Showing posts with label Curhat Colongan. Show all posts
Showing posts with label Curhat Colongan. Show all posts

Thursday, November 5, 2015

Hadiah=Hidayah




Hidayah hadir saat saya berteman dengan seorang wanita sederhana yang saya panggil 'mbak'.






Saya sedang merindukan sosoknya,
yang setelah kembali ke tanah kelahirannya di pulau Sumatera,
menggenap dan melahirkan seorang putra,
komunikasi kami tidak lagi se-intens dulu.
Jadi, ini dalam rangka dokumentasi masa titik balik dalam hidup saya,
sekaligus sebagai pengingat bagi diri bahwa hidayah itu mahal
dan istiqomah itu butuh perjuangan.

Ia teman sekelas saya ketika tingkat persiapan bersama (tahun pertama di IPB),
sekaligus tetangga kamar asrama.
Saya yang tidak mudah akrab dengan orang,
yang penuh waspada dan diselimuti penyakit kurang pede akut.
Juga saya yang sedikit terpengaruh dengan islamophobia dari media dan keluarga.
Penampilannya yang rapi dan bersahaja sempat membuat saya menjaga jarak.
Saya tidak ingin dipengaruhi. Dicuci otaknya. Dan disesatkan agamanya.
Maka sebisa mungkin saya ciptakan pertahanan.

Belum apa-apa, saya sudah mendeklarasikan diri tak mau berjilbab panjang dan
beragama biasa-biasa saja.
Maka ketika ada wanita-wanita setipe dengan 'mbak', saya menghindar.
Di kolom-kolom absensi acara kampus dimana berkeliaran 'teman-teman' mbak,
saya mengosongkan no telp dan bagian no kamar asrama.
Ketika saya menceritakannya kepada mbak, dia hanya tersenyum.
Tidak menyalahkan. Tidak marah.
Mungkin itu yang membuat saya nyaman bersamanya.
Dan padanya juga saya tidak tega ber gue-elo,
agak sulit awalnya tapi lama-lama aku-kamu menjadi biasa di lidah sampai sekarang. 
(dan ini bisa jadi cerita tersendiri, bagaimana saya latihan membiasakan diri ber aku-kamu dengan seorang teman)

Sering menghabiskan waktu dengannya, membuat saya tahu aktivitasnya.
Sepekan sekali ia ikut pengajian,
yang katanya hanya berisi beberapa orang dipandu dengan seorang guru.
Ia tidak mengajak saya untuk ikut. Tapi saya sudah menekankan padanya,
kalau saya tidak mau ikut pengajian seperti itu.
Lagi, ia hanya tersenyum. Dan sama sekali tidak mempengaruhi untuk ikut.
Suatu kali saya bertanya,
"Kenapa mbak selalu pakai rok? Di Al Qur'an hanya ada penjelasan menjulurkan jilbab ke dada,
tapi tidak ada perintah wajib mengenakan rok."
Saya ingat, saat itu kami sedang di kamar asrama, tepatnya di kamar 212.
Dan ia tengah bersiap untuk pergi menghadiri acara
yang mungkin khusus untuk orang-orang seperti mbak --karena dia gak ngajak saya, hehe. 

"Karena setahu saya, kita dilarang menyerupai laki-laki." jawabnya santai.
Saya diam sambil memeluk guling.
Saya sudah sering dengar kalimat itu saat mengaji di waktu kecil dulu.
Tapi kali ini, ada yang mengusik di hati.

 ***
Malam itu, kami duduk di lorong asrama.
Sudah larut, sebagian besar penghuni asrama sudah tidur. 
Akan berbeda suasananya ketika itu pekan ujian, bisa dipastikan asrama masih ramai sampai larut malam.
Kami mulai bertukar cerita tentang sekolah asal, kota kelahiran, kondisi keluarga.
Dan entah bagaimana, sampai kami tiba-tiba membahas ashabul kahfi, pemuda-pemuda dalam gua.
Di usia saya yang bukan anak kecil lagi saat itu,
saya baru mendengar kisah itu untuk pertama kalinya.
Saya suka baca; cerita putri kerajaan, fabel, kisah rasululloh dari lahir sampai wafat,
kisah 25 nabi, masih sangat lekat di kepala saya.
Tapi cerita yang baru saja diceritakan oleh mbak, membuat saya tampak bodoh.
Saya terkesima, lebih lagi ketika tahu bahwa itu kisah nyata.
Bukan rekaan seperti kisah cinderella dan snow white.
"Itu ada di Al Qur'an, des..."
Jleb!
Saya terlahir di keluarga muslim, hingga saat itu masih muslim..
Dan saya tidak tahu kalau di Al Qur'an yang dipelajari sejak kecil, ada kisah sedemikian dahsyat.
Saya malu. Mau nangis saat itu juga tapi gengsi.
Kesokan harinya saya bertekad untuk membeli sebuah Al Qur'an terjemahan
dan kelak membacanya hingga tamat (khatam).
Ahh.. bahkan saat itu tersadar; belum pernah sekalipun saya mengkhatamkan Al Qur'an.
Dengan terbata, saya biasakan lagi mengeja ayat-Nya.

***
"Des, kalo kamu dapet hadiah rok. Kamu mau pake gak?"
tanyanya di satu waktu. Ia tahu betul tak ada jenis pakaian itu di lemari.
Terakhir saya punya rok, ya rok abu-abu. :D
"Hmm... ya namanya dikasih, harus dipakelah..."
Dan di pagi itu, 17 Desember 2007 saya menemukan sebuah bungkusan berisi rok jeans di depan pintu kamar.
Hadiah ulang tahun darinya.
Dan karena alasan janji yang sudah terucap, keharuan yang menyeruak.
Untuk pertama kalinya, saya mengenakan rok di kampus.
Rekan-rekan yang lain menahan senyum dan bertanya-tanya.
Terlebih melihat bagaimana cara saya berjalan.
Bahkan ada yang mengancam, "Des kalo lo ikut2an kayak si mbak, gw gak mau ah main sama lo lagi."
 --alhamdulillah, ancamannya hanya dibibir saja ^^v

  ***
Kami sedang menunggu ruang kuliah di Fakultas Pertanian,
ketika terdengar kasak-kusuk teman sekelas mendiskusikan sesuatu.
"Lo tau kan des, kalo anak kelas A (matrikulasi) ada pelajaran agama, itu ada praktikumnya gitu.
Isinya pengajian gitu, baca Al Qur'an sama artinya, ada materi-materinya, sama curhat-curhatan.
Semester depan kan kita dapet tuh. Rencananya kita mau mulai sekarang aja, sama SR. Lo mau ikut gak?"
"Sama siapa aja?"
Rekan saya itu menyebutkan nama-nama teman seasrama.
Semua nama itu setipe dengan saya; yang akrab dengan celana jeans dan jilbab pendek.
Entah apa yang membuat saya saat itu mengangguk dengan cepat tanpa paksaan siapapun.
Dan perjalanan saya dengan mereka; para 'laskar bintang' dimulai...
dari lingkaran kecil di sebuah kamar asrama.
Hingga sampai di satu fase lingkaran kami harus melebar,
dan bertebaran di bumi Allah yang lain dengan segala dinamika pasca kampus.

Alhamdulillah...
Terima kasih, mbak.
*Mungkin si mbak pun baru pertama kali mendengar cerita ini :)

Dan di setiap pertemuan kita dengan seseorang, selalu terselip hikmah.
Allah selalu punya cara terbaik untuk mengembalikan kita ke jalur-Nya.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
(QS. Al Fatihah; 6-7)

Jakarta, 5 November 2015 

Wednesday, September 9, 2015

Nunggu apa lagi sih?

“Nunggu apa lagi sih, Des?”

Seorang teman dari masa jeda yang begitu panjang, sepanjang masa penantian penggila AADC menunggu sekuel ke-2 yang baru akan dibuat setelah 14 tahun lamanya.
Ya, 14 tahun lalu sejak kelulusan sekolah dasar dan berpisah di jenjang-jenjang pendidikan selanjutnya. Kami belum dipertemukan lagi sampai kemarin saya tahu ia sudah memiliki jagoan berumur 2 tahun. Dari pertemuan virtual via media sosial, satu per satu sahabat-sahabat di masa imut-imut itu pun bermunculan. Salah satunya dia, teman sebangku saya di kala sekolah dasar.
Wajar saja ketika ia menanyakan itu. Karena saya merupakan salah satu dari segelintir teman sd yang masih mempertahankan predikat single, ketika yang lain sudah beranak pinak-hehe.
Dia bertanya apalagi yang membuat saya betah duduk di ruang tunggu?
Dengan masa sekolah sampai perguruan tinggi  yang sudah saya selesaikan bertahun lalu. Dengan pekerjaan tetap yang sudah saya geluti dua tahun lamanya. Dengan usia yang semakin hari semakin bertambah. Dan tenang, saudara sejomblo seperjuangan setanah air :)
Saya selalu punya jawaban yang mewakili perasaan kalian (tsaahhh) untuk pertanyaan seperti itu.
“Nunggu calonnya.” It’s simple. Karena saya gak mau ribet jawab panjang lebar via bbm. Kecuali yang bersangkutan minta saya jawab via blog :)
In my humble opinion, seseorang memilih menikah bukan karena sudah jadi sarjana, sudah jadi pegawai tetap, sudah penuh tabungannya, sudah cukup usianya, atau sudah banyak ditanya dimana-mana. Dan bukan karena sudah ada calonnya juga. Karena banyak yang sudah pacaran bertahun-tahun , gak nikah-nikah juga,see?
“Jangan cuma nunggu des, tapi dicari.”
Yup. Sepaket! Definisi menunggu di sini memang bukan berarti berpangku tangan. Tentu saja, saya, kami dan para kaum ‘jomblo mulia’ lainnya sepakat bahwa kami tidak boleh berhenti ikhtiar. Namun tentu saja, ikhtiar kami berbatas hal-hal prinsip yang diatur dalam syariat.
Dan dari seribu satu ikhtiar, kelak semua akan bermuara pada ketentuan-Nya.
“Dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
(QS. Al An’aam (6): 59)
Saya hanya sedang menunggu ketentuan-Nya, darl….. :)
~special untuk yang sedang sama-sama menunggu, 080915

Thursday, July 23, 2015

Ikhtiar...?

"Dest, gimana kabarnya? Gimana ikhtiar walimahannya? Aku juga masih ikhtiar nii.."
Saya bergeming setelah membaca inbox facebook yang masuk beberapa hari yang lalu dari seorang rekan yang sedang menimba ilmu di negeri orang itu. 
Dari sekian macam pertanyaan "Kapan nikah?" (Ini yg paling gak kreatif menurut saya. Haha) ; "Kapan nyusul?" (Dikira lagi balap karung kali ah :p) "Kapan undangannya?" (Yang ini mungkin lebih visioner krn mau nyiapin kado barangkali. Wkwk) Yang ketika saya jawab secara diplomatis "Mohon doanya aja." Sambil mesem semanis mungkin, diikuti dengan pertanyaan menyudutkan dari si penanya "Tapi calonnya udah ada kan?" Seakan kalo saya jawab belum, dunia akan kiamat. 
Ok. Saya sebenarnya punya jawaban pamungkas dari tipe pertanyaan macam itu. "Udah. Udah ada. Semua orang kan udah punya jodohnya masing-masing. Jangankan saya, si A (nyebut nama bayi tetangga yang baru lahir) aja udah ada jodohnya. Cuma belom ketemu aja." Sambil nelen ludah. Pait. Haha.
Kembali ke pertanyaan rekan saya, "Gimana ikhtiarnya?" 
Butuh waktu untuk menjawab pertanyaannya. Sudah sejauh mana ikhtiar saya? Lalu mencoba menghitung dengan jemari. Ikhtiarkah semua itu? Atau justru bercampur dengan banyak kecerobohan?


Wednesday, July 1, 2015

Siapa saya?

Da aku mah apa atuh, cuma pegawai bank yang bisa nawarin produk tabungan, deposito atau kpr. Hehehehe
Kadang di saat gak ada lagi bahan obrolan, kita terlalu terbawa suasana. Mencari-cari apa kira-kira yang akan dibicarakan. Berhubung keseharian saya berkutat dengan produk2 perbankan, ya otomatis menu wajibnya itu. Iseng-iseng berhadiah gitu, kalo minat alhamdulillah nambah pencapaian target, kalo gak ya buat pengetahuan lawan bicara atau sarana menghafalkan gratis buat saya. Hehe, pissss.
Ya tapi ada plus minusnya sih. Kelak apa yang teman kita tanyakan bukan lagi,
"Hai des, apa kabar? Gimana sehat? Sibuk apa? Aku kangen deh, ketemuan yuuk..."
Atau
"Hei kemana aja kamu des, kok undangannya belom dateng juga? Jangan2 udah nikah ya? Punya anak berapa? Ih kamu jahat gak ngundang2." Zzzzz kalo yang begini didelete sih alhamdulillah. Haha.
Tapi, bunyinya kira-kira akan seperti ini.
"Des, atm gw ilang. Cara ngurusnya gimana ya?"
"Des, deposito di tempat lw bagi hasilnya berapa?"
"Des, mau ngajuin kpr dong.. syarat2nya apa aja?"
"Des, bedanya syariah sama konvensional apa sih?"
Bukan berarti ga ada yang nanya,
"Des, gw mau ngajuin diri jadi suami lw. Syarat2nya apa aja?" Hahahaha #intermezzo.
Ya gitu jadi kadang-kadang mereka lupa kalo selain pegawai bank, saya juga seorang teman yang baik hati tidak sombong dan rajin menabung-tapi bisa dengan mudah ditarik lagi di teller :D
Hmmm atau sebenarnya saya yang lupa, kalau mereka sahabat-sahabat saya. Bukan sekedar nasabah atau calon nasabah. Fiuhhh... istighfar dest....

Jakarta, 1 Juli 2015

Wednesday, May 27, 2015

Hidup Normal?

Tetiba muncul pertanyaan lagi, setelah seseorang bertanya kepada saya "Tidak bisakah saya menjalani kehidupan yang normal-normal saja?"
Saya terusik, mempertanyakan bagaimanakah kehidupan normal itu?
Mungkinkah maksudnya, kehidupan yang berjalan sesuai ritmenya. Sekolah di saat yang lain sekolah. Kuliah di saat yang lain kuliah. Bekerja di saat yang lain bekerja. Menikah di saat yang lain menikah. Melahirkan di saat yang lain melahirkan. Kemudian mati di saat yang lain mati?
Hidup normal? Apakah itu artinya hidup tanpa ujian?
Nyatanya setiap orang yang kita lihat menjalani hidup normal a.k.a baik-baik saja tidak semata-mata seperti yang terlihat kan?
Jadi adakah hidup normal itu?
Hmm...


Semoga kita bisa melewati ujian kita masing-masing dengan hasil terbaik.

DiBawahLangit Jakarta, 27 Mei 2015

Sunday, October 13, 2013

Putaran Roda-180Derajat



Dulu, seringkali saya bertanya pada diri sendiri "Kenapa harus saya yang mengalami kejadian ini? Kenapa bukan dia, bukan mereka, atau bukan kamu?" "Kenapa takdir serumit ini?" "Kenapa? Kenapa dan kenapa?"

Hingga sebuah taujih menampar saya telak, bahwa kata "kenapa" bukanlah sebuah pertanyaan melainkan sebuah gugatan. Dan pantaskah kita, saya menggugat Allah? Astaghfirullah... hingga saya berhenti pada sebuah kesadaran dan keyakinan, bahwa setiap peristiwa memiliki hikmah. Meski entah kapan kita baru bisa mengetahuinya. Bahwa rencana Allah selalu indah.

~~~

Saya ingat, malam itu saya menangis sesungukkan. Saya, seorang perempuan yang pantang mengeluarkan air mata di depan orang lain, benar-benar banjir air mata. Ini sudah klimaks. Akumulasi dari rasa kesal, marah, sedih. Pertemuan malam itu juga merupakan klimaks. Akibat pesan singkat yang saya kirim, pernyataan bahwa saya memilih mundur.

Pertemuan malam itu merupakan mediasi antara saya dan partner kerja saya di sebuah organisasi kampus. -Yang saya baru ketahui setelahnya, bahwa partner kerja saya itu juga mengirimkan pesan yang sama, menyatakan mundur.- Saat itu saya merasa benar-benar berada pada posisi tersulit. Terhimpit. Seakan tidak ada masalah yang lebih besar dari masalah saya.

Saya menumpahkan semua keluhan saya, dan dia hanya diam. Saya merasa puas dan lega. Sekaligus merasa heran dengan diamnya rekan kerja saya. Kadang sikap datarnya itu membuat saya bete gak karuan. Karena saya merasa justru dikacangin, merasa kalau apa yang saya katakan hanya angin lalu. Hingga akhirnya mediasi itu hanya menjadi ajang curhat saya. Esoknya kami masih dinaungi organisasi yang sama. Melakukan pekerjaan bersama. Seolah tidak terjadi apa-apa.

~~~

Hari ini, saya mendengarkan dengan seksama keluhan rekan kerja saya di kantor, sebut saja A. Setelah beberapa hari saya melihat ia marah-marah tak karuan ke sesama rekan kerja lain di kantor, sebut saja B. Bisa dikatakan sebenarnya B ini atasannya, atasan saya juga, hehe. A mengeluhkan sikap santai B, sikap tenangnya yang kadang dianggapnya sebagai tindakan kurang sigap. A juga mengeluhkan B yang hanya bisa mengerjakan satu pekerjaan di satu waktu, sehingga terkesan -maaf- lambat.

Saya lagi-lagi hanya memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama. Sekali-kali mengangguk, dan satu waktu tersenyum :)

Ya Allah... saya seperti melihat putaran video di hadapan saya. Kejadian masa lalu saya terekam dengan jelas. Saya melihat A adalah saya, dan B adalah rekan kerja saya. Hingga akhirnya saya membisiki diri sendiri, ternyata ini, ternyata ini jawaban atas hikmah yang saya cari bertahun lalu. Saat itu Allah Swt. tengah mempersiapkan saya untuk hari ini. Allahuakbar!

Dengan sebisa mungkin memberikan pencerahan yang tidak terkesan menggurui, saya mencoba membuka pola pikir A.

*Pertama saya jelaskan bagaimana psikologi laki-laki, salah satunya yaitu bahwa mayoritas kaum adam tidak bisa multi tasking. Wanita bisa menerima telpon + mengetik di kompt + berbicara dalam satu waktu. Sedangkan kebanyakan laki-laki tidak bisa melakukannya. Dan ini membuat kaum hawa merasa laki-laki begitu lambat dalam melakukan pekerjaannya. :D

*Kedua, saya ajak ia berandai-andai. Jika saja B tipe orang yang reaksioner menanggapi dengan serius protes2 maupun keluhan A, coba bayangkan apa yang terjadi? Akan terjadi perang dunia ketiga! Hehehe.

*Ketiga, coba bayangkan kalo B tipikal orang yang -kembali lagi- reaksioner. Saya bisa guling-guling di tanah setiap hari! Hahahaha. (Fyi, saya tipikal orang yang gampang sekali panik. Jadi bisa ditarik kesimpulannya sendiri kan?)

Akhir kata... jangan pernah menyesali hari ini, yakinlah suatu hari nanti kita akan mensyukuri hari ini.


                                                                                    diBawahLangitBogor_13 Oktober 2013


Wednesday, October 2, 2013

Kualat-180Derajat

Masih di dunia saya yang kebolak 180 derajat.
Jadi ceritanya gini, dulu zaman saya masih jadi mahasiswa (perasaan baru kemaren dah! :D) Saya punya temen, sebut saja namanya.... hmmm apa yak enaknya nyebut tu orang ^^v; Dipdul aja dah, wkwkw. *sambil berdoa khusyuk semoga dia kagak baca postingan ini, ato minimal mata-matanya gak berniat buat ngasih tau dia* :p
Si dipdul ini asli rempong abis, karakternya bertolak belakang banget sama saya. Mungkin karena cara berpikir, cara melihat suatu masalah, kebiasaan, plus karakter yang jungkir balik ini bikin kita jadi sering bersilang pendapat (bahasa halus dari berantem,haha). Dan isengnya lagi, saya juga gak bisa diem aja liat kerempongannya. Padahal bisa aja saya cuekin, tapi rasanya gatel aja pengen komentar. Hahaha. Asli saya baru nyadar kenapa sekurang-kerjaan itu, ckckck.
Salah satu yang paling saya komentarin adalah tentang kepiawaian dia menjaga penampilan. Sampe-sampe saya yang cewek merasa kalah telak! Pokoknya perawatan si dipdul komplit bin lengkap dah. Pokoknya dari produk A sampe Z. Jadi kalo kita-kita lagi ke luar kota, ada cara kondangan dimana gitu bawaan dia segambreng. Saya yang cuma punya senjata andalan 'bedak' doang cuma bisa melongo. Hahaha. Dipikir2 kacau juga ya saya, karena pake bedak aja kalo lagi inget. Dan keseringan lupanya :D
Udah ah flasbacknya :))
Inti dari postingan ini adalah, ketika detik ini saya melirik pouch berwarna ungu yang isinya macem-macem dan setiap hari harus saya bawa ke kantor. Benda-benda yang belakangan mulai mengakrabi keseharian saya, yang bahkan tidak pernah saya niatkan untuk mengenal mereka sebelumnya. Dan setiap mulai menyentuh benda-benda itu saya jadi teringat betapa bawelnya saya zaman dulu, betapa isengnya saya kala itu, betapa rese nya saya. Haha.
Oh iya satu lagi, si pecinta sendal jepit ini sekarang mulai sahabatan sama heels 5 cm. Hello itu pendek kali deeessst, haha tetep aja suatu keajaiban buat seorang desti :D

Be positive!!
                                                                                        diBawahLangit Jakarta, 2 Okt 2013



Wednesday, August 21, 2013

NTMS

Ketika bisul yang sudah masak tidak juga pecah, maka berarti bisul itu harus dipaksa pecah, bukan?? #analisisdodol

Finally, akhirnya saya memilih menyelesaikannya.
Meski saya harus berulangkali berteriak kepada diri sendiri,
 "Hoyyyyyyy! Selesai, Dest! Selesai! Sudah saatnya selesai." lalu menyeringai lebar.
Bukan lega, tapi lebih tepatnya ngenes. Wkwkwk (Percaya kalau saya benar-benar sedang tertawa? Percayalah, setidaknya itu akan membuat saya lebih baik.)

Tidak peduli seberapa sering kamu jatuh, yang terpenting adalah berapa kali kamu bangkit.

Taaaaaaaadaaaaaaaaaaa........ mari menikmati masa kebangkitan untuk keseribu kalinya, Dest.
Dan, berjanjilah tidak akan jatuh di lubang yang sama layaknya seekor keledai. Good Luck!

Saturday, August 3, 2013

Nasib Layang-Layang

Belakangan, saya benci sekali ditanya sedang sibuk apa. Pertanyaan itu tak ubahnya sebuah pedang yang mengoyak sisi terdalam hati saya. Sudah setahun saya jobless, dan beberapa bulan belakangan saya sudah meninggalkan dua kegiatan yang merupakan hobi saya: berdagang & menulis. Awalnya sulit, tapi sekarang justru lebih sulit menimbulkan hasrat berdagang dan menulis kembali.

Sebuah perusahaan yang me-recruit saya sejak bulan mei, tak kunjung memberi kepastian. Setelah melempar saya ke sana ke mari, telpon terakhir dari mereka justru meminta saya kembali menunggu; tepat di saat saya memutuskan untuk move on. Hingga saya akhirnya mentoleransi kembali hati saya untuk bersabar, saya butuh sabar yang lebih banyak, banyak sekali.

Saya merenung, apakah nasib saya akan serupa layang-layang? Tarik ulur. Tarik ulur. Dan hanya menunggu untuk putus? Apakah saya dibiarkan menunggu untuk dinyatakan selesai? Entah ini perusahaan keberapa yang saya teror dengan surat lamaran. Tapi perusahaan ini merupakan tempat transit saya terlama. Transit? Ah, sejujurnya saya amat berharap kali ini saya menemukan dermaga. Bukan terminal. Tapi, apa daya saya kalau ternyata masih ada tempat lain yang harus saya datangi? Meski saya tidak yakin, masih punya tenaga atau tidak untuk sekedar berjalan menuju ke sana.

Bohong kalau saya tidak bertanya-tanya, kenapa? Kenapa jalan saya begitu berkelok-kelok? Kenapa jarak kemudahan dan kesulitan yang saya alami begitu jauh? Kenapa harus saya yang mengalami? Kenapa? Kenapa? Kenapa, Rabb?

Tapi lalu saya merunduk kembali, saya tidak akan pernah menemukan jawaban untuk pertanyaan 'kenapa' yang saya ajukan sampai kapan pun. Yang bisa saya lakukan hanya menunggu, menunggu apa sebenarnya rencana indah yang Allah siapkan untuk saya. Entah kapan.

Well, lihat saja kemana layang-layang ini akan terbang...

Saturday, March 9, 2013

episode #garukgaruktanah

Ceritanya, saya sudah merencanakan malam ini akan menyelesaikan proyek yang semakin mendekati deadline. Atau, jika mandek, saya akan beralih ke proyek pribadi yang sudah masuk halaman 60an. Tapi... rencana tinggal rencana, file yang sudah asik nongkrong malah dicuekin. Hmppffttt...

Ternyata begini ya rasanya 'harap-harap cemas' itu?

Arghhhhhh hentikan berharap kepada selain Allah, dest!

*aseli ini tulisan gak meaning banget ya?? #garukgaruktanah

Tuesday, February 5, 2013

Perfect

Hampir sepekan tanpa kacamata, untuk seseorang yang masih memiliki mata normal mungkin sama sekali tak masalah. Tapi untuk, pengidap miopi seperti saya, ini sangat mengganggu. Ketika jarak penglihatan makin terbatas, dan kepala seringkali diserang rasa pening. Yup, kacama saya patah sehingga tidak bisa digunakan lagi. Lembiru menjadi alternatif yang terakhir dan harus segera dilakukan.

Lalu, beberapa hari setelahnya... hujan deras tanpa sengaja memandikan hape saya. Alhasil LCD-nya tak sebening dulu, meskipun sudah dikipas semalaman, dijemur di atas magic com, tetap saja tak kembali seperti semula. Belakangan saya tersadar kalau ia tak bisa lagi mengeluarkan bunyi ketika ada sms masuk ataupun panggilan masuk. Dan, hey iya juga tak bisa lagi memutar musik kegemaran saya.

Lalu, hari ini tetiba teman lama saya mengajak ngobrol via telpon, beberapa kali ia mengeluh suara yang putus-putus. Mungkin karena signal yang jelek. Beberapa kali telpon sengaja dimatikan karena tak bersuara katanya. Dan, setelah diselidiki, ternyata masalah ada di hape saya. Hmmmm...lembiru lagikah?

Awal bulan yang 'perfect'....

Tuesday, January 1, 2013

Epilog Awal Tahun

"... sejak bertemu denganmu, aku tidak lagi takut menjadi seorang pemimpi."

*and i really really hope, sometimes i want to tell that to someone,.

Monday, December 31, 2012

Bye... 2012

Ini masih siang. Dan gue udah melow!

Di rumah juga lagi gak hujan, ya paling angin sepoi-sepoi yang menggoyangkan jemuran baju gue di belakang rumah. Apa mungkin karena hari ini adalah hari Senin? Ngaruh gitu? Hehe. Bukan harinya kali, tapi tanggalnya! Yap! Tanggal 31 Desember 2012. Itu artinya besok [kalo masih ada umur] adalah tanggal 1 Januari 2013. Memasuki tahun baru masehi, tenang... gue bukan mau merayakan kok, bukan juga mau menganggap special tahun baru ini. Hanya saja mau mereview apa saja yang terjadi pada diri gue di tahun ini.

Rasanya pengen mewek sejadi-jadinya kalo mikir banyak banget yang belom gue capai di tahun ini.... seriuss.... really, really desperate! Tapi alhamdulillah, gue masih sangat-sangat yakin dengan firman Nya "... setelah kesulitan ada kemudahan. Sungguh, setelah kesulitan ada kemudahan." Tuhan gue gak pernah bohong, gak akan. So, Dialah yang membuat gue kuat menghadapi semuanya, semua ujian yang akan membuat gue Naik Kelas!

Sepertinya akan sangat naif kalo gue hanya menuliskan berbagai kegagalan yang sukses bikin gue berada di titik terburuk dalam hidup. Karena setelah gue list, ternyata banyak yang gue dapatkan di tahun ini. Yes! Sedikit meng'copas' cara Dian Sastro membuat hidup ini bahagia, yaitu menuliskan apa saja yang membuatnya bahagia setiap hari [gue liat ini di Hitam Putih Trans7]. Maka, gue juga akan me-list apa saja kenikmatan yang Allah kasih cuma-cuma ke gue di tahun ini, tahun 2012.

1. Skripsi gue di ACC sama dosen PS!!! Yihaaaaaaa..... asli pengen loncat-loncat rasanya sanking berbunga-bunganya hati gue. Ya Allah... berbagai lika liku yang gue hadapi akhirnya selesai. Artinya gue selangkah lagi menuju wisuda! Syalalala. SKL gue keluar tepat tanggal 1 Februari 2012 [FYI, gue pernah menuliskan target ini di dreembook yang pernah gue buat sebagai tugas kewirausahaan sewaktu TPB]

2. Gue wisuda... sekali lagi... GUE WISUDA!! Pake Toga, pake baju kebesaran [yang asli beneran gedeeee meeen :D] di tanggal 25 April 2012. Bareng sohib-sohib gue, Feri, Neno, Diqin, Bengbeng and others

Ini salah satu pic gue, hayooo gue yang mana?? Haha..yang pasti carilah mana cewek yang posenya gak ada anggun2nya meskipun udah pake kebaya :p

3. Sebenernya sambil nunggu wisuda gue sempet freelance di Diploma IPB. Bantuin staff untuk seleksi USMI [Undangan Seleksi Masuk IPB] D3. Barengan sama Aslimah, bengbeng, diqin. Dan alhamdulillah, ternyata fee-nya dahsyat! Ya, bisa ngebantu pendanaan wisuda gue yang gak murah. Plus tetek bengek kebaya dan perlengkapan cewek lainnya yang lumayan nguras kantong. :d

4. Gue berhasil mengunjungi Penerbit Mizan naik kereta, PT PTI di Ciledug [numpang nginep di rumah si ami-chan], PT Busana Apperal Group di Jl. Sudirman sana, PT Fresh On Time Seafood di Jl. Raya Bekasi, Sekolah Alam di Sawangan Depok, dll. Jalan-jalan berkedok nyari kerja, hahaha

5. Beberapa tulisan gue dimuat di Annida Online, alhamdulillah. Meskipun beberapa cerpen dengan sukses dirijek juga :D baca di sini

6. Gue diterima sebagai pengajar di SDIT AU [akronimnya dirahasiakan ah :)] sebagai Guru Mata Pelajaran Matematika sodara-sodara! Plus ngajar Bahasa Indonesia juga. [Ini bener-bener diluar perkiraan gue] Gue menolak ngajar di bimbel, sekolah alam, dan pada akhirnya gue malah beneran kecebur di 'Sekolah'. Rencana Allah memang tak pernah terduga :) *FYI, gue bertahan 4 bulan saja.

7. Gue ketemu sama temen baru, Neng Nuraeni [ini temen jalan, temen curcol, temen gila di sekolah :D] dan Bu Titi [ini temen curhat, karena beliau sungguh2 keibuan dan membuat gue nyaman dengan semua wejangannya :)]

8. Gue ketemu anak-anak dari kelas 1 sampe 6, yang membuka pikiran gue tentang dunia anak-anak. Menambah keilmuan gue tentang parenting, sedikit contoh 'anak nakal di sekolah adalah hasil keluarga yg kurang perhatian. Sejak itu gue bertekad akan jadi ibu yang baik buat anak-anak gue kelak. Gua pengen jadi ibu yang inspiratif buat anak-anak gue, gue pengen melihat perkembangan mereka, oh.. so sweet... :)

9. First time gue ngerasain flying fox [hahaha sumpah norak!]

10. Berkenalan dengan dunia pendidikan, sehingga gue kelak bisa menempatkan posisi gue sebagai orang tua[kelak] dalam menghadapi sekolah dan guru-gurunya.

11. Gue merintis usaha gue di href="http://www.facebook.com/adzkia.oshop">d'adzkia shop alhamdulillah lumayan untuk pemula, dan gue berencana akan lebih mengembangkan lagi di 2013 mendatang.

12. Gue sangat sangat bersyukur masih dijaga Allah, gue masih disayang sama Allah,, gue dikasih kesehatan, keluarga yang utuh, adik2 gue yang meski bandel tetep sayang sama kakaknya yang semirna-mirna ini, dan masih banyak-banyak-banyak lagi. :) Thank U Allah

Sebenernya masih banyak lagi yang harus gue tulis, tapi kalo kebayangan nanti pusing juga yang baca [padahal gue doang yang baca,haha]. Well, berhubung tahun 2012, jd gue tulis 12 poin aja dah :) tanpa mengurangi rasa syukur gue ^^v

Sunday, December 30, 2012

One Day No Rice!

Judul di atas bukan lagi kampanye yaaa... :)

Meskipun di salah satu sudut kota di provinsi Jawa Barat sedang gencar mengampanyekan hal tersebut.

Ceritanya satu hari yang lalu saya nonton Warna, sebuah acara di Trans7. Temanya tentang singkong dan keutamaannya. Katanya singkong itu bagus banget buat diet! Hehe. Ketauan deh nih arah tulisannya kemana :)

Ok. Saya ngaku, saya lagi kepengen dieeeeeettt. Gak pengen kurus-kurus banget sih, minimal turun 10 kg lah... supaya rok-rok di lemari bisa dipake lagi :D Terhitung sejak masa-masa perjuangan skripsi bertahun lalu [tsahhhh] rok-rok itu semakin menyiksaaa. Pertanda kalau lemak di tubuh saya berkembang biak sangat pesat [ternak kaliii berkembang biak :p].

Sejak dulu saya nyaman-nyaman saya dengan berat badan yang menurut saya ideal :p Saya juga bukan tipikal orang yang sensitif ketika disinggung masalah bobot badan. Makan sesukanya, karena motto saya adalah makanlah selagi bisa makan [hahaha] So, sama sekali gak ada pantangan makanan dalam piring saya. Tapi ternyata, motto itu mulai terasa menyesatkan ketika tanpa sadar timbangan saya makin hari makin nambah. Dan semakin banyak orang yang menunjukkan perhatiannya dengan pertanyaan, "Loe gendutan ya?" ato "Mbak, kok sekarang gendut banget?" ato "Udah lama gak ketemu, mbak kok kelihatan beda ya, gak ngapa-ngapain ya di rumah?" ato "Mbak sekarang chubby banget pipinya." Tuh kan baca, meskipun tata bahasanya beda, tetep saja artinya sama!:(

Tapi sekarang saya mengerti, kenapa pertanyaan ini begitu sensitif bagi kaum hawa! Apalagi kalau yang bilang 'tampak lebih sehat' itu musuh bebuyutan --> para mahluk mars!!! Tapi kekesalan saya itu gak ngefek apa-apa, saya sama sekali gak kepikiran diet dan malah asyik menikmati menu-menu makanan. Haha! Parah kan? Itulah kenapa saya dibilang super duper cuekkkkk wek wekkk :p

Hingga suatu saat, Warna menunjukkan jalan. Kalau diet itu gak harus kelaparan. Gak harus lemes karena nahan perut keroncongan. Tapi diet adalah mengatur pola makan, atau bisa juga mensubtitusi bahan makanan. Contoh subtitusinya adalah mengganti beras/nasi dengan karbohidrat lain seperti singkong! Olala... ini yang saya cari. Diet tapi gak kelaparan!!

FYI, singkong merupakan bahan makanan dengan kandungan karbohidrat yang lebih rendah dari nasi dan roti, dengan kandungan serat yang tinggi sehingga membuat perut tetap terasa kenyang dalam waktu yang lama.Singkong merupakan umbi yang banyak sekali mengandung Insoluble Fiber atau Serat yang Tidak Larut dalam Air. Serat jenis ini berfungsi memperlancar proses buang air besar, serta mampu nyerap dan membuang toksin dalam usus, sehingga pencernaan Anda menjadi sehat. (sumber)

Berdasarkan info tersebutlah saya berniat mencoba hari-hari saya tanpa nasiiii. Kemarinlah tepatnya saya mencoba, mengganti nasi kesayangan dengan singkong. Alhamdulillah, saya berhasil melewati hari saya tanpa nasi [horaaaaay!!]. Insya Allah saya akan mencoba program ini selama sebulan, tapi emang berat sih ninggalin nasi sekaligus. Makanya hari ini saya masih makan nasi, tapi membatasi. Seperti sarapan singkong, siang nasi, malam kentang. Nih lagi searcing menu-menu berbahan singkong/ kentang [kenapa tiba2 ada kentang? Soalnya saya bosenan orangnya, makanya mix n match with potatos :) Tapi saya juga heran kenapa saya gak pernah bosen makan nasi?? #abaikan]

Doakan sukses ya program saya ini!! hosh!!! semangatttttt!

*Insya Allah next akan posting menu-menu berbahan dasar singkong dan kentang untuk mengatasi kebosanan

Saturday, December 22, 2012

Ahlan Wa Sahlan 2013

My resulotion 2013

First... tetap berpenghasilan!! Setelah 4 bulan ngajar di sekolah islam terpadu, akhirnya saya memutuskan untuk resign, tepat 1 Januari 2013. Well, tahun baru resmi jadi pengangguran lagiiii *entah ini ekspresi bahagia atau melasss. Itu artinya harus kembali berkutat dengan dunia tulis menulis (CV dan Surat lamaran, wkwkw). Mengencangkan ikat pinggang kembali untuk memenuhi kebutuhan, ongkos, naluri jalan2, juga print dan biaya modem untuk kirim-kirim lamaran.

Kembali produktif menulis cerpen, juga mulai gerilya kirim2 naskah novel ke penerbit. Syukur-syukur ada yang nyantol... amiiiin....

Pastinya mulai meniti usaha kembali sambil menunggu lamaran di acc CEO.

Dan....hmmm,, harus sudah mulai menyeriusi pertanyaan-pertanyaan 'itu'. Okay, ikhtiar akan segera dilancarkan,,,,! hosh!!

Mulai mewujudkan mimpi untuk ngebolang ke seluruh Indonesia! Yeahhhh! Syukur-syukur kalo ketemu sama jodoh yang suka ngebolang juga, #eh #keceplosan kan ah :D

Wait, sebenernya kalau poin ke-4 sudah terpenuhi. Jalan menuju poin sebelum maupun berikutnya akan sangat mudah. Hmmm....

Banyak sekali resolusi saya di tahun depan sebenarnya, tapi... mungkin akan bersambung lain waktu. Harus istirahat cukup malam ini, besok ada agenda kemping di sebuah bukit bersama anak-anak. Sekaligus agenda terakhir saya di sekolah. Must be optimal! (ngaco banget nih b inggris gw yak? :D)

Tuesday, December 18, 2012

"Move On"

Well, ceritanya tadi siang sepulang kerja langsung pegang remot nongkrong di depan tipi. Awalnya cuma iseng ganti channel sambil istirahat bentar. Eh, ketemu FTV gitu... ceritanya tentang cewek yang terobsesi jadi penulis novel (gue bangeeeett,haha). Karena itu cerita kayaknya gue banget, makanya gue jadi pantengin deh. Nyari kerja sana-sini, dibilang gak jelas karena gak punya kerjaan, dibilang pemimpi karena cita-cita kok jadi penulis, ahh.. hidup gue sebagai pengangguran seperti terbuka kembali :p

Terus tetiba dia dapet panggilan wawancara sebagai editor di sebuah penerbitan terkenal. Pengen garuk-garuk tanah rasanya! Okay, sampe disitu itu masih gueeee... (masih kebayang berangkat dari kosan jam lima subuh, naik kereta sumpel-sumpelan, cari alamat sana-sini, cuma buat wawancara. Belum lagi ngisi soal yang banyaknya ammmpuun... ampe lecet rasanya jari.) Tapi lagi-lagi cuman FTV, masa iya ada orang ngelamar kerja nekat pake celana jeans bolong-bolong & sepatu cad jebol. Asli ini asal banget. Udah itu keterima pula akhirnyaaaa (hiks, sayangnya gue gaaaakkk) Mupeng banget dah liat kerja di kantor penerbitan yang gak jauh-jauh sama buku-buku... hua huaaaaaa

Baru nyadar kalo belum bisa move on dari mimpi iniiiii....

Friday, November 23, 2012

H2C

Well.. hari ini berasa 'something new' , seperti menemukan harapan kembali. Dan akhirnya menemukan perasaan ini lagi. Di saat semuram apapun warna langit di atas sana, kita masih bisa merasakan harum kebahagian yang merambat. Ahh, harum sekali hingga tak mau berhenti tersenyum :) Di saat perasaan khawatir dan ketenangan beradu membentuk wanginya tersendiri. Di saat secara bersamaan detak jantung berbunyi nyaring sekaligus perasaan sesak yang meluap.

Rabb... Engkaulah yang paling mengetahui perasaan apa yang berkecambuk di dada ini. Engkaulah yang paling tahu harapan apa yang tengah melambung di hati ini. Semoga jalan yang telah kupilih ini adalah jalan terbaik. Jalan yang akan membawaku pada keridhoanMu di dunia maupun akhirat. Jalan yang akan semakin mendekatkanku padaMu, bukan sebaliknya. Jalan yang membuatku semakin bersyukur atas semua yang Kau berikan.

Rabb... kumohon dengan sangat....

Sunday, October 21, 2012

#DreamProject

FIRE!

Entah ini tahun ke berapa sejak saya mengazzamkan diri untuk bisa terus menulis. Bahkan pernah bermimpi untuk melihat buku saya di rak-rak toko buku terkenal. Impian itu terlintas begitu saja ketika saya duduk di bangku SMA, saat itu saya dan beberapa teman biasa nongkrong di gramedia selepas sekolah ataupun weekend.

Berbeda dengan teman-teman saya yang memanfaatkan momen itu untuk mencuri baca komik terbaru. Saya justru asyik berdiri di bagian karya fiksi, mondar-mandir mengamati judul buku-buku itu beserta penulisnya. Setiap saya ke sana, pasti ada judul baru dan penulis baru yang asing di telinga. Lalu kapan giliran nama saya yang terpampang di sana???

Mimpi sederhana itu rupanya terus merangsek, bahkan selepas saya menyelesaikan studi di bangku kuliah. Bahkan mimpi itu semakin membesar, membuat sesak hati saya. Usia semakin beranjak; sementara mimpi belum juga terealisasi. Ugh!

Akhirnya tekad itu harus kembali dibulatkan. Dan menjadi langkah kongkrit!

#DreamProject ini akan di mulai sekarang. Target pertama adalah menyelesaikan satu judul novel saya di file komputer yang mandek di halaman ke-88. Ide novel ini pun sebenarnya sudah tertuang sejak saya mulai kuliah, tapi sampai lulus belum juga selesai. Hadeuuuh! Targetnya tak muluk-muluk, minimal selesai 100 halaman utuh. Lalu mengirimkannya ke salah satu penerbitan yang sudah saya cari tahu informasinya. Ya, itu minimal. Walaupun misalnya tak layak terbit, setidaknya saya sudah pernah mencoba. Hosh!!! Semoga berhasil Desti Adzkia :)

Innallaha ma'ana...

Tuesday, October 16, 2012

Efek Perahu Kertas 2

Kemarin, temen kantor ngajak nonton #perahukertas2. Kebetulan haris senin nonton lumayan murah. Baiklah, sepertinya saya butuh refreshing... sedikit pernah denger garis besar cerita seorang teman mengenai novelnya. Tapi inikan sekuelnya? Padahal saya belum nonton yang pertama. Baiklah, lagi-lagi dihitung sebagai refreshing. Sedikit terlambat masuk studio, akhirnya sedikit agak nyambung dengan ceritanya. Sambil dibisikin juga sama temen kantor itu soalnya,hehe ^^v

Ceritanya memang sudah sering diangkat, tentang "cinta" dua pasang muda-mudi yang diuji sedemikian rupa hingga akhirnya bersatu. Manis. Cukup saya menuliskan kata itu untuk menyimpulkan kisah cinta dan Kugy dan Keenan :)

Ok, sedikit lagi... bahwa tak perlu khawatir perihal seseorang yang kelak akan mendampingi kita. Ia ada, nyata, sudah disiapkan. Dan pilihanNya tak akan salah. Jadi saya sih nyantai aja...haha #tampangdikalemkalemin

Tahu gak? Tapi justru saya nangis bukan di adegan-adegan sedih. Saya merasa justru nangis waktu Kugy bahagia dipecat Remi. Saya sedih waktu Keenan balik ke Bali untuk melukis lagi. Saya sedih dan menangisi diri saya sendiri.

Saya, ikan yang memaksakan diri hidup di darat.

Saturday, May 26, 2012

Miss IPB so bad!

Duh malam melodramatik datang kembali... Bukan, bukan karena ini malming lho! asli bukan itu. Karena malming buat gw bukan hari yang harus di sepcial kan. Membaca status junior yang masih malang melintang di kampus, jadi inget sama masa-masa itu.. Masa-masa jadi mahasiswa, masa dimana lebih sering ketemu sama bulan daripada matahari. Ya, jadwal kuliah senin-jum'at full time masuk jam 07.00 teng, selesai jam 17.00 yang kadang nyerempet adzan maghrib. Well, keluar kostan sebenernya jam 6 kurang. Trus balik kalo sempet ke kostan buat sholat maghrib, trus keluar lagi sebelum jam 7 malem buat rapat. Ok, lebih sering sholat di mesjid kampus sebelum rapat di lapak-lapak rapat (langganan tempat rapat kelembagaan di kampus saya biasanya area fakultas pertanian). Dan selesai rapat biasanya maks jam 9 malem, berhubung kostan saya menggunakan sistem jam malam (jam 9 pintu dikunci). Jam ( kurang 15 biasanya udah undur diri dan lari2 sambil berharap sempet beli telor penyet atau sekedar roti dan susu pengganjal perut :) Tuh kan suka ngelantur kemana-mana nulisnya..hehe Sebenernya saya sedang mengenang masa-masa jalan dari mesjid kampus melewati jalan arah seafast fakultas teknik pertanian, dengan penerangan remang-remang... sambil menengadah ke langit diselingi obrolan ringan bareng temen jalan; entah itu bahas asprak rese, dosen killer, atau laporan esok hari yang belum kelar :) Nice moment banget; yang dulu berasa biasa~~ BANGET. Ternyata jadi moment yang bikin kangen. Ah! miss kampus so bad..

Labels