna Ibunda Aisyah. Ibu… aku mencintaimu, terlepas bagaimanapun rupa dan perangaimu, meski besar inginku untuk merubahnya. Ibu… jika maafmu masih tersisa, berilah aku satu maaf darimu yang akan membawaku pada ridhoNya. Ibu… aku mencintaimu setelah Tuhan dan Rasulku… meski mungkin rasa ini tak pernah terlukis sempurna, amat mencintaimu sejauh apapun engkau dariku…
Ananda Nadia Amira

Air mata wanita itu seketika meleleh, kini putrinya telah benar-benar pergi… meninggalkan ia dengan sesal yang teramat sangat.

Bogor, 18 Mei 2009


Alhamdulillah lomba ini Juara 1 dalam VISTA (Visualization of Art FORSIA FEMA IPB)